
Heinry meletakkan ponselnya dengan kasar.
Sialan!
Sungguh dia benar-benar kesal hingga rasanya seperti ingin menghancurkan dunia, tapi bagaimana caranya?! Ah, dari pada memikirkan bagiamana cara menghancurkan dunia sudah pasti mencari alamat wanita yang bernama Amy itu jauh lebih penting kan?
Heinry kembali meraih ponselnya, dia segera menghubungi seseorang lalu memintanya untuk mencari alamat dimana Jhon tinggal.
Eh?!
Heinry memukul kepalanya sendiri karena kesal, kenapa dia tiba-tiba saja menjadi bodoh? Kalau ingin tahu alamat Jhon kan hanya tinggal lihat saja di daftar pegawai yang ada di laptopnya. Padahal di sana ada daftar nama pegawai, beserta identitas diri secara rinci. Cih! Benar-benar memalukan sekali karena Heinry bisa sebodoh ini kan? Untung saja tidak ada orang lain yang tahu kan?
Segera Heinry meraih ponselnya, mencari identitas Jhon dan setelah menemukannya dia segera menyalin alamat Jhon. Setelah itu Heinry bangkit dari posisinya, tidak lupa membawa ponsel dan juga kunci mobil karena tidak mungkin Heinry jalan kaki.
"Nak, kenapa buru-buru sekali?" Sapa Ibunya Heinry, dia bergegas melingkarkan lengannya begitu Heinry menghentikan langkah kakinya.
''Kenalkan, ini Bibi Helien, dan putrinya, Greta."
Ibunya Heinry membawa Heinry untuk mendekat kepada sahabat juga Putrinya yang sangat cantik. Rasanya Heinry seperti ingin menepis tangan Ibunya, berlari dengan kekuatan cahaya sehingga tidak perlu membuat palsu di wajahnya.
"Salam kenal." Ucap Heinry yang tak bisa lagi mengingat kedua nama orang itu padahal belum juga setengah menit yang lalu Ibunya memberitahu.
Greta, gadis itu bangkit dari duduknya. Dia menatap Heinry lalu tersenyum manis, dan menyodorkan tangannya.
"Salam kenal, Kak Heinry? Senang akhirnya bisa bertemu."
Heinry menatap tangan itu sampai saat Ibunya mencubit lengan Heinry barulah dia menerima jabatan tangan itu, tapi dia juga langsung melepas tak butuh waktu lama apalagi untuk acara terpesona segala.
"Iya." Jawab Heinry singkat.
"Sayang, bergabung bersama kami yuk? Ibu akan memberitahumu tentang Greta yang lulus dengan nilai terbaik di universitas luar negeri, dan dia juga adalah juara piano loh...."
Heinry langsung melepaskan lengannya dari tangan Ibunya.
Tolong!
Untuk apa informasi dari gadis yang bahkan namanya saja tidak dia ingat meski dia ada di depannya? Mau juara piano, ataukah dia lulusan terbaik, bahkan gadis tebaik dan tercantik di dunia, memang apa hubungannya dengan dia? Di banding urusannya tentu saja itu tidak ada apa-apanya kan?!
"Ibu, aku sedang ada urusan penting dan harus segera pergi."
Ibunya Heinry menahan kembali lengan Heinry agar sang anak tak membuatnya malu. Bukan niatnya ingin menjodohkan Heinry dengan Greta, tapi setidaknya kalau mereka berteman bukankah itu awal yang baik?
"Ibu!"
"Jangan banyak tingkah!" Ucap Ibunya Heinry pelan tapi tatapan matanya sungguh mengancam.
"Tidak bisa! Ini masalah besar, sangat besar melebihi alam semesta!"
Eh?
Ibunya Heinry mengeryitkan dahinya bingung. Sejak kapan anaknya memiliki urusan yang begitu serius?
"Anu, sayang. Usiamu kan sudah tiga puluh satu tahun, tidak ada salahnya kok memiliki teman seorang gadis? Hanya teman kok, suer deh....." Bujuk Ibunya Heinry.
Heinry membuang nafasnya.
"Kau bahkan curiga kalau usiaku yang masih begitu muda malah sudah punya anak cukup besar!"
Hah?......
Ibunya Heinry ternganga karena kebingungan.
Tunggu dulu!
Apakah usia tiga puluh satu tahun itu hitungannya masih sangat muda?
Lalu, anak apa? Anak Heinry? Kapan Heinry melahirkan anak? Tunggu.....!
"Nyonya, anda baik-baik saja?" Tanya Nyonya Helien.
Ibunya Heinry menggelengkan kepala, tapi mulutnya benar-benar tak bisa tertutup rapat, matanya juga masih terlihat terkejut.
Dengan cepat Heinry menjalankan mobilnya, tapi tentu saja kecepatan itu masih di batas wajar mengingat pesan kedua orang tuanya yang selalu saja menitipkan pesan untuk Heinry selalu berhati-hati dan jangan lagi melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya di rumah Jhon, Heinry membuang nafasnya.
Tentu saja karena dia harus bersiap-siap sebagainya saja dia bertemu dengan anak yang mirip dengannya, dan bersiap untuk mengatakan apa yang seharusnya dia katakan.
"Wah wah wah......Ternyata sampai juga di sini ya?" Jhon tiba-tiba saja muncul seolah sudah tahu kalau Heinry akan muncul. Di tambah rumah Jhon saat itu tida sedang dalam keadaan tertutup pagarnya.
Heinry tentu saja terkejut, tapi dia juga harus menjaga sikap terkejut layaknya seorang pria yang maskulin kan?
"Dimana anak itu?" Tanya Heinry langsung karena memang dia sudah tidak sabaran sekali.
Jhon membuang nafasnya.
Sejujurnya Jhon tidak rela kalau Heinry adalah Ayah dari keponakannya mengingat betapa sialan mulut Heinry saat memaki dirinya dan Amy. Tapi ya mau bagaimana lagi? Kalau saja bukan dengan Heinry Amy membuat anak, tentu saja hasilnya akan berbeda kan?
"Keponakanku sedang bermain bersama Ibunya. Kenapa kau sangat penasaran? Kau ngefans ya dengan keponakan ku?" Ledek Jhon.
Heinry memaksakan senyumnya, sungguh itu benar-benar membuatnya kesal karena Jhon jelas sekali sedang mempermainkan dirinya bukan?
"Sepuluh juta, aku akan kirim setelah aku bertemu anak itu." Ucap Heinry.
Wah!
Sepuluh juta?! Kenapa begitu mudah menghasilkan uang di jaman sekarang? Duh! Kalau sepuluh kali bertemu Jeje berarti sepuluh juta dong? Benar-benar menggiurkan sekali!
"Tidak!"
"Apa?" Heinry menatap Jhon dengan tatapan kesal.
"Bertemu dengan keponakanku kenapa harganya begitu murah? Kau sedang merendahkan harga dirinya ya?"
Heinry membuang nafas kasarnya.
"Tentu saja tidak. Dia pasti memilki harga diri yang tinggi, hanya kau yang tidak memilki harga diri."
Ugh!
Jhon menatap Heinry dengan tatapan sebal, rasanya ingin menjitak kepala Heinry sampai berlubang!
"Dua puluh juta!"
Heinry tersenyum menahan kesal, kenapa Jhon sangat kurang ajar sekali? Dia bahkan sudah berani memerasnya secara terang-terangan.
"Baiklah." Ucap Heinry karena dia juga cukup paham kalau dia tidak memiliki ruang untuk tawar menawar.
Jhon tersenyum senang, bagus! Dia mendapat uang ekstra hanya dengan cara yang begitu mudah!
"Tetaplah disini!"
Heinry mengeryitkan dahinya karena bingung.
"Dua puluh juta yang kau dapatkan dengan mudah dariku tapi kau justru memintaku untuk tetap berdiri di sini? Kau ingin aku mati kehabisan karena darahku di hisap oleh gerombolan nyamuk sialan ini?" Protes Jhon.
"Itulah kenapa aku memintamu untuk tetap disini, temani sebentar nyamuk di halaman rumah ya? Mereka sudah kebosanan karena selama ini hanya saling bertegur sapa dengan sesama nyamuk saja."
Heinry bersiap ingin memaki Jhon, tapi karena suara yang terdengar dia tak jadi melakukan itu.
"Yang satu sedang ingin menjual ku, yang satu ingin membeli ku. Kalian pikir aku barang? Aku benar-benar tidak mengerti dengan para orang dewasa, kenapa kalian memiliki otak layaknya anak balita?"
Bersambung.