
Amy kembali ke kamar hotel setelah beberapa saat turun untuk makan, tapi niatnya untuk makan malam malah hancur gara-gara mantan kekasih kakaknya yang bernama Lorita itu.
Heinry juga kembali bersama dengan Amy, dia sengaja membungkus satu porsi spaghetti untuk Amy makan. Berjaga-jaga kalau saja nantinya, Amy akan mengamuk karena kelaparan. Yah, kalau wanita lain mungkin akan kesal atau marah, atau mungkin bisa ngerock saja. Tapi kalau Amy, yang akan dia lakukan pastilah ngereog kan?
"Aku letakkan makanannya di sini ya? Tapi, nanti kalau sudah dingin dan tidak enak di makan, telepon layanan hotel saja ya? Untuk makanan, mereka sedia dua puluh empat jam." Ucap Heinry seraya meletakkan spaghetti itu di atas meja yang ada di sofa ujung ruangan.
Amy menghela nafasnya, makan? Duh elah! Teringat apa yang dikatakan oleh Lorita tentang mantan Suaminya, dia benar-benar ingin muntah setiap mengingatnya.
"Lorita memang paling hebat dalam membuat selera makan orang buruk. Ah! Gara-gara dia, aku jadi tidak ingin makan sama sekali. Tidak tahu sampai kapan begini," Gumam Amy yang masih saja merasa kesal.
Heinry terdiam sebentar, dia pikir memang ada bagusnya Lorita mengatakan hal semacam itu. Dia jadi tahu bagaimana caranya untuk bisa membuat situasi aneh ini berpihak padanya.
"Ini kan bulan madu untuk kita, lebih baik urusan yang lainnya kita kesampingkan dulu saja ya? Ah masalah Lorita juga bukan masalah kita kan?"
Heinry mulai berjalan mendekati Amy dengan tatapan matanya yang terlihat begitu mesum membuat Amy berdecak sebal.
"Bukankah seharusnya kita tidak boleh terlalu membela Lorita? Coba pikirkan deh! Bagaimana mungkin seorang pria sampai mau menggunakan lubang belakang pria lain, sudah pasti istrinya yang tidak membuat dia merasa puas dan cukup kan? Lalu, kau bisa bayangkan bagaimana menjadi aku kan? Sejak awal, aku hanya melakukanya dengan mu. Kalau masih di tolak juga, mungkin di saat mendesak, aku juga akan melakukan hal menjijikan itu." Ucap Heinry yang sudah begitu dekat dengan Amy. Tangannya bergerak membelai rambut Amy, menatap Amy dengan dalam.
"Cara mu menatapku, kenapa ya aku merasa kau seperti ingin melakukan sesuatu yang tidak biasa?" Tanya Amy dengan mimik wajahnya yang terlihat curiga, tapi dia sama sekali tidak terlihat grogi atau malu-malu seperti kebanyakan wanita yang sedang dalam masa bulan madu.
Heinry menghela nafasnya, memang Amy wanita yang sangat berbeda. Tapi mau bagaimana lagi? seperti Itulah wanita yang dia pilih, seperti itulah wanita yang dia cintai, dan Ibu dari anaknya. Walaupun tahu untuk meluluhkan hati Amy, dalam artian mendapatkan cinta Amy itu memang sulit, Heinry juga tidak boleh patah semangat apalagi meremehkan diri sendiri. Apapun yang terjadi, dia akan tetap melangkah maju dan mencoba sebaik mungkin untuk mempertahankan rumah tangganya, juga mempertanggungjawabkan sumpah yang telah dia ambil kepada Tuhan dan bersungguh-sungguh untuk melaksanakannya.
"Amy, bukankah akan lebih baik kalau jangan sampai kau menjadi Lorita?" Heinry tersenyum kembali membuat Amy memutar bola matanya karena merasa jengah.
"Aku, tidak akan segan-segan membiarkanmu tahu tidak?! Jangankan lobang belakang pria, kau mau mengunakan lubang kuda, babi, berubah, lubang singa, harimau, beruang, lubang ikan koi, semuanya boleh!" Jawab Amy dengan nada yang meninggi, tapi tatapan matanya terlihat santai sekali.
Heinry tersenyum tipis. Mungkin, ini adalah salah satu alasan dia begitu tertarik dengan Amy.
"Amy, sepertinya aku hanya butuh satu lubang saja deh." Ucap Heinry seraya mengusap wajah Amy dengan lembut.
"Benarkah? Aku punya beberapa lubang, jadi lubang yang mana yang kau butuhkan? Aku punya kubangan lubang hidung, mulut, lubang yang lain masih boleh disebutkan?"
Heinry menahan tawanya.
Amy terdiam, sungguh dia tidak tahu bagaimana, dan harus melakukan apa. Pertama, dia belum paham benar bagaimana caranya berciuman. Kedua, Heinry terlalu tiba-tiba menciumnya, bahkan lidahnya masuk kedalam mulutnya! Ketiga, Amy tidak tahu bagaimana caranya memulai aktivitas itu karena mereka benar-benar sadar sepenuhnya.
Heinry menggerakkan bibir dan juga lidahnya, tangannya tengkuk Amy, lalu satunya meraih pinggang dan memeluk hingga tubuh mereka menempel satu dengan yang lainnya.
Heinry menjauhkan bibir mereka sebentar, dua Amy yang terdiam dan hanya matanya saja yang terus berkedip. Heinry tahu Amy pasti tidak merasakan apa yang dia rasakan, tapi dia ingin Amy bisa mengetahui bagaimana yah dirasakan oleh Heinry kala itu. Heinry meraih satu tangan Amy, membawanya untuk meletakkan di dadanya.
"Dengar, dan rasakan bagaimana detak jantungku yang begitu cepat ini. Aku tidak bisa bohong kalau aku gugup dan sok berani untuk menciummu. Jadi, bisakah kau mencoba perlahan denganku?" Tanya Heinry dengan sorot matanya yang terlihat begitu hangat saat menatap, memohon seolah juga tidak ingin memaksa sama sekali membuat Amy merasa hanyut dalam kebaikan Heinry yang tidak dia temukan dalam ingatannya tentang Heinry yang dulu.
Amy menghela nafasnya, menatap Heinry lalu tersenyum dengan tatapan yang tidak biasa membuat Heinry menelan salivanya sendiri dan membatin, apa ya yang akan di lakukan Amy? Tidak mungkin dia akan memberikan babi betina untuk Heinry pakai kan?
Amy mengubah posisinya, dia mendorong tubuh Heinry hingga terjatuh di atas tempat tidur lalu dia naik di atas kedua paha Heinry dan mengibaskan rambutnya yang terurai indah itu.
Heinry kembali menghela nafasnya.
"Heinry sayangku yang tampan, kenapa tidak bilang dari tadi kalau kau gugup? Sini, biarkan aku saja yang memilihnya! Sudah aku katakan bukan, aku lebih banyak menonton video anu dari pada kau," Ucap Amy seraya menjalankan tangannya mengusap dada Heinry dan mulai mengangkat kaos yang di gunakan Heinry. Amy menyusupkan tangannya dan mengusap dada Heinry dengan lembut.
Heinry benar-benar terkejut, tapi bukankah begitu lebih baik?
"Baiklah, jadi aku akan biarkan istriku beraksi! Mohon bantuannya, istriku!" Ucap Heinry seraya melipat kedua lengannya, dan meletakan di belakang kepalanya.
Amy bergerak di atas kedua paha Heinry, tangannya mulai membuka kaos yang di gunakan oleh Heinry. Entah apa yang di lakukan oleh Amy, sepertinya ia kebingungan membuka gesper Heinry hingga lama kelamaan dia tidak tahan sendiri.
"Ah! Apa-apaan sih?! kenapa ikat pinggangnya susah di buka?! Kenapa mood ku jadi jelek!"
Tidak, Heinry tidak bisa menunda lagi!
Bruk!
Heinry bangkit dan mengubah posisi, kini Amy sudah berada di bawah Kungkungannya.
"Heinry, kalau kau mengecewakan dan tidak memuaskan, jangan salahkan aku selingkuh!"