One Night Special

One Night Special
Unggahan Yang Mengejutkan



Setelah Jhon menceritakan segalanya tentang bagaimana dia bisa sampai di tempat Amy, dengan segera Amy merundingkannya dengan Jhon dan mencari jalan keluar harus bagaimana mereka menghadapi Heinry. Amy pikir awalnya dia akan pindah negara, atau tempat tinggal lain yang mungkin akan sulit untuk di temukan. Tapi mengingat siapa Heinry tentu saja semua itu akan percuma saja bukan?


"Baiklah, memangnya aku takut dengan Heinry? Walaupun memang aku pengecut, mana mungkin aku harus mengakuinya? Miskin boleh, tapi di pandang miskin tentu saja tidak boleh!" Amy menggigit bibir bawanya, menyipitkan mata dengan tatapan yang menunjukkan bahwa dia benar-benar berani. Bagaimanapun Heinry itu kan sedang hilang ingatan, toh bocah mirip dengannya memang berati anaknya? Heh! Tidak akan dia biarkan Heinry bisa dengan mudah merebut putrinya, toh dia juga memegang surat perjanjian yang pernah mereka sepakati dulu.


"Jadi, kau benar-benar akan kembali bersamaku kan?" Tanya Jhon ingin memastikan lebih jelas lagi.


Amy menaikkan sisi bibirnya, menatap Jhon dengan tatapan yang menunjukkan bahwa dia sebal mendengar pertanyaan dari Jhon.


"Aku sangat malas, tapi aku juga tidak memiliki pilihan yah lebih baik."


Jhon memaksakan senyumnya, yah memang sudah pasti begitulah jawaban Amy. Sejak dulu Amy sama sekali tak pernah akur, bahkan bertegur sapa dengan saudari saudara tiri juga tidak. Amy cenderung acuh dan tidak ingin ikut campur, selama bisa menjauh sejauh mungkin, maka Amy akan melakukannya.


Malam Harinya.


Edith masuk ke dalam rumah setelah seharian bekerja, dan akhirnya dia bisa bertemu dengan keponakan cantiknya yang kini sedang berbaring menonton video melalui ponsel.


"Aduh, duh....! Selamat malam keponakan Bibi Edith yang paling cantik? Sini, sini! Biarkan Bibi memberikan kecupan sayang!" Ucap Edith segera berjalan mendekat membuat Jeje benar-benar ngeri sekali melihat bibir Edith yang sudah monyong ingin menempelkan bibir yang bentuknya seperti pantat ayam ke wajahnya. Segera Jeje meletakkan ponselnya, meraih sebuah bantal yang sejak tadi dia gunakan untuk menyangga ponsel dan menutup wajahnya menggunakan bantal itu.


"Hei, kau ini kenapa menutup wajah mu?! Kau tidak tahu ya? Di luar sana ada banyak jantan kekar yang menginginkan ciuman Bibi mu ini!" Protes Edith yang merasa sebal karena gagal mencium Jeje padahal dia benar-benar rindu sekali dengan bocah kecil yang cantik itu.


"Kalau begitu, cobalah untuk mencium jantan yang tidak kekar saja." Ujar Jeje, menurunkan sedikit bantalnya hingga matanya sedikit terlihat dan mengatakan jari telunjuknya ke belakang tubuh Edith di mana Jhon kini berdiri dengan tatapan aneh melihat Edith yang begitu aneh.


Eh?


Setelah Edith merapihkan diri, akhirnya Amy mengatakan kepada Edith bahwa dia perlu kembali ke negaranya karena dua alasan yaitu, tentang neneknya yang menginginkan kedatangan Amy, lalu juga dia ingin menghadapi Heinry dengan lebih berani, tidak usah kabur-kaburan sehingga Heinry tidak akan penasaran atau pun merasa terbebani sekaligus Amy juga ingin menunjukkan bahwa Amy tidak akan takut apapun ancaman yang di berikan Heinry maupun keluarganya nanti.


Edith menghela nafasnya, dia tahu bahwa suatu hari ini pasti akan terjadi. Meskipun berat harus berpisah dengan Amy dan Jeje, tapi ini adalah yang terbaik untuk mereka. Entah mengapa Edith memiliki keyakinan sendiri bahwa pada akhirnya baik Amy maupun Heinry akan memiliki perubahan hati, dan pada akhirnya mendapatkan kesempatan untuk memiliki keberanian untuk sebuah hubungan.


Dua hari kemudian.


Kedatangan Amy disambut hangat oleh sang nenek yang sudah lama sekali tidak bertemu dengan Amy. Dia memeluk Amy erat-erat, menangis bahagia karena setidaknya dia bisa melihat Amy dan cicitnya yang amanat cantik itu. Sebagai seorang Nenek dia benar-benar tidak begitu menekan Amy dan menanyakan anak siapa Jeje, karena bagi orang yang sudah lama mengetahui bagaimana menderitanya Amy, dia merasa tidak perlu untuknya mengorek tentang Amy dan menyudutkan Amy. Dia hanya akan bahagia melihat Amy yang juga begitu bahagia memiliki seorang anak perempuan yang sangat cantik, meski jarang tersenyum dan tidak bisa menggunakan bahasa keseharian negara itu dengan lancar.


"Baiklah, karena nenek sudah bertemu dengan Amy dan cicit yang cantik ini, kita ambil photo yuk?" Jhon mengarahkan ponselnya, menggunakan tongkat selfie agar bisa mengambil gambar mereka sebatas menyeluruh.


Amy, Jeje, nenek dan Jhon kini tersenyum dalam satu frame.


"Ibu, tenggorokan paman pasti banyak sarang lebah madunya ya?" Tanya Jeje kepada Ibunya tapi kedua bola matanya menatap Jhon dengan tatapan heran. Amy menaikkan satu sisi bibirnya sebal sendiri melihat tingkah kakaknya yang sangat berlebihan.


Di sisi lain.


Heinry menghela nafas, sungguh dia benar-benar lelah sekali meskipun semua pekerjaannya di bantu oleh Ayahnya juga oleh sekretaris Ayahnya. Selama empat hari ini dia benar-benar tidak bisa tenang memikirkan tentang anak yang mirip sekali dengannya, di tambah dia juga kesal dengan Jhon yang ingkar janji dan sudah empat hati tidak bekerja padahal izin cutinya cuma tiga hari kan?


Heinry menjauhkan laptopnya, lalu sebentar menyenderkan punggungnya di senderan kursi. Setelah itu dia meraih ponselnya, lebih baik sebentar melihat media sosial untuk menghilangkan suntuk dan perasaan lelah yang dia rasakan.


Deg!


Heinry membulatkan matanya melihat unggahan Jhon yang kini di serbu tanda hati, dan banyak komentar memuji anak kecil yang mirip sekali dengannya di photo itu. Segera Heinry membuka kolom komentar yang sebagian mengatakan jika anak kecil yang cantik itu mirip sekali dengan seseorang, familiar sekali wajahnya. Ada juga yang mengomentari photo Amy dan mengatakan jika dulu Amy adalah pengejar Heinry yang paling brutal. Sejak terseretnya nama Heinry, beberapa orang mulai mencurigai jika anak kecil itu adalah anaknya Heinry karena setelah mereka perhatikan kembali wajahnya memang mirip dengan Hari.


Heinry segera menutup media sosialnya, lalu menghubungi Jhon setelah itu.


"Katakan, di mana alamat rumah mu?!"


Di sisi lain.


Jhon berdecih kesal begitu mendengar suara Heinry dari sambungan telepon.


"Hei, bung! Kau sedang menagih hutang apa sedang bertanya? Kalau kau bertanya lebih baik gunakan nada bicara dan kalimat yang benar."


Tak ada suara untuk beberapa detik.


"Baiklah, di mana alamat rumah mu? "


Jhon menahan tawanya karena ini kali pertama Heinry berbicara dengan nada yang sopan.


"Dimana? Tentu saja di mana-mana hati senang." Setelah itu Jhon memutuskan sambungan teleponnya.


Bersambung.