
"Jangan seperti ini, oke? Aku ingin kau dan aku sama-sama mengambil tindakan karena kita menikmatinya. Aku tahu, kau tidak ingin kalah dariku, kau tidak ingin terlihat lemah entah dari sudut apapun bukan? Aku bukanlah lawan untuk berunjuk kebolehan, aku seseorang yang akan melakukan segala hal bersama denganmu, sebagai pasangan bukan yang lainnya," Ucap Heinry seraya menatap Amy dengan tatapan matanya yang terlihat begitu bersungguh-sungguh.
Amy menelan salivanya sendiri, dia benar-benar di buat tak bisa berkata-kata karena ucapan Heinry barusan begitu mengenai hatinya.
Heinry menangkup wajah Amy, kembali menatapnya lebih dalam dan menatapnya dengan lebih serius.
"Amy, suka atau tidak kenyataannya aku adalah suamimu. Kalau kau memang ingin bersaing denganku tentu saja boleh, tapi jangan fokus dengan itu karena kau juga pantas mendapatkan hal mu."
Amy semakin tak bisa mengatakan apapun, kenapa sebenarnya Heinry begtu baik padanya? Bukankah akan lebih baik kalau Heinry cuek seperti sebelumnya? Heinry yang seperti sekarang benar-benar membuat Amy luruh tak bisa berkata-kata dengan berani seperi sebelumnya.
Sorot matanya yang teduh, lembut dan terlihat yakin serta bersungguh-sungguh, bagaimana bisa Amy mengenalnya? Heinry, apakah pria itu benar-benar bisa dia miliki sepenuhnya hanya untuk dirinya sendiri?
Dibanding memikirkan itu, sebenarnya dia sudah harus mulai membuka hati dan perlahan merasakan bagaimana Heinry yang sebenarnya dan tidak lagi kesulitan dalam mengenali dan mengetahui apa yang dia inginkan.
"Lihat aku, rasakan dengan benar apakah aku pantas untuk kau percaya atau tidak. Lakukan saja sesuai dengan apa yang hatimu inginkan, dan jangan menuruti egomu, oke?"
Amy masih tidak ingin bicara.
Heinry mendekat wajahnya, mencium bibir Amy dengan lembut membuat Amy lama kelamaan mulai memejamkan mata karena dia sendiri tidak tahu haus bagaimana. Heinry memanggutnya, mengusap tengkuk Amy dengan lembut dan menurunkan tangannya perlahan untuk mengusap punggung Amy. Ciuman itu begitu lembut, hangat, dan terasa manis di dalam hati. Baik Amy maupun Heinry, keduanya benar-benar mulai menikmati benar apa yang sedang mereka lakukan.
Amy, dia tidak memiliki niatan untuk lebih unggul dalam hal ini. Dia seolah patuh dan berada di titik yang sama seperti Heinry dan menikmati tanpa perduli apapun.
Heinry, pria romantis karena tutorial Ayahnya itu benar-benar sukses membawa Amy kedalam permainannya. Dia sendiri juga lupa, dia tidak ingat semua yang diajarkan Ayahnya dan mulai mengikuti instingnya saja.
Amy mengigit bibir bawahnya begtu Heinry mengedarkan ciumannya ke area lain. Tangan Heinry juga sudah mulai nakal tidak perduli apapun lagi.
Malam itu, adalah malam gimana Amy kehilangan rasa gengsi, ego, dan juga kehilangan tembok yang tetap masih ada di hatinya. Dia tidak mengingat bahwa dia masih harus tetap menjaga diri agar tidak menjadi wanita yang ditinggalkan dan selalu siap sedia. Amy, dia hanya mengingat bahwa, dia menginginkan Heinry, mempercayai Heinry seolah dia bisa mengetahui apa yang akan terjadi.
Heinry juga sama, dia tidak membutuhkan tutorial dari Ayahnya lagi dan dia sudah berhasil melangkah hingga sejauh ini. Heinry pikir, rumah tangganya Bakan sulit karena istrinya adalah seorang Amy, tapi hari ini dia benar-benar sadar bahwa, dia sangat beruntung memiliki istri seperti Amy yang jelas tidak akan memiliki minat untuk berselingkuh dan harus mendengar orang lain berkata, buah jatuh tidak dari pohonnya.
Beberapa saat kemudian.
Heinry tersenyum sembari memeluk Amy sedikit erat.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" Tanya Heinry.
Amy menghela nafasnya, haruskah dia menanyakan yang sebenarnya? Haruskah dia mengatakan kepada Heinry bahwa, dia sudah tidak merasa terbebani, ada bagian dari dalam dirinya yang sepeti merasakan kelegaan hingga tubuhnya justru terasa lebih baik padahal seharusnya dia merasa amat lelah kan?
Heinry mengecup kepala Amy, lalu mengeratkan kembali pelukannya.
"Yah, hatimu yang sekeras batu dan karena kau tidak berperasaan, makanya aku akan sabar saja menunggunya. Ingat ya, selama sudah menjadi istrinya Heinry tentu hanya akan jadi istrinya Heinry jadi, jangan berpikir macam-macam apalagi dengan pria lain!" Ucap Heinry.
"Ngomong-ngomong, bagaimana kau menjalani kehamilan mu? Selama ini aku sibuk mencari cara supaya kita bisa menikah sampai lupa kalau kau juga menghabiskan sembilan bulan untuk mengandung Jeje, juga melahirkannya yang katanya sangat sakit kan?" Tanya Heinry.
Amy menghela nafasnya sebelum mulai berbicaralah.
"Awalnya kehamilan biasa saja, aku tergolong sehat dan tida cengeng untuk seorang wanita yang hamil tanpa suami, aku benar-benar tidak terlihat sedih sama sekali. Tapi, baru tujuh bulan lebih beberapa hari aku tiba-tiba sakit perut patah, aku mulas dan kontraksi. Setelah beberapa drama yang tejadi, akhirnya aku di bawa kerumah sakit dan melahirkan dini. Saat lahir, Jeje sangatlah kecil. Beratnya hanya seribu seratus gram." Suara Amy sudah mulai bergetar membuat Heinry langsung menggenggam tangan Amy.
"Tidak usah, jika sulit untuk menceritakan maka jangan ceritakan lagi," Pinta Heinry yang jelas merasa tak tega. Membayangkan anaknya lahir hanya seberat seribu gram saja tubuhnya gemetar, bagaimana dengan Amy waktu itu?
"Tidak apa-apa, aku hanya cerita saja kan? Toh, Jeje sekarang sehat dan tumbuh dengan baik serta pintar juga kan?"
Heinry mengangguk setuju.
"Apa temanmu yang membawamu kerumah sakit?" Tanya Heinry yang tidak ingin mendebagr soal Jeje yang menderita, tapi ternyata pertanyaannya itu membuat Heinry harus mendengarkan dan mengetahui sebuah kebenaran yang menegangkan.
"Tidak, aku menghubungimu, menghubungi Edith juga. Tetapi, kalian tidak bisa di hubungi saat itu. Aku menghubungi ambulans, dan setelah beberapa saat ambulans datang dan mengangkat ku. Saat itu, perutku sangat sakit dan keras sampai aku tidak bisa bangkit untuk berjalan."
Heinry mengeraskan rahangnya, dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya perlahan sebelum dia mengatakan apa yang ingin dia katakan.
"Apa kau tahu, tanggal lahir Aku bertepatan dengan hari dimana aku kecelakaan dan koma untuk beberapa waktu."
Amy tersentak, dia membalikkan badannya dan kini mereka berdua berada saling berhadapan, menatap satu sama lain.
"Benarkah?" Tanya Amy.
Heinry sedikit tersenyum lalu mengangguk.
Amy menyusup masuk kedalam pelukan Heinry dan menangis tanpa suara. Ternyata, disaat yang bersamaan mereka sedang sama-sama berjuang dengan mempertaruhkan nyawa mereka.
"Hei, kau sedang kasihan padaku? Sekarang, aku kan baik-baik saja!" Ucap Heinry yang tahu benar kalau Amy pasti sedang menangis.
"Bukan begitu!" Bantah Any seraya menjauhkan tubuhnya.
"Lalu?"
"Aku kesal sekali, seharusnya kau tinggalkan banyak uang padaku waktu itu! Gara-gara kau, uangku juga hampir habis untuk biaya rumah sakit! seharusnya, kalau ada rencana kecelakaan, kau harus memberitahukan padaku dulu!"
Eh?