
Amy mencengkram pinggiran sofa dan merutuk Ibunya di dalam hati.
"Anda membawa satu anak anda dari pernikahan kedua, lalu mengurus anak dari suami anda dengan mantan istrinya? Anda, benar-benar sanita yang luar biasa ya Ibu mertua? Padahal anda sudah gagal dua kali dalam pernikahan, tapi pada akhirnya anda kembali memilih suami asal-asalan." Ucap Heinry yang sudah tidak tahan lagi melihat wajah palsu Ibunya Amy. Padahal dia masih ingin menahannya, tapi mulutnya terlalu gatal sehingga keluarlah kalimat yang menyakiti itu.
Ibunya Amy tersenyum pilu, dia membuah nafas dengan ekspresi wajahnya yang begitu hebat dalam menunjukan kepedihan.
"Benar, aku memang begitu mudah dibutakan oleh cinta. Aku sudah lama ingin mendatangi Amy dan mencoba untuk kembali dekat, tapi selalu gagal karena perasaan bersalah yang luar biasa dihatiku,"
Amy membuang nafas kasarnya lalu berkata,"Sudah cukup, Ibu. Ibu bukan aktris jadi berhentilah berakting karena itu menggelikan!"
Ibunya Amy menatap Amy dengan tatapan yang terlihat sedikit kesal untuk beberapa detik, lalu segera dia memperbaiki ekspresi wajahnya karena tidak ingin Heinry melihatnya dan membuat Heinry berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya. Dia juga mencoba untuk tersenyum meski hatinya cukup kesal, dan membuang nafas seolah dia begitu tidak berdaya.
"Kau masih membenci Ibu rupanya," Ujar Ibunya Amy yang lagi-lagi memamerkan wajah sedihnya.
Amy terdiam menahan kesal yang sebenarnya sudah menggunung di hatinya. Padahal dia sudah tahu kalau Ibunya memang pandai berpura-pura tapi, entah kenapa kepura-puraannya membuat Amy benar-benar kesal sekali. Sesungguhnya, dia malu sekali karena Heinry jadi bisa melihat secara langsung bagaimana sikap Ibu kandung yang telah melahirkan nya. Sungguh memalukan bukan?
Hah.......
Amy mengeratkan kepalan tangannya, bagaimana dia bisa mengakui seorang Ibu yang bahkan tak menganggapnya anak sekalipun? Bagaimana bisa begini, bagaimana bisa dia dilahirkan oleh wanita yang bahkan tidak ingat bagaimana saat dia mengandung dan melahirkannya? Kalau saja, dia boleh meminta kepada Tuhan untuk tidak lahir dari wanita itu, dia pasti akan sangat bahagia sekali bukan?
Heinry melirik, memerhatikan benar bagaimana ekspresi Amy yang terlihat tengah kesal sampai tidak bisa berkata-kata. Ini adalah level kesal paling tinggi kemarahan dari seorang Amy yang biasanya begitu aktif memperlihatkan emosinya.
"Pergilah, pergi dan jangan pernah datang lagi kesini. Aku, sudah lupa seperti wajah Ibu hingga aku lupa seperi apa wajah Ibu. Tolong, jangan pernah datang padaku seperti yang Ibu lakukan padaku selama ini. Aku sudah sedikit memiliki keberanian untuk menikah, jadi tolong jangan membuatku takut dengan kedatangan Ibu."
Ibunya Amy terdiam sebentar, tentu saja dia ingat benar bahwa selama ini dia juga tidak pernah memiliki niatan untuk mengurus Amy, dan menemani Amy. Tapi, bukan berarti dia tidak ingat bahwa Amy adalah Anak yang telah dia lahirkan dengan susah payah. Keadaan yang dia alami selama ini juga bisa di bilang tidak cukup baik, suaminya memiliki anak dengan mantan istri yang juga tinggal disana. Anak-anak itu begitu tidak menyukai dirinya dengan alasan, Ibunya Amy adalah orag yang telah membuat orang tuanya bercerai. Jadi bagaimana mungkin dia membawa Amy tinggal di rumah yang tidak akan ada rasa damai? Seiring berjalannya waktu, dia mulai terbiasa untuk mengahadapi anak tirinya, dan terbiasa dengan tidak terlalu memikirkan Amy karena menganggap Amy tidak akan kesulitan dan kekurangan apapun selama tinggal bersama neneknya.
"Amy, sebenarnya," Ucapan Ibunya Amy tak bisa dia lanjutkan saat mata Amy tertuju padanya dengan begitu tajam.
"Aku tidak ingin mengatakan yang lebih lagi, kesabaran ku juga sudah habis jadi, katakan saja apa yang Ibu inginkan dan bagaimana caranya supaya Ibu tidak muncul lagi disini?" Tanya Amy dengan sorot matanya yang terlihat begitu dingin.
Ibunya Amy mengepalkan tangannya. Sebenarnya, dia memang memiliki tujuan datang menemui Amy. Dia ingin meminta bantuan mengenai keuangan tapi, melihat respon Amy yang begitu menolak dan dingin, dia jadi berpikir bahwa sebenarnya akan lebih baik kalau dia tidak mengatakan yang sebenarnya meski sebenarnya dia sangat membutuhkan uang sekarang. Ah, tidak! Dia tidak bisa mundur, dia harus tetap mengatakan itu karena, keadaannya sudah sangat mepet dan mendesak sekali.
"Benar! Ibu datang dengan satu maksud. Sebenarnya, Ibu memang ingin datang menemuimu tidak perduli kau tinggal di mana, sudah menikah atau belum. Ibu ingin meminta bantuan darimu, Ibu butuh uang untuk modal usaha dan untuk berobat adikmu."
"Aku benar-benar tidak percaya akan mendengar ini secara langsung meski aku membantingnya." Amy tersenyum pilu dan melanjutkan ucapannya,"Aku tidak memiliki uang yang banyak di luar uang yang aku siapkan untuk kebutuhan pendidikan putriku. Jadi, aku hanya bisa memberikan uang itu padamu."
"Pakai saja punyaku," Ucap Heinry seraya menyerahkan ponselnya di saat Amy juga mulai mengeluarkan ponselnya.
Amy menatap Heinry dan berkata,"Tidak, aku tidak ingin menggunakan siang siapapun. Uang yang aku tabung untuk kebutuhan diluar pendidikan Jeje anggap saja sebagai rasa terimakasih dariku karena sudah dilahirkan di dunia ini."
Amy menekan beberapa tombol sebelum dia membuka layar ponselnya untuk mengirimkan uang.
"Berapa nomor rekeningnya?" Tanya Amy tanpa sekalipun mau menatap wajah Ibunya.
Ibunya Amy dengan cepat menyembutkan angka dari nomor bank miliknya, dan tak lama Amy langsung menunjukan bukti transfer uang yang jumlahnya cukup banyak. Seratus juta lebih, tentu saja kedua bola mata Ibunya Amy benar-benar membulat penuh kebahagiaan.
"Terimakasih banyak, Amy. Ibu akan menggunakan uang itu sebaik mungkin. Setelah pulang dari sini, Ibu juga akan language membawa adikmu untuk pergi ke rumah sakit."
Amy tidak mengatakan apapun, tapi sebenarnya di dalam hati, Amy sedang menangis sedih. Kenapa dia tidak pernah di perjuangan Seperti anak Ibunya yang lain? Kenapa hingga kini dia masih tidak bisa lupa bagaimana Ibunya yang selalu memiliki sejuta alasan kalau untuk mengurus Amy?
Setelah mendapat uang itu, Ibunya Amy bergegas untuk pergi dari rumah itu. Namun, dia masih akan kembali jika uang yang di berikan Amy masihlah dirasa kurang nanti.
Heinry menghela nafasnya.
"Sepertinya, kita harus berangkat bulan madu lebih cepat deh." Ujar Heinry yang sukses membuat mata Amy melotot kesal.
"Apa yang ada di kepalamu sekarang cuma ada bulan madu? Kau tidak lihat aku sedang sedih, hah?" Tanya Amy.
"Tidak tuh, kenapa kesal? Kehilangan uang seratus juta? Apa karena semalam kita gagal berkembang biak?"
Amy berdecih kesal, ternyata beginilah cara Heinry menghiburnya.
"Baiklah, coba aku lihat punyamu! Biar aku ikut apakah panjangnya sudah bertambah atau belum!" Ucap Amy seraya bangkit dari posisinya.