
Ah, Tuhan, tolong!
Seperti itulah setiap hari hati Heinry bergerundel di dalam hati. Sungguh, dia ingin melepaskan diri dari istrinya yang sangat aneh itu!
Sudah sejak pagi, istrinya membututi kemanapun Heinry pergi. Mandi, memakai pakaian, sarapan, mengendarai mobil, bekerja di kantor, makan siang, bekerja lagi, ketoilet, dan untungnya toilet itu berada di ruangan kerja Heinry tidak perlu istrinya ikut ke toilet umum khusus pria. Bisa bayangkan kalau sampai benar itu terjadi? Bisa-bisa, kuman yang adalah makhluk tidak berperasaan akan mati karena lelah menertawakan Heinry!
"Heinry, kenapa kemocengmu bisa mengerut menjadi kecil saat tidak bereaksi ya? Sebenarnya, aku sudah penasaran sejak lama loh, tapi baru teringat saat melihat kau buang air kecil barusan." Tanya Amy dengan mimik wajahnya yang begitu santai seolah pertanyaannya tak memiliki arti apapun dan Heinry tak akan merasakan apapun.
Hah!
Heinry mencoba membuang nafas sebelum dia mulai menjawab. Dia juga mencoba sebaik mungkin untuk tersenyum karena tak ingin membuat istrinya mengamuk seperti hari kemarin.
"Karena, kalau punyaku berdiri terus, artinya aku membutuhkan lubang wanita setiap saat. Kau tidak mau aku seperti itu kan?" Jawab Heinry lalu kembali tersenyum sembari membatin di dalam hati, semoga saja jawabannya tidak membuat istrinya kesal.
Amy berdecih meremehkan ucapan Heinry barusan lalu berkata,"Lubang wanita apaan? Yang ada, punyamu tidak bisa berdiri kalau dengan wanita lain. Yah, kalaupun bisa, besok harinya pasti punyamu itu sudah tidak akan bisa hidup untuk selamanya," Ucap Amy dengan santai.
Ugh! Sialan!
"Begitu ya sayang?''
Ah, memang aku tidak pernah benar jadi lebih baik aku tidak usah banyak bicara saja! Batin Heinry kesal.
"Ngomong-ngomong, besok aku mau ke salon untuk pijat dan lainnya, kau harus menemaniku di sana sampai dengan selesai ya?" Pinta Amy.
Heinry kembali memaksakan senyumnya meski di dalam hati dia tengah bergerundel kesal. dia sungguh tidak ingin menemani istrinya berada di dalam salon, karena itu pasti akan sangat membosankan. Ah, dia menemukan satu ide!
Heinry menatap istrinya dengan tatapan tak enak hati lalu berkata,"Sayang, kau tahu benar kan kalau di salon itu pasti banyak wanita? Apa kau tidak masalah jika aku ikut masuk ke dalam dan melihat wanita lain menggunakan penutup minimalis? Bagaimanapun, aku ini kan tipe pria yang sangat setia. Jangan sampai kedua bola mataku ini bisa melihat keindahan tubuh wani,"
Belum sempat selesai Heinry mengatakan apa yang ingin dia katakan, Amy sudah menyeletuk tak enak seperti ini,"Tidak masalah, kau mau melihat lubang wanita lain juga tidak akan memiliki niat seperti itu kan? Kau bisa santai dan menikmati apa yang kau lihat, aku mengizinkannya kok!"
Hah?
Heinry benar-benar terdiam tak tahu harus mengatakan apa lagi. Sungguh, hanya Tuhan yang tahu betapa dia ingin segera masa ngidam itu berakhir dan Heinry berjanji demi langit dan bumi, serta alam semesta, bahwa dia tidak akan mau memiliki anak lagi! Ah, kalau anak adalah beban bagi generasi jaman sekarang, maka bagi Heinry adalah, ngidam adalah beban hidup yang sesungguhnya!
"Oh iya, sekalian aku mau beli lip balm dan juga vitamin untuk alis dan bulu mataku. Nanti, temani aku dan bantu aku untuk kau coba lebih dulu ya?"
Hah? Apa lagi ini? Maksudnya, dia akan di jadikan model lip balm dan juga vitamin bulu buluan? Tuhan, semoga dia benar-benar mendengarkan betapa menderitanya Heinry saat ini, dan semoga saja Tuhan menyudahi masa ngidam yang sangat aneh itu.
Di ruangan lain.
"Upsss, kakiku licin!" Ucap Lorita lalu menatap Jhon dan tersenyum seolah tak terjadi apapun.
Jhon membuang nafas kasarnya, berbalik menatap Lorita dengan tatapan kesal lalu berkata,"Cepat bangun dari pangkuanku! Aku bukan ibumu yang harus memangkumu, jalanlah yang benar dan jangan menggunakan heels yang setinggi egrang!" Ucap Jhon berteriak kesal kepada Lorita yang Sejak pagi begitu banyak tingkah.
Entahlah, Yang pastinya Jhon tahu benar bahwa baru saja Lorita pasti berpura-pura terjatuh! Masa iya, setiap kali lewat di dekatnya selalu membuat ulah?
Lorita tersenyum manis, dia mencoba untuk bangkit tapi sialnya, Lorita sempat menekan sebentar bokongnya membuat milik Jhon di bawah sana merasakan sesuatu sehingga mulai bereaksi.
"Dasar tukang kacau! Bangkit saja kenapa banyak gaya?!" protes Jhon yang tidak sabaran sehingga dia mendorong tubuh Lorita untuk segera bangkit dan jangan berlama-lama di dekatnya.
Begitu Lorita sudah berada dalam posisi berdiri, Jhon kembali menatap Lorita dengan tatapan kesal lalu berkata,"Sebentar-sebentar terpeleset, kehilangan keseimbangan lah, kakinya licin, kakinya lemas, kakinya pegal, Kenapa punya kaki jika kakimu begitu menyulitkan?! Sumbangkan saja kakimu kepada ayam yang hanya memiliki dua kaki sebagai pengganti tangan juga!"
Lolita menghela nafasnya, menatap Jhon sembari mencemburkan bibirnya lalu berkata,"Kenapa kau galak sekali? Setiap kali berbicara denganku Kau seperti sangat membenciku, ingat! jangan terlalu membenciku soalnya, benci dan Cinta itu beda-beda tipis, kan lebih tipis dibanding tisu toilet."
Jhon menatap Lorita dengan bibirnya yang seperti bergetar menahan kekesalan yang sangat besar lalu kembali berkata,"Matamu sebelah mana yang menilai kebencian bisa berubah menjadi cinta? Jangan bilang, kau menggunakan mata kaki untuk melihatnya dan menilai?"
Lorita terkekeh menatap Jhon yang entah kenapa semakin banyak berbicara seperti itu, Jhon terlihat sangat manis dan juga imut.
Jhon terperangah tak percaya melihat Lorita yang justru tertawa tidak jelas seperti kuntilanak yang baru saja memenangkan togel.
"Lorita?" Panggil Jhon.
"Iya sayang?" Jawab Lorita lalu kembali tersenyum manis.
"Tolong, Pergilah ke rumah sakit jiwa dan periksakan kesehatan mentalmu." Ucap Jhon dengan mimik wajahnya yang terlihat memelas tapi juga terkesan menghina.
Lorita sama sekali tak terlihat tersinggung, dia justru terus-terusan tersenyum lalu berkata,"Tidak ada dokter yang bisa menyehatkan mental orang yang sedang jatuh cinta."
Jhon membuang nafas kasarnya, lalu memukul dadanya pelan beberapa kali sembari mencoba untuk menenangkan diri. Entah kenapa, berbicara dengan Lorita rasanya dia seperti ingin meremas mulut Lorita, menendang bokongnya sampai ke planet Pluto. Ah, atau akan lebih baik menendangnya sampai ke matahari supaya dia habis terbakar dan tidak ada lagi yang namanya Lorita, si monyet betina menyebalkan!
"Lorita, saat ini aku benar-benar sedang ingin bekerja dengan serius. Tolong, Tolong sekali tinggalkan ruangan ini dan jangan pernah datang lagi sampai pekerjaanku selesai. Bila perlu, Jangan datang lagi ke sini selamanya!"
Lorita berdeci lalu kembali menatap Jhon dan berkata,"Mana boleh aku melakukan semua itu? Nanti, kalau kau mati karena sangat merindukanku, aku juga akan menjalani hidup dengan penuh penyesalan loh,"
Jhon sudah tidak tahan lagi, dia menggedor meja sembari menatap Lorita dan berkata,"Enyahlah, dan jangan kembali ke sini sampai pekerjaanku selesai! Atau kalau tidak, Aku akan melakukan segala cara supaya bisa mengirimmu ke hutan Amazon, dan membiarkanmu menjadi pawang ikan piranha!"