
Amy membuang nafas kesalnya setelah dia sampai di rumah, dan kini dia tengah berada didalam posisi duduk.
Sial!
Sahabat Jhon itu benar-benar sangat menyebalkan, tingkat narsis yang dia miliki bahkan bisa mengalahkan tingginya gunung Himalaya. Untung saja dia bisa menggunakan nama Heinry tadi, kalau tidak sepertinya dia akan benar-benar tertindas dengan ungkapan menyebalkan dari mulut pria itu.
"Target pertama, Vailed!" Gumam Amy lalu menjatuhkan tubuhnya di senderan sofa ruang tamu. Wajahnya menatap langit-langit kosong membuat Amy jadi leluasa memikirkan apa yang sedang dia pikirkan.
Pertama-tama Jeje sudah mulai akan dekat dengan Ayahnya juga dengan keluarganya, waktu untuk bersama Jeje pasti juga akan berkurang kan?
Hah........
"Kalau tidak ingat bagaimana sakitnya melahirkan, bagaimana sulitnya mengurus bayi, dan betapa besarnya biaya merawat anak hingga dewasa nanti, ingin sekali aku melahirkan setiap tahunnya." Amy berandai-andai saja, tapi kenyataan yang sudah dia alami membatunya sadar benar memilki anak adalah sebuah tantangan yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Tanggung jawab atas anak harus hingga dia mati nanti. Ditambah lagi Amy tidak ingin membagi cintanya dengan anaknya yang baru nanti karena tahu benar bagaimana Jeje berjuang bersama dengannya tanpa adanya sanak keluarga dan juga Ayah. Sekarang sudah waktunya Jeje mendapatkan itu semua.
Suara ketukan pintu, tentu saja itu adalah Jhon yang baru saja kembali dari mengantarkan neneknya untuk terapi.
"Nek, baru pulang?" Sapa Amy lalu membantu Neneknya berjalan masuk kedalam kamar.
"Apa yang sedang kau pikirkan dengan ekspresi seperti itu, nak?" Tanya Nenek begitu dia mulai berbaring di tempat tidur, menatap Amy dan tersenyum padanya.
Amy membalas senyum itu, menggeleng agar neneknya tidak memikirkan apa yang sedang dia pikirkan toh tidak terlalu penting juga.
"Tidak ada, nenek. Cuma partner kencan buta malam ini seperti kecebong sawah, dia sungguh bukan tipe ku!" Ucap Amy dengan ekspresi yang terlihat begitu kesal sehingga Nenek terkekeh sendiri.
Nenek meraih tangan Amy dan menggenggamnya dengan hangat.
"Amy, tolong jangan terganggu dengan semua itu. Kebahagiaan bisa dari mana saja kan? Jika kau memang ingin menjalin hubungan dengan seorang pria maka perlahan saja agar kau tidak bertemu dengan pria seperti Ayahmu. Nenek akan selalu mendoakan yang tebaik untuk cucu perempuan nenek yang paling nenek sayangi ini."
Amy tersenyum, sungguh sorot mata yang teduh dan hangat itu membuat Amy merasa dunianya tak seburuk yang dia kira. Amy memeluk neneknya, mencium pipi neneknya dan berbakat, "Nek, aku sudah cukup bahagia dengan hidupku, hanya ingin sedikit bermain saja kok."
Nenek mengangguk saja.
Apapun yang ingin dilakukan Amy, adakan tidak merugikan orang lain dan akan membuat Amy dalam masalah maka dia hanya akan mendukung saja. Kepahitan yang dialami Amy sudah cukup banyak, jadi dia ingin melihat Amy yang bahagia sebelum waktunya untuk pergi tiba.
Entah akan bahagia dengan memiliki pasangan atau bahagia hanya hidup bersama dengan anaknya saja, tentu semua itu tidak akan ada bedanya.
Di sisi lain.
Heinry tersenyum menatap Jeje yang kini sudah tertidur lelap di tempat tidurnya. Tangannya bergerak pelan dan lembut mengusap kepala Jeje, membelai rambutnya.
Sungguh Heinry tidak tahu kalau memiliki anak akan sangat menyenangkan seperti itu. Dia tidak bisa tidur dan hanya terus menatap Jeje saja sembari membatin, apakah jika memiliki istri juga rasanya akan lebih bahagia dari pada kebahagiaan yang bahkan sudah dirasa luar biasa karena adanya Jeje?
Ngomong-ngomong kalau aku menikah dengan Amy bagaimana jadinya?, Batin Heinry di dalam hati.
Tiba-tiba saja di ingat benar kalau malam ini pasti Amy sudah bertemu dengan partner kencan butanya, jadi apakah dia bahagia dan cocok dengan partner kencan butanya? Bagaimana ya kalau ternyata mereka memiliki niatan untuk menikah?
"Ah, babi buntung!" Gerutu Heinry dengan suara pelan.
Kalau Amy menikah, artinya akan ada pria lain yang dipanggil Ayah oleh Jeje kan?
Tidak! Sungguh dia tidak mau!
Memikirkan itu semua, Heinry benar-benar jadi tidak bisa tidur, membolak-balikkan tubuhnya kesana kemari.
Tidak ingin membuat Jeje merasa terganggu, Heinry memutuskan untuk keluar saja dulu dari kamarnya dan menuju ke ruang tengah sampai sekiranya dia merasa mengantuk baru akan kembali ke kamar.
Eh?
Ternyata disana masih ada Ayah dan Ibunya yang masih duduk sembari menonton berita di televisi.
"Ayah dan Ibu masih belum tidur, kenapa?" Tanya Heinry lalu segera dia mengambil posisi dan duduk bergabung bersama mereka.
Ibunya Heinry menghela nafasnya, sebenarnya ini memang sudah malam dan juga biasanya mereka pasti sudah tidur. Tapi semenjak dia melihat Jeje secara langsung dan sekarang Jeje tinggal di sana, mereka jadi terus berpikir keras mencari cara agar Jeje tetap tinggal di sana agar mereka juga bisa lebih akrab dan bisa ikut membantu mengurus Jeje.
"Heinry, paksa saja Ibunya Jeje untuk menikah denganmu! Ibu benar-benar tidak ingin kalau harus menunggu akhir pekan hanya untuk bertemu dengan cucu sendiri." Pinta Ibunya Heinry, namun sudah jelas permintaan itu sudah seperti perintah dan tidak ada kata yang bisa digunakan untuk menolaknya.
Yah, kalau Heinry pikirkan sih, menikahi Amy bukanlah hal buruk. Memang tidak cantik, cara bicara yang fulgar, sembrono dan lepas saja sangat tidak anggun. Tipe seperti ini pasti bukan idaman kebanyakan pria, tapi anehnya Heinry merasa tidak buruk juga menikahi Amy.
Paksa apaan? Melihat sorot matanya saja Heinry sudah ciut!
Heinry mengangguk saja, sungguh ingin mengatakan iya dia takut Ibunya akan mendesah dan semakin menuntut.
"Kalau sulit tinggal kita bujuk saja Jeje, Ibu yakin sekali kok Amy akan kalah dan kukuh kalau Jeje yang memintanya." Ujar Ibunya Heinry yang langsung mendapatkan anggukan setuju dari Ayahnya Heinry.
Heinry tersenyum tipis, itu dia! Dari pada dia harus memilik saingan, putrinya memanggil pria lain sebagai Ayah, sudah bagus dan tepat menikahi Amy kan?
Iya, walaupun memang benar dia pernah mengatakan kepada Jhon kalau lebih baik dia menikahi babi betina di banding Amy, anggap saja sekarang Amy adalah seorang babu betina. Seorag, bukan seekor!
Heinry tahi benar sekarang harus melakukan apa, dia yakin benar kalau rencananya ini akan berhasil.
"Heinry, usia lebih dari tiga puluh tahun bukanlah usia yang bisa disebut muda. Kalau kau menikah lebih tua lagi artinya kalau kau memiliki anak kedua, saat dia anakku dua puluh tahun kau sudah akan enam puluh tahun. Jangankan menggendong cucu dari anak keduamu, bahkan minat putrimu sarjana saja belum tentu." Ujar Ayahnya Heinry.
"Tidak,tidak! Aku akan membawa wanita itu kepelaminan!" Ucap Heinry dengan mimik wajahnya yang terlihat yakin.
Bersambung.