One Night Special

One Night Special
Rasa Di Atas Cinta



Amy tersentak, dia membalikkan badannya dan kini mereka berdua berada saling berhadapan, menatap satu sama lain.


"Benarkah?" Tanya Amy.


Heinry sedikit tersenyum lalu mengangguk.


Amy menyusup masuk kedalam pelukan Heinry dan menangis tanpa suara. Ternyata, disaat yang bersamaan mereka sedang sama-sama berjuang dengan mempertaruhkan nyawa mereka.


"Hei, kau sedang kasihan padaku? Sekarang, aku kan baik-baik saja!" Ucap Heinry yang tahu benar kalau Amy pasti sedang menangis.


"Bukan begitu!" Bantah Any seraya menjauhkan tubuhnya.


"Lalu?"


"Aku kesal sekali, seharusnya kau tinggalkan banyak uang padaku waktu itu! Gara-gara kau, uangku juga hampir habis untuk biaya rumah sakit! seharusnya, kalau ada rencana kecelakaan, kau harus memberitahukan padaku dulu!"


Eh?


"Jadi, kau sedih karena uangmu terpakai banyak?" Tanya Heinry yang terlihat keheranan.


Amy berdecih, mengubah posisinya dan membelakangi Heinry.


Debaran jantungnya, perasaan tersentuh oleh semua yang Heinry lakukan sungguh membuat Amy tidak bisa tenang. Dia bingung, bagaimana jika dia tidak bisa mencintai Heinry sebanyak yang Heinry inginkan? Setelah semua yang Heinry lakukan untuknya, bagaimana mungkin dia tidak akan merasa tersanjung dan terbebani?


Heinry terdiam menatap punggung Amy yang polos, begitu mulus sehingga sulit baginya menahan diri dan memutuskan untuk memeluk Amy dari belakang.


"Sudahlah, semua uang yang aku punya pada akhirnya akan menjadi milikmu. Aku minta maaf karena semua terjadi di luar kendali dan ekspetasi," Ucap Heinry seraya mengeratkan pelukannya.


Amy terdiam dengan segala pemikirannya, ada banyak hal yang seperti ingin dia tanyakan, tapi sayangnya Amy benar-benar bingung bagaimana dia akan memulai semua itu.


"Sayang?" Panggil Heinry dengan lembut.


Amy berdecih, mencoba untuk menyingkirkan tangan Heinry yang memeluk tubuhnya, tapi sama sekali tidak berhasil dan justru Heinry jadi lebih erat lagi memeluknya.


"Mulut mu benar-benar fasih sekali memanggil sayang sekarang ya, Heinry?" Kesal Amy yang benar-benar tidak tahan setiap kali Heinry memanggilnya seperti itu pada akhir Heinry hanya akan megambil keuntungan dengan melakukan anuan!


Heinry terkekeh, dia tahu kalau sekarang Amy masih dalam kebimbangan karena Amy kan tidak pernah memiliki minat dalam sebuah hubungan pernikahan, terlebih tentang cinta. Tidak masalah, Heinry cukup percaya diri kalau pada akhirnya dia akan tetap mendapatkan hati Amy entah bagaimana caranya.


"Heinry, apa kau pernah memikirkan soal perceraian?" Tanya Amy yang pada akhirnya memutuskan untuk bertanya.


Heinry membuang nafasnya, lagi-lagi membahas soal perceraian? Entah kenapa, tapi mendengar kata itu Heinry benar-benar tidak nyaman.


"Tidak! Aku menikah bukan untuk bercerai. Aku menolak semua gadis yang di jodohkan padaku juga karena alasan itu. Wanita cantik memang banyak, mereka anggun dan lembut pada awalnya. Tetapi, sifat yang sesungguhnya pada akhirnya akan terlihat, dan aku yakin aku bukanlah orang yang akan bisa menerima perubahan negatif. Aku memilihmu menjadi istriku juga bukan hanya karena kau adalah Ibu dari anak ku, tapi aku yakin benar bahwa kau bisa membuatku memahami dan menerima bagaimanapun sikapmu akan berubah nanti."


Amy mencengkram kain sprei yang membungkus ranjang tidurnya. Amy benar-benar heran dengan Heinry. Bagiamana bisa Heinry begitu yakin dengan Amy? Cara bicaranya juga seolah begitu mengenal dirinya, jika memang benar Heinry bisa mengenali dirinya sedalam itu, lalu kenapa Amy tidak bisa mengenali dirinya sendiri?


"Heinry?" Panggil Amy.


"Bagiamana devinisi cinta bagimu?" Tanya Amy.


"Cinta? Cinta cuma kata, padahal nyatanya cinta itu sama saja dengan rasa tertarik yang berlebihan. Dibandingkan membicarakan cinta, aku benar-benar lebih tertarik membahas soal sebuah kecanduan akan sesuatu yang membuat hati tidak bisa lepas dan tidak rela. Yaitu, ketergantungan dan efeknya adalah ketidak puasan."


"Apa maksud mu?" Tanya Amy yang merasa sangat bingung.


Apa lagi sih? kenapa berbelit sekali, batin Amy kesal.


"Maksudnya, narkocoi? Kau mengonsumsi itu?"


Heinry terkekeh sembari memeluk Amy di bagian perutnya, mengecup kepala bagian belakang beberapa kali.


"Bukan, kau tahu kan kenapa banyak padangan suami istri yang bercerai, berselingkuh, kekerasan dalam rumah tangga hingga ke level pembunuhan? Kebanyakan dari mereka menikah karena perasaan cinta, tapi sejauh apa perasaan cinta bisa bertahan? Cinta akan luntur seiring waktu dan digantikan oleh rasa bosan. Tapi, perasaan yang candu dan menimbulkan ketergantungan hingga selalu ada rasa tidak rela kehilangan dan seakan mati saay berpisah, itu ada di atas kata cinta. Kau mungkin tidak percaya, tapi aku merasakannya, dan aku yakin pada diriku sendiri akan sejauh apa aku bertahan."


Amy menggigit bibir bawahnya, entahlah. Kalau perasaan Heinry sampai seperti itu, apakah dia layak meragukan Heinry?


"Heinry?" Panggil Amy.


"Iya? Kenapa? Mau lagi?"


Puih! Batal, tidak jadi! Pokoknya dia tidak jadi tidak meragukan Heinry!


"Sanalah, Heinry! Aku mau tidur!" Kesal Amy.


Di sisi lain.


"Jadi ini menjadi anda, Nyonya?" Tanya salah satu teman arisan Ibunya Heinry setelah ia memamerkan photo pernikahan Heinry dan juga photo terbaru mereka saat sedang bulan madu.


"Sebenarnya saya sempat berpikir, pasti selera Heinry tinggi sekali seperti dirinya. Bagiamana pun, selama ini kita tahu benar kalau Heinry selalu menolak wanita yang dijodohkan dengannya. Padahal, gadis yang di kenalkan padanya kan kebanyakan anak pejabat, pembisnis sukses, dan mereka semua sangat cantik, pendidikan mereka juga tidak main-main. Ada yang lulusan campus terbaik diluar negeri juga loh," Ucapnya.


Ibunya Heinry langsung terdiam, dia benar-benar kehilangan senyum yang sejak tadi terlihat di wajahnya.


"Maksudnya, Ibuku tidak bisa dibandingkan dengan para wanita itu? Apakah, Nenek juga akan mengatakan jika selera ayahku buruk?" Tanya Jeje yang juga berada disana. Dia benar-benar selalu di paksa ikut Ibunya Heinry kemanapun dan akan dikenalkan kepada semua orang dengan perasaan bangga.


Wanita itu langsung kehilangan kata-kata, dia tidak tahu kalau anak sekecil itu akan begitu tajam dalam berucap.


Ibunya Heinry menghela nafasnya, sungguh dia tidak suka dan tidak nyaman dengan ucapan sahabatnya itu.


"Sepertinya, aku tidak akan datang ketempat ini lagi apapun acaranya yang akan di gelar. Satu lagi, menantuku adalah orang yang baik, dia tidak seperti wanita kebanyakan. Heinry menolak semua wanita cantik itu, lalu memilih menantuku, tentu saja ada alasannya. Pertama, putraku pasti sudah menilai dengan sangat baik setiap wanita yang di jodohkan padanya. Kedua, menantuku juga cantik, dia percaya diri dan tidak pernah menyalahkan Tuhan karena dia tidak terlihat cantik menurut versi anda. Dia bangga dengan dirinya sendiri, dia mengurus cucuku selama bertahun-tahun sendiri, kalau itu wanita lain, mereka pasti sudah menuntut banyak sekali dari kami."