One Night Special

One Night Special
Gara-Gara Sarapan



Amy terperangah tak percaya saat Heinry membelikan sandwich hanya untuk Jeje saja. Padahal sebelumnya berangkat tadi Heinry sudah mengatakan kalau mereka akan sarapan bersama kan? Tapi oh kenapa hanya dua sandwich saja dan sudah begitu Heinry justru mengatakan,"Habiskan ya Jeje? Banyak makan artinya banyak energi untuk menjadi lebih hebat!"


Amy benar-benar hanya bisa menelan salivanya melihat Jeje menggigit sandwich itu.


Grughh......


Ah, sialan!


Amy memegangi perutnya yang terus berbunyi membuat Heinry dan Jeje benar-benar menahan tawa. Entah apa yang mereka berdua pikirkan serta mereka rencanakan, tapi ini adalah kali pertama Amy benar-benar kesal karena anaknya begitu mirip dengan Heinry.


"Eghh!" Jeje menepuk perutnya karena dia sandwich dan satu gelas milkshake sudah ludes di makan oleh Jeje seorang diri.


Sejak kapan sih anaknya jadi doyan makan? Ah, tidak! Dia tidak ingin anaknya gendut, nanti kalau dia kesulitan bergerak bukankah kasihan sekali?


"Sayang, sepertinya sarapanmu terlalu banyak deh, besok-besok jangan begitu lagi ya? Nanti kalau saat belajar perutmu begah bagaimana?''


Jeje menghela nafasnya, menatap Ibunya dengan tatapan sebal dan berkata, "Maksud Ibu, kalau lain kali aku punya dua sandwich, artinya hanya boleh satu untukku dan satunya lagi untuk Ibu?"


Eh?


Ugh!


Apa itu terlalu terlihat jelas?, Batin Amy yang merasa malu.


Heinry masih diam menahan tawa, sedangkan Jeje t terus saja terlihat sebal.


Kini Amy kembali menghela nafasnya, menahan saja perutnya yang terasa lapar.


Bagus! Makan saja harapan palsu, lihat saja wajah tampan Heinry siapa tahu bisa membuat perut kenyang! Batin Amy kesal.


"Ayah Ibu, terimakasih banyak sudah mengantarku sekolah di hari pertama!" Ucap Jeje tersenyum lalu melambaikan tangan dan berjalan masuk kedalam sekolah.


Amy membuang nafasnya, sekarang sudah tidak perlu lagi berpura-pura kan?


"Baiklah, Heinry! Karena Amy sudah masuk kedalam sekolah, artinya aku juga sudah boleh pergi." Amy sudah bersiap ingin melangkahkan kaki, tapi kerah baju bagian belakang Amy di tahan oleh Heinry sehingga Mau tidak bisa melanjutkan lagi langkah kakinya.


"Hei, hei, hei! Kau pikir aku ini kucing ya?!" Protes Amy membuat Heinry hanya bisa tersenyum.


Heinry menarik Amy untuk ikut kembali menuju mobil, tidak perduli seberapa banyaknya Amy protes dan menolak dengan keras.


"Heinry! Kau ini apa-apaan?!" Kesal Amy, karena tak di dengar protesnya Amy berteriak berharap Heinry melepaskan dirinya,"Ah! Tolong! Tolong! Pria ini ingin memperkosaku!"


Beberapa orang yang ada disana terkejut, dia mendekati Heinry dan Amy karena mencoba mencari tahu apa yang terjadi dan bersiap untuk menolong Amy.


"Ada apa ini?" Tanya seorang pria yang juga baru saja mengatakan anaknya ke sekolah.


"Ah! Pria ini berniat memperkosa ku!" Ucap Amy dengan kuat.


Heinry tersenyum,"Apakah pria dengan wajah sepertiku, memiliki mobil mahal seperi ini terlihat akan memperkosa seorang wanita seperti ini?"


Pria itu menatap Amy, lalu menatap Heinry yang jelas lah tidak perlu memperkosa juga akan banyak wanita yang antri dan rela untuk tidur dengan Heinry.


"Lalu kenapa wanita itu bereteriak terus?" Tanya pria itu yang masih penasaran.


Heinry membuka pintu mobilnya lebih dulu, memasukkan Amy kedalam mobil dan menguncinya dari luar.


"Sebenarnya wanita itu adalah istriku, sejak menikah hingga sekarang dia begitu mencurigai semua orang. Yah, dia takut aku berselingkuh. Maklumlah, dia benar-benar mencintaiku, bahkan mengantarkan anak sekolah dia juga ingin ikut karena tidak ingin ada guru sekolah yang menyukaiku. Dia kesal dan terus berteriak karena semalam aku menolak saat dia ingin mengajak berhubungan badan."


Pria itu menghela nafas, menatap Amy yang terus memukul kaca mobil dan beretika entah apa tidak jelas. Pria itu menggelengkan kepala seolah dia begitu kasihan melihat Amy.


"Maafkan saya yang terlalu ingin tahu, semoga saja istri anda bisa cepat sembuh dan tidak lagi curiga sehingga hidupnya akan sangat damai," Ujar pria itu.


Sialan! Mulutku pegal bagus tersenyum terus! Leherku juga hampir patah karena terus mengangguk! Aku juga terlalu banyak bicara sampai kerongkonganku kering!


Setelah pria itu pergi, Heinry benar-benar tidak lagi tersenyum. Sungguh dia tidak tahu kalau saja orag tahu yang sebenarnya bahwa, Heinry ditolak mentah-mentah oleh Amy, bahan lalat sekarat juga pasti akan keheranan kan?


"Apa-apaan kau ini?! Apa yang kau katakan kepada orang itu sampai dia menatapku seperti sedang melihat monyet yang atraksi tapi gagal?!" Tanya Amy, dan tentu saja dia terlihat kesal.


Heinry tersenyum tipis, sialan! Padahal dia pegal sekali banyak tersenyum kepada pria itu, tapi kenapa kala di dekat Amy dia justru ingin banyak tersenyum? Lagi pula kenapa juga setiap hal yang di katakan Amy begitu lucu?


"Aku cuma mengatakan kalau kau sedang kesal saja," Ujar Heinry yang justru membuat Amy mengeryitkan dahi semakin bingung dia dengan ala yang di katakan Heinry.


"Kesal? Aku kesal kenapa kau juga menjelaskan kan?" Tanya Amy.


"Iya,"


"Terus? Dia bilang apa?"


"Semoga kau cepat sembuh, dan jangan terlalu banyak pikiran supaya hidupmu damai," Jawab Heinry sembari menahan tawanya.


Amy ternganga kesal, cepat sembuh?


"Kau bilang kalau aku gila?!"


Heinry mengangkat kedua bahunya seraya menjalankan kendaraannya.


"Heinry, aku sungguh tidak pernah merasa sekesal ini tahu tidak?!"


Heinry hanya tersenyum saja, dan Amy juga tidak bisa berbuat lebih karena bagaimana Heinry sedang mengemudi, nyawa yang dia punya kan cuma satu jadi harus baik-baik menjaganya kan?


Beberapa saat kemudian.


"Kenapa kita kesini?" Tanya Amy begitu mobil Heinry terparkir di halaman restauran.


"Karena sejak tadi perutmu terus berbunyi, dan kau juga terus marah artinya kau sedang kesulitan menahan marah kan?"


Cih!


Rasanya Amy benar-benar ingin menolak dan sok jual mahal, tapi perutnya benar-benar lapar sekali, dia sudah sangat tidak tahan!


"Sudahlah! Terpaksa aku harus makan dengan mu, sebenarnya aku sih sangat malas! Ingat ya Heinry, aku terpaksa makan dengan mu!"


Heinry menghela nafasnya, dia tersenyum dan pasrah saja apapun yang dikatakan Amy.


Sesampainya di dalam, Heinry dan Amy menu sarapan yang akan mereka makan, dan setelah menunggu sekitar dua puluh menit, nasi goreng mereka sudah tersedia.


Disela kegiatan sarapan mereka berdua,"Heinry?" Sapa seorang gadis yang super cantik. Namanya adalah Greta, dia anak dari sahabat Ibunya Heinry yang belum lama ini pernah datang kerumah dan berkenalan langsung dengan Heinry.


Heinry menghentikan kegiatannya sebentar, "Iya."


Eh?


Amy benar-benar heran dengan Heinry, dia sama sekali tidak terlihat tertarik dengan wanita secantik itu? Padahal Amy saja yang perempuan ser-seran melihatnya.


"Boleh aku bergabung?" Tanya Greta.


"Tidak!" Heinry.


"Silahkan," Amy.


Bersambung.