One Night Special

One Night Special
Ungkapan Romantis



"Usia kandungan anda sudah memasuki usia delapan Minggu, janinnya juga sehat dan normal. Tapi karena anda tidak mendapatkan tambahan berat badan, tolong perhatikan makanan anda, dan untuk bulan depan kemungkinan detak jantung bayi sudah bisa di dengar." Ujar sang dokter setelah memeriksa kehamilan Amy, dan yang benar-benar paham apa yang di katakan Dokter itu adalah Heinry. Iya, Amy memang bisa bahasa asing di negara dia tinggal, tapi tentu saja tidak semahir itu sehingga adanya Heinry cukup membantunya untuk menerjemahkan kan apa saja yang di katakan Dokter itu.


"Maksudnya, gumpalan kecil itu adalah calon anak kami?" Tanya Heinry masih terlihat tidak percaya kalau akan melihat calon anaknya yang memiliki bentuk sangat aneh.


Dokter itu tersenyum, dia dengan sabar menunjukkan bentuk-bentuk janin sesuai dengan usia kandungan.


"Janin di usia dua bulan atau delapan Minggu sudah memiliki bentuk kepala, bakal kaki dan bakal tangan, Tuan. Bentuknya memang masih sangat aneh, tapi seiring bertambahnya usia kandungan, perut akan main membesar dan bayi akan berkembang dengan baik. Di fase ini asam folat benar-benar sangat di butuhkan sekali bagi Ibu hamil, untuk mencegah kecacatan pada bayi."


Heinry mengangguk sok paham padahal fokusnya benar-benar tidak bisa teralihkan dari bentuk bayi usia dua bulan dalam kandungan. Kenapa mirip seperti alien? Apakah sungguh bayi itu adalah bayi manusia? Rasanya Heinry tidak bisa mempercayainya, tapi juga tidak bisa mengelak sehingga dia hanya bisa diam dan mengangguk saja setiap kali Dokter berbicara.


"Tekanan darah sudah oke, kadar gula juga oke, kadar garam dan kolesterol semuanya dalam keadaan baik. Pertahankan kondisi kesehatan anda, Nyonya. Kehamilan tentu saja bukan hal yang mudah, akan ada rintangan tersendiri dan kesulitan sendiri sehingga peran dan dukungan dari pasangan benar-benar di butuhkan sekali."


Baik Amy maupun Heinry sama sama menelan saliva. Bagaimana mungkin itu akan terjadi terhadap mereka? Amy yang menolak keras Heinry, sementara Heinry juga tidak bisa melakukan apa yang harus di lakukan karena batasan yang di buat oleh Amy kan?


Amy dan juga Heinry mengangguk saja, toh mereka tidak bisa menceritakan kondisi mereka kan?


Sepulang dari rumah sakit.


Amy dan Heinry duduk di sofa ruang tamu sebentar melepaskan lelah kareba perjalanan ke rumah sakit, dan menganti di sana memang cukup memakan waktu.


"Apa kau yakin akan menjalani kehamilan di sini dan melahirkan di sini? Edith akan kelelahan kalau harus bekerja dan membantu mu kan?"


Amy membuang nafasnya, sebenarnya dia juga sudah memikirkan ini sejak lama, tapi tidak ada negara yang dia ingin tinggali selain negara itu. Masalah Edith, tentu saja dia tidak akan membebankan dirinya kepada Edith.


"Besok aku juga sudah akan bekerja paruh waktu kok, awal bulan depan aku juga sudah akan mulai kuliah. Aku sudah membaca banyak artikel di internet tentang bagaiman caranya mengurangi mual dan tubuh yang terasa lemas dan kelelahan, aku akan mencoba yang tebaik untuk ku dan anak kita."


Heinry terdiam, anak kita? Kata itu memang biasa saja bagi pasangan suami istri lainnya, tapi bagi Heinry kata anak kita itu benar-benar membuat jantungnya berdebar.


"Ngomong-ngomong, kau kapan akan pergi dari sini?" Tanya Amy.


"Kau sedang mengusir ku?" Heinry berharap Amy dengan tatapan sinis. Cih! Padahal baru saja beberapa detik lalu dia merasa kasihan dan tidak tega karena Dokter mengatakan jika hamil itu sulit dan butuh sembilan bulan untuk mengakhirinya dengan pertarungan nyawa untuk melahirkan nyawa baru. Ugh....! Rasanya ingin menyumpahi Amy tapi Heinry juga tidak berani melakukannya meski di dalam hati.


Amy menatap Heinry dengan tatapan sebal.


Heinry benar-benar di buat seperti naik rollercoaster untuk mengolah emosinya jika berhadapan dengan Amy.


"Mulut mu itu apa tidak lelah dan kejang hanya untuk mengatakan kalimat yang intinya sama saja untuk mengusir ku? Dukungan yang di maksud bukanlah seperti itu!" Heinry membuang nafasnya, tidak! Dia tidak boleh berteriak, sabar, sabar, datanglah kesabaran dari segala penjuru dunia kepada Heinry yang sedang kesulitan itu....


Amy menjebikkan bibirnya, memang dukungan yang seperti apa lagi? Adanya Heinry di sana benar-benar tidak membuat Amy merasa tenang dan kesal juga. Bagaimana pun Heinry memiliki mulut yang begitu pintar membuat Amy kalah saat adu mulut. Dia tidak terima, dia tidak menginginkan orang yang bisa mengalahkan mulutnya dalam bicara.


"Heinry, kalau kekasih mu yang cantik, kurus, tinggi langsing putih, seperti bihun itu tahu kalau calon suaminya berada di sini, dan baru saja menghamili perempuan lain, sepertinya dia bisa kejang-kejang, berguling kesana kemari, menangis sampai membanjiri dunia air mata dan ingus nya. Bukankah kau tidak mau itu terjadi? Bagaimana kalau cepat saja pulang, lalu temui kekasih mu itu sebelum dia merasa curiga." Amy tersenyum meledek Heinry yang mulai terlihat kesal.


"Bagaimana ya? Aku merasa masih betah di sini, menemani wanita yang sedang mengandung anak ku, lagi pula aku harus mendukung, dan menyemangati mu kan? Demi mu dan anak kita aku akan melakukannya dengan senang hati. Kau sendiri sudah tahu kalau ada wanita yang cinta mati dan akan mampus kalau tahu kenyataan ini kan? Lihatlah betapa besar Pengorbanan ku ini." Heinry tersenyum, membuat Amy benar-benar tak bisa mengatakan apapun lagi.


Amy membuang nafasnya, rasanya ingin memukul kepala Heinry dan mengeluarkan otaknya supaya bisa memahami permintaan nya dan cepat-cepat sanalah pergi dan bawa wajah menyebalkan mu, Heinry!


"Tidak usah malu malu anjing begitu, Amy. Aku memang tidak begitu rela, tapi aku adalah orang yang tidak suka membuah sesuatu yang berharga. Sper** ku sudah jadi anak jadi Amna mungkin aku menyamakan dia dengan sampah dan berpura-pura tidak ingat.


Malu malu anjing apanya?! Amy mengatur nafasnya yang menderu karena kesal yang luar biasa terhadap Heinry.


"Kenapa seperti itu? Kau bengek hanya karena ucapan ku barusan? Aku tidak pernah memiliki minat untuk merayu wanita, tapi sepertinya kau muda terpesona ya?"


"Dasar sinting! Terpesona mata mu! Mana ada pria yang merayu wanita dengan menyelipkan kata anjing di barisan kalimatnya?!"


"Tapi kau merespon kok." Ujar Heinry dengan santai.


"Aku merespon?" Amy membuang nafasnya, sebentar memperbaiki tarikan nafasnya, lalu tersenyum menatap Heinry.


"Benar! aku benar-benar sangat terpesona oleh rayuan mu, aku senang kau menyebut kata anjing di depan ku, jadi aku tiba-tiba saja tergugah, bagaimana kalau aku beri hadiah?" Amy mengangkat perlahan kain dress nya hingga batas paha membuat Heinry membulatkan matanya, segera dia merapatkan kedua kakinya menutup bagian resletingnya dan menutupinya dengan bantal sofa.


"Ja Jangan macam-macam!"


Bersambung.