
Heinry keluar dari mobilnya, menyerahkan kunci mobil untuk di parkiran di parkiran yang tersedia untuk para petinggi perusahaan. Sudah bukan hal yang aneh jika setiap kali Heinry datang semua mata pasti akan tertuju padanya. Yah, dia menang selau tampan, cara berpakaian yang umum untuk pakaian kantor tapi entah apa yang membuat dia terlihat berbeda, menonjol dan mengundang kekaguman ingin serupa mata uang melihat ke arahnya.
"Heinry! Eh, maksud ku Presdir Heinry. Selamat pagi?" Sapa seorang pria yang kini tersenyum dengan sumringah sembari melambaikan tangannya tinggi, dia benar-benar terlihat bahagia melihat Heinry datang.
"Hentikan senyum lebar mu itu, gigi mu mengganggu penglihatan ku." Ucap Heinry begitu mereka sudah berjarak cukup dekat.
Pria itu berdecih sebal, tapi dia tidak merasa kesal sama sekali karena dia menyadari benar bagaimana kondisi Heinry yang memang belum mendapatkan hasil seperti yang dia inginkan.
"Yah, padahal kita baru saja akan menjadi teman sehati dalam pekerjaan, kau malah sudah membuat ku down saja." Ujar pria itu.
"Kau bisa membatalkan itu jika keberatan." Ujar Heinry seraya menjalankan kakinya untuk menuju lift.
"Eh! Mana boleh begitu, aku datang jauh-jauh dari luar negeri hanya demi untuk menjadi asisten sekretaris mu loh."
Heinry menghela nafas, asisten sekretaris? Entah mau berapa kali ganti lagi, Heinry benar-benar sampai sakit kepala karena selama empat tahun menjabat sebagai Presdir dia benar-benar tidak menemukan asisten sekretaris seperti yang dia inginkan.
"Siapa namamu?"
Pria itu menjebikkan bibirnya, rasanya sebal sekali karena tidak di kenali oleh orang yang dulu hanya menganggapnya sebagai satu-satunya teman yang bisa dia jadikan sahabat baik.
"Nama ku, Jhon."
Heinry menoleh, menatap wajah Jhon dan kembali melihat ke depan. Jhon? Sepertinya memang benar apa yang di katakan Ibunya, dia seperti pernah mendengar nama Jhon, tapi masih belum tahu dan merasakan seberapa dekat pertemanan mereka dulu. Kalau menurut cerita Ibunya sih, Jhon adalah Satu-satunya sahabat yang pernah di ajak pulang ke rumah, tapi sungguh Heinry tidak bisa mengingat apapun tentang Jhon saat ini.
"Sedekat apa kita dulu?" Tanya Heinry di saat mereka sudah masuk ke dalam lift.
"Yah, setidaknya aku tahu delapan puluh persen tentang mu. Apalagi semenjak adik ku yang gila itu mengejar mu dan memintamu untuk di hamili, kau jadi semakin dekat pada ku hanya untuk mengomel padaku. Yah, kita jadi semakin akrab saat itu."
Heinry mengeryitkan dahinya, dia mengomel? minta untuk dihamili?
Mengomel sepertinya bukan hobinya, karena hanya untuk bicara saja rasanya dia malas sekali, apalagi kalau mengomel? Lagi, adik Jhon benar-benar tidak waras sekali, bagaimana bisa ada gadis yang begitu bersemangat untuk di hamili?
"Kau, dan adik mu pasti benar-benar sama gilanya." Ujar Heinry yang terlihat malas bicara dan seperti terpaksa untuk mengatakan itu.
Jhon memaksakan senyumnya.
Membicarakan soal Amy, rasanya Jhon benar-benar merasa bersalah karena tidak dapat menemukannya hingga sekarang. Dulu dia memang memiliki alamat tinggal Amy, tapi masalahnya dulu dia tidak memiliki uang kalau untuk menyusul Amy, makanya dia butuh kerja selama setahun di negara tetangga barulah dia mencoba untuk menemui Amy di alamat yang dia dapatkan. Tapi sungguh sayang, pemilik rumah sewa mengatakan jika Amy sudah pindah sejak enam bulan yang lalu, dan tidak tahu di mana keberadaan Amy sekarang.
Di sisi lain.
"Apa ini makanan?" Tanya Jeje membolak-balikkan roti bakar yang begitu luar biasa warnanya.
Edith mengangkat bahunya saat Jeje bertanya dan menatap dirinya.
Jeje menghela nafas.
"Ibu, sepertinya Ibu memang tidak memiliki bakat memasak. Ibu bilang belajar memasak adalah kegiatan untuk mengisi waktu luang kan? Nah, dari pada memasak dan makanan yang ibu masak selalu saja gagal, bagaimana kalau Ibu coba mendapatkan satu Ayah untuk ku?"
Edith menahan tawanya. Yah, mau bagaimana lagi? Amy memang benar tidak berbakat memasak dan terlalu tidak masuk akal untuk di maklumi. Kemarin pasta yang gosong, telur dadar yang manis karena salah memasukkan garam dan justru di masukkan gula. Membuat bubur apel, Amy justru memasaknya dengan begitu banyak garam hingga bubur Apple tidak bisa di makan. Membuat kue juga kuenya tidak mengembang, dan Jeje jadi mengeluh bahwa kue yang Ibunya buat bisa untuk melempar kepala pencuri dan mengantarkan pencuri ke surga dalam sekejap.
Amy menghela nafas sebalnya, padahal dia benar-benar ingin memasak untuk putrinya tersayang, tapi ya selalu saja gagal. Sebenarnya apakah benar dia tidak memiliki bakat memasak? Tapi biarpun tidak bisa memasak masa iya dia harus memiliki bakat untuk menjebak pria supaya menjadi Ayahnya Jeje! Duh! Mana kalau di pikirkan lagi, sebenarnya memang masih belum ada pria lain yang mengalahkan Heinry sih.
"Sayang, itu roti bakar model baru kok. Ibu melihat di internet kalau sekarang itu memang begitu dalam menyajikan roti bakar." Amy memaksakan senyumnya.
"Benarkah? Kalau begitu, bagaimana kalau berikan aku Ayah model baru? Aku tidak butuh banyak kok, satu saja!"
Duh!
Amy benar-benar hanya bisa membalikan badannya, menggigit bibir bawanya menahan kesedihannya yang selalu saja kebingungan bagaimana memberikan pengertian kepada Jeje. Awalnya Amy pikir tidak akan ada masalah yang terjadi karena dia tinggal di negara yang jauh dari para orang bermulut dua, tidak akan ada yang mempermalukan seorang anak hanya karena tidak memiliki anak. Tapi ternyata, masalahnya timbul dari perasaan anaknya sendiri yang menginginkan Ayah.
"Bibi, lihatlah Ibu. Setiap kali membicarakan soal Ayah, Ibu selau saja berpura-pura tuli dan buta. Kalau seperti ini terus, apa perlu kita kembali ke negara asal Ibu dan mencari pria yang mirip denganku dan bisa di jadikan Ayah ku?"
Amy membulatkan matanya, membalikkan badannya menatap Jeje dengan tatapan tegas.
"Tidak boleh! Tidak ada pria yang mirip dengan mu karena, Ibu, Ibu hamil dan melahirkan seorang diri. Ibu, tidak membutuhkan Ayah untuk bisa melahirkan mu!" Ucap Amy yang langsung mendapatkan tatapan sinis dari Jeje.
"Pembohong! Aku sudah pernah bertanya kepada Ibunya temanku! Dia bilang untuk memiliki anak harus ada wanita dan satu pria, mereka berdua harus melakukan sesuatu baru bisa jadi anak!"
Amy dan Edith benar-benar hanya bisa tercengang, ternyata Jeje sampai mencari tahu sejauh itu?
"O orang gila mana yang menjelaskan seperti itu kepada anak kecil?" Heran Edith.
Bersambung.