One Night Special

One Night Special
Tapi,



Tentu saja yang namanya Jhon tidak akan patuh begitu saja, saya di luar kantor Jhon kan bukan anak buah Heinry yang bisa di atur dan di perintah sesuka hati seperti tadi pagi?


"Ayahmu pernah bilang bahwa, dia tidak akan pernah mau dengan Ibumu! Dia bahkan mengatakan bahwa, dia akan lebih baik menikahi babi betina dibanding menikah dengan Ibumu," Ucap Hin dengan percaya diri mengatakan itu semua, membuat Heinry gemetar karena menahan kesal.


"Jhon!" Ucap Heinry yang masih menatap Jhon dengan tatapan kesalnya.


Jeje menatap Heinry seolah dia sedang memprotes dan mengancam Heinry membuat Heinry menelan salivanya.


"Tidak! Tidak kok, mana mungkin Ayahmu mengatakan itu? Dari pada nanti betina bukannya ada banyak wanita?" Ujar Heinry berharap benar putrinya tidak mempercayai apa yang dikatakan Jhon.


Amy menghela nafasnya,"Baiklah, kalau memang harus menikah ya tinggal menikah saja!"


Semua orang melotot menatap Amy dengan tatapan terkejut.


"Kau setuju?" Tanya semua orang yang terus menatap Amy dan begitu menantikan jawaban yang akan keluar dari mulut Amy.


"Tentu saja!" Ucap Amy.


Jhon ternganga tidak percaya, pokoknya tidak! Dia tidak setuju.


"Wah! sungguh? Selamat, Ayah!" Ucap Jeje senang.


Heinry menahan senyumnya hingga wajahnya memerah membuat Jhon ingin muntah.


"Tapi,"


"Tapi?" Ucap semua orang yang lagi-lagi dibuat fokus menatap Amy dan mematikan apa lanjutkan dari kata Tapi itu.


Amy membuang nafasnya, memundurkan pungungnya untuk bersandar di sandaran kursi. Dia menaikkan satu kakinya meletakan di satu kakinya lagi.


"Tapi, aku punya banyak sekali yang harus di bahas. Dengarkan baik-baik, kau juga Jeje!"


Semua orang dengan seksama menantikan apa yang ingin di katakan Amy, bahkan nenek yang tadinya tidak ingin ikut campur jadi memilih untuk duduk di sana dan mendengarkan dengan seksama.


"Kasus kekerasan dalam rumah tangga itu sangat tinggi, dan kebanyakan pelakunya adalah pria! Kasus perselingkuhan juga sangat tinggi di negara ini! Tahun ini saja sudah lebih dari empat juta pasangan menikah yang berselingkuh. Kalian juga harus tahu bahwa tahun ini tercatat ada sekitar empat ratus ribu anak yang hidup dalam keluarga miskin, kelaparan, penyakitan, di buang oleh orang tuanya! Ada sekitar lima puluh mendekati seratus bayi yang baru lahir dan di lemparkan ke sungai, di tempat sampah, ke selokan, lubang WC, dikuburkan saat masih hidup, istri membunuh suami, suami membunuh istri, anak saling membunuh karena berebutan harta, anak memperkosa adiknya, Ayah memperkosa anaknya, anak dan Ibu kandung dan ewita, coba bayangkan semua masalah menakutkan itu?! Jika saja tidak ada pernikahan mana mungkin semua masalah itu akan ada?!" Tanya Amy kesal.


"Sekarang jika aku setuju menikah apakah ada yang menjamin aku akan selamat? Tampang Heinry yang bahkan bisa mengalahkan silaunya matahari apa mungkin bisa setia kalau sedikit saja muncul dia sudah akan di goda wanita?"


Jeje menggigit bibir bawahnya, dia menahan tangis dan tangis kali ini dia benar-benar tidak sedang berpura-pura.


"Aku tidak masalah jika harus menikah dengan Heinry tapi, pernikahan seperti apa yang akan dijalani? Hanya berjalan bersama seperti sahabat hanya karena tidak ingin Jeje bersedih? Memang bisa bertahan betapa lama pernikahan seperi itu? Aku tahu aku egois, aku tahu aku tidak layak untuk menjadi Ibu yang baik untuk putriku. Tapi apakah kalian yang memintaku untuk menikah bisa menjamin semua itu tidak akan terjadi? Bisakah kalian berada di garda terdepan saat Putriku dalam masalah? Tidak, tidak akan ada yang bisa menjaminnya bukan?"


Jeje mulai terisak tak tahan untuk menangis membuat Amy segera mendekati Jeje dan memeluknya erat.


"Kalau pernikahan sangat menakutkan seperti itu, aku juga tidak mau menikah seumur hidupku,Ibu." Ucap Jeje lalu menangis sesenggukan membuat Amy benar-benar merasa bersalah telah mengatakan apa yang seharusnya tidak dia katakan. Jeje pasti memiliki trauma dan ketakutan karena apa yang dia katakan bukan?


Heinry juga jadi tidak bisa berkata-kata, sungguh dia merasa Amy seharusnya tidak mengatakan semua itu dan membuat putri mereka ketakutan bukan?


Jhon dan Nenek hanya bisa menahan segala pemikiran mereka.


Apa yang telah terjadi kepada Ayah dan Ibu mereka sudah bukan lagi rahasia jadi Heinry juga seharusnya paham bukan?


"Ibu, aku minta maaf ya? Aku janji tidak akan meminta Ibu untuk menikah lagi, aku janji tidak akan menikah supaya Ibu tidak khawatir," Ucap Jeje yang masih terlihat begitu sedih.


Eh?


Dia hanya tidak ingin menikah, bukan sampai anaknya juga harus seperti dia kan?


Heinry tertunduk lesu, sepertinya mimpi untuk memilki keluarga yang utuh memang tidak akan bisa dia wujudkan bersama Amy dan juga Jeje.


"Anu, Jeje. Sebenarnya bukan maksud Ibu begitu, Ibu hanya-" Ucapan Amy tak bisa dia lanjutkan karena Jeje memeluknya erat dan menangis lebih kuat lagi.


"Ibu tidak perlu menghibur ku sama sekali! Aku tahu Ibu khawatir padaku, aku janji tidak akan menikah, aku bersumpah!" Ucap Jeje lalu melanjutkan tangisnya yang pecah.


Hah?


"Bukan, bukan nak! Sungguh bukan begitu maksud Ibu! Ibu bukannya tidak mau menikah, Ibu cuma,"


"Jadi sebenarnya Ibu mau menikah atau tidak sih?!" Tanya Jeje yang tersendat-sendat suaranya karena sejak tadi dia masih belum bisa berhenti menangis.


Amy membuang nafasnya,"Iya, iya, Ibu mau! Jadi berhenti menangis seperti ini, oke?" Ucap Amy mencoba untuk membujuk anaknya. Jeje tentu saja pernah menangis, tapi tangisnya kali ini benar-benar sangat menyedihkan membuat hati seorang Ibu yang ada pada diri Amy begitu tak tega melihatnya.


"Ke kenapa kalian menatapku seperti itu?" Tanya Amy bingung saat dia tengah memeluk putrinya, dan tak sengaja matanya melihat Jhon, nenek, juga Heinry yang menatapnya dengan tatapan terkejut dalam diam.


Amy terdiam sebentar setelah bertanya, hah? Tadi dia bilang kalau dia setuju untuk menikah ya?


Aduh!


Mampus! Hanya karena Jeje yang menangis sedih seperti itu dia jadi kehilangan kontrol saat bicara.


"Ibu sudah bilang mau, tidak boleh mengelak lagi!" Ucap Jeje mengancam Ibunya.


Tuhan, kalau ada lubang tikus yang tidak berpenghuni, tolong sembunyikan aku disana!, Batin Amy memohon.


Beberapa saat kemudian.


Amy dan Jhon serta nenek kini ada di dalam kamar untuk bicara, sedangkan Heinry bersama Jeje di ruang tamu.


"Sayang, akting mu tadi keren sekali loh. Ayah pikir kau memang sedih sungguhan!" Ujar Heinry lalu tersenyum senang.


Jeje menatap Ayahnya dengan tatapan dingin,"Yah tadi itu bukan akting! Aku memang sedih, aku takut Ibuku tidak bahagia saat menikah dengan Ayah! Ibu bilang pria berwajah jelek artinya trap! Kalau pria berwajah tampan artinya racun mematikan!"


Hah?


Bersambung.