
Jhon tersenyum miring.
"Orang tuaku adalah nenek, dia adalah orang yang begitu berkorban. Motor, mobil, tanah, semuanya dia jual untuk kebutuhan kuliahku. Sekarang aku sudah bekerja tentu saja orang yang harus aku tanggung adalah nenek seorang kan? Aku tidak tahu peran Ayah dimana selama ini, aku benar-benar merasa nenek adalah kekuatan, Ayah dan Ibuku, nenek juga adalah orang yang paling penting untukku. " Ucap Jhon.
Ayahnya Jhon membuang nafas kasarnya.
"Dimana Amy? Aku dengar dia juga tinggal disini kan? Coba minta dia untuk keluar dan tanyakan ada berapa banyak uang yang bisa aku pinjam!"
Jhon menghela nafasnya.
"Amy sedang pergi, dia juga tidak akan mungkin bisa meminjamkan uang sebanyak itu, dia harus menanggung hidup anaknya, jadi tolong jangan menyusahkan dia."
Ayahnya Jhon terlihat semakin kesal membuat Neneknya Jhon menangis tanpa suara karena sifat anaknya memang benar-benar sangat tidak manusia sekali!
"Dasar sialan! kalian ini payah sekali! Aku hanya pinjam seratus dua puluh juta saja harus sampai seperti ini?! Kalian ini apa tidak tahu berterimakasih hah!? Kalau saja tidak ada aku, kalian mana mungkin ada di dunia?!"
Jhon terkekeh tak tahan mendengar ucapan Ayahnya. Oh, sekarang dia cukup paham kenapa Ayahnya sangat suka membuat anak tapi tidak memiliki minat untuk mengurusnya. Dia pasti menunggu anaknya tumbuh dewasa dan bisa menghasilkan uang sehingga dia akan mengancam anaknya dengan cara semacam itu?
Cih!
Memang siapa yang minta dilahirkan? Siapa juga yang Sudi memliki Ayah yang semacam itu?
"Dari dulu selalu memakiku sialan, apa mulut Ayah tidak bosan?"
Ayahnya Jhon menatap Jhon dengan tatapan kesal, dia sudah bersiap untuk memukul wajah Jhon, tapi disaat itulah Amy datang.
"Jhonson! Maniak gila sialan! kenapa kau tidak datang untuk mebantu-" Ucapan Amy terhenti begitu saja saat dia sampai dirumah tamu dan mendapati Ayahnya berada disana, tengah mengangkat tangannya dan jelas dia pasti ingin memukul Jhon.
Amy dan Ayahnya saling menatap, jelas mereka memiliki pemikiran mereka masing-masing.
Ayahnya Amy menurunkan tangannya, dia terus menatap Amy yang sudah lama sekali tak bertemu dengannya.
"Kau sudah kembali tapi kenapa tidak datang pada Ayah?" Tanya Ayah kepada Amy. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Ayahnya tapi Amy benar-benar cukup merasakan luka lama itu dia rasakan kembali.
"Jhon?" Panggil Amy.
"Apa?" Tanya Hin yah sudah bisa menebak kalau sebentar lagi pasti Amy akan membuat ulah.
"Mulutmu pegal, tolong wakilkan aku untuk menjawab pertanyaan dari, Ayahhhh kita!" Ucap Amy yang dengan jelas menekan kata Ayah, tentu saja tujuannya adalah untuk menyindir.
Ayah mereka kembali terlihat kesal, "Kalian benar-benar tidak berpendidikan Sekai!"
"Memang iya!" Jawab Amy dan Jhon bersamaan.
"Tidak ada Ibu, tidak ada Ayah, yah bukanya wajar, Iya kan Amy?" Tanya Jhon.
Amy hanya mengangguk saja karena terlalu malas untuk bicara.
"Kalian benar-benar menguji kesabaran! Berikan saja uang supaya aku cepat pergi, aku juga malas terlalu banyak berdebat!" Ucapnya lagi.
"Bayar hutangmu, Jhon!" Ucap Amy sinis.
"Dia mau meminjam uang, bukan menagih hutang! Memang tampang keren sepertiku layak berhutang?"
Perdebatan itu membuat Ayah mereka semakin kesal.
"Memiliki anak tanpa menikah, bahkan tidak jelas siapa Ayahnya, bagaimana kau bisa begitu bangga untuk hal memalukan seperti itu?!" Ucap Ayah membuat Amy yang sudah akan masuk kedalam kamar menjadi menghentikan langkahnya, menatap Ayahnya dengan tatapan kesal.
Jhon juga sama, dia menatap Ayahnya dan menunjukkan dengan jelas kalau dia adalah orang yang paling tidak berhak mengkritik apapun yang Amy lakukan.
"Bukankah lebih baik menikah cerai dibanding tidak memilki suami tapi melahirkan anak? Kau juga seharusnya tahu malu sedikit, kau membutuhkan orang tua untuk membantumu menangani masalah dari aib yang kau buat kan?"
Amy mengepalkan tangannya, sungguh di kesal sekali mendengar Ayahnya mengatakan kalimat itu dengan matanya yang tidak berkedip sama sekali.
"Tentu saja anaknya Amy ada Ayahnya! Memangnya Amy amuba yang bisa membelah diri, memiliki anak tanpa pembuahan alias ewidwod? Sudah tua masa iya harus di jelaskan yang seperti itu," Sindir Jhon sembari melirik sinis kearah Ayahnya.
Amy masih tidak ingin mengatakan sepatah katapun, entah kenapa setiap kata yang keluar dari Ayahnya seolah menarik Amy untuk kembali teringat masa lalu hingga jantungan berdebar sangat cepat.
"Kalian berdua benar-benar ahli dalam berbicara lancang!" Bentak Ayah mereka.
"Mau bagaimana lagi? Mungkin sudah setelah pabrik," Ujar Jhon lagi-lagi menyindir Ayahnya.
"Diam! Jangan menjawab lagi! Apapun yang aku katakan, aku hanya ingin menasehati Amy sebagai seorang Ayah. Jangan begitu bangga memiliki anak tanpa menikah, apa tidak pikirkan bagiamana malunya di anak nanti saat memiliki akte hanya nama Ibunya?"
Amy tersenyum kelu, "Aku tercatat dari pasangan suami istri dalam akte, tapi entah kenapa aku merasa malu, dan berharap tidak lahir saja?" Gumam Amy sedih.
"Siapa bilang aku malu? Tidak tuh! Aku punya Ibu yang bodoh tapi dia sangat mencintaiku, dan aku juga punya Ayah kok!" Ucap Jeje tiba-tiba entah sejak kapan dia datang, dan di belakangnya ada Heinry yang terlihat suram entah apa yang sedang dia pikirkan.
Ayahnya Amy menelan salivanya sendiri melihat Jeje datang membela Ibunya, lalu melihat kebelakang Jeje yang adalah Heinry. Tentu saja Ayahnya Amy tahu siapa itu Heinry, karena sekitar dua tahun lalu dia pernah mengajukan proposal kerja sama tapi ditolak mentah-mentah.
Melihat wajah Jeje yang mirip dengan Heinry, rasanya dia benar-benar seperti mati kutu sekarang.
"Ayah, aku harus panggil dia siapa? Kakek buyut?"
Heinry terus menatap Ayahnya Amy, dan menghela nafas mendengar pertanyaan putrinya.
"Entahlah........" Ujar Heinry.
Ayahnya Amy segera mengubah ekspresi wajahnya menjadi sangat perhatian melihat Jeje datang dan menyambutnya dengan hangat.
"Apa kau anaknya Amy? Perkenalkan, aku adalah Kakekmu, senang bertemu dengan mu," Ayahnya Amy kembali tersenyum dengan ramah tali sayangnya Jeje sama sekali tidak menyukai wajah palsu itu.
"Ayah..... Kenapa kakek ini menggunakan dua wajah? Aku takut, Ayah......" Yah jelas saja Jeje sedang mengejek kakeknya sendiri.
Heinry membawa putrinya dan menggendongnya.
"Tuan, anak saya masih terlalu kecil untuk bisa bersikap sopan seperti seharusnya, tolong maafkan anak saya." Ucap Heinry.
"Ah, tidak masalah!" Ayahnya Heinry kembali tersenyum.
"Tentu saja harus begitu, sebagai orang yang dewasa, seharusnya memang tahu bagiamana caranya bersikap, semoga kita tidak seperti anak-anak ya, Tuan?" Ucap Heinry dengan tatapan matanya yang membuat Ayah Amy tertekan.
Bersambung.