
Jhon memaksakan senyumnya, dia mencoba untuk terlihat sopan bagaimanapun suasana hatinya saat itu.
"Saya datang atas permintaan, Presdir Heinry. Presdir mengatakan kepada saya bahwa, dia tidak ingin istrinya sedih seperti berapa saat stelah anda menemui istrinya Presdir. Karena tujuan anda menemui istri Presdir karena keuangan, maka saya datang untuk memberikan uang kepada anda. Tapi, dengan catatan, anda tidak boleh lagi menghubungi, menemui Nyonya Presdir hanya karena urusan materi. Presdir juga meminta agar anda, mengontrol lebih anak anda yang lain, termasuk anak tiri untuk tidak menemui Amy, dan jangan membawa nama Amy apapun masalahnya."
Ibunya Amy mengeryitkan dahinya.
"Maksudnya, Amy ingin memutuskan hubungan denganku yang adalah Ibunya sendiri?"
Jhon menggelengkan kepalanya.
"Salah, saya datang bukan karena Nyonya Presdir, tapi Presdir Heinry. Dalam surat perjanjian adalah, anda dilarang menemui Nyonya presdir jika anda datang untuk meminta Materi. Namun, jika anda datang untuk silaturahmi dan melihat keadaan Amy serta cucu anda, maka anda bisa melakukanya."
Ibunya Amy terdiam sebentar, dia memikirkan benar bagaimana sulitnya hidup selama ini. Dia pikir, dia akan mulai mencoba untuk dekat dengan Amy sehingga Amy bisa membatunya dengan jangka panjang. Sekarang, dia benar-benar sadar kalau dia terlalu jahat dan tidak berperasaan benar. Tapi mau bagaimana lagi? Dia selalu kesulitan, selalu saja tertekan karena keadaan ekonomi yang payah.
"Jangan memperlihatkan wajah sedih anda seperti itu, Nyonya. Saya tahu benar apa yang sedang anda pikirkan, tapi bukankah Anda juga akan mendapatkan uang yang tidak sedikit? Uang yang di berikan oleh Tuan Heinry tidaklah sedikit, Nyonya." Ucap Jhon sopan. Ah, sebenarnya di dalam hati dia benar-benar benci sekali melihat wajah Ibunya Amy yang dengan teganya telah membiarkan Amy kesulitan dalam hidup, dan tidak mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan yaitu, kasih sayang dan sedikit saja perhatian dari seorang Ibu. Yah, untunglah meskipun tidak hidup dengan Ibu, nyatanya Amy benar-benar berhasil menjadi Ibu yang baik untuk Jeje.
"Berapa uang yang akan aku dapatkan?" Tanya Ibunya Amy.
Jhon menghela nafasnya, sungguh dia merasa miris karena nyatanya, uang bisa menggantikan apapun.
"Delapan ratus juta, jumlah ini lebih banyak dibanding mantan suami anda yang adalah, Ayahnya Amy. Anda sudah melahirkan Amy di dunia ini, tentu dengan mempertaruhkan nyawa anda jadi. Tuan Heinry berpesan, anda benar-benar tidak boleh datang kepada Amy, dilarang menunjukan kesedihan anda, terutama kesulitan finansial. Tuan Heinry ingin benar-benar istrinya hidup dengan baik, dan juga bahagia "
Ibunya Amy mengangguk cepat. Bagaimanapun, uang sebanyak itu datang dengan mudah mana mungkin akan dia tolak? Dia kira hanya akan dapat lima puluh atau seratus juta saja, tapi delapan ratus juta terlalu sulit untuk di tolak bukan? Dengan uang sebanyak itu, dia bisa membuka usaha makanan seperti yang dia inginkan dan tidak perlu mendekati Amy dan mengemis terus menerus padanya kan? Tempo hari dia sudah mendapatkan seratus juta lebih, jadi dia benar-benar akan berusaha sebaik mungkin agar dapat mengelola uang dengan baik.
"Baiklah, aku akan mengingat baik-baik pesan dari Heinry." Ujar Ibunya Amy.
"Nyonya, surat perjanjian ini juga memiliki isi yang sama seperti yang tertulis untuk mantan suami anda. Uang akan diterima di hari yang sama setelah anda memberikan tanda tangan, dan jika anda tidak mematuhi aturan yang sudah di sepakati, maka anda secara otomatis harus mengembalikannya kepada Tuan Heinry tanpa penawaran. Kalau anda tidak memberikan uang itu, maka rumah, atau apapun yang memiliki harga akan di tahan. Jika semua itu tidak ada, maka anda, suami anda, semua orang yang menikmati uang itu harus bekerja kepada Tuan Heinry tanpa gaji."
Ibunya Amy menahan salivanya sendiri, dia sungguh terkejut kalau konsekuensi yang harus didapatkan juga bukanlah main-main. Tapi, dia juga tidak mungkin menolak ubah sebanyak itu kan?
"Baiklah," Ucap Ibunya Amy yang merasa tak ada pilihan lain.
Jhon memberikan surat perjanjian itu. Padahal dia berniat ingin menjelaskan lebih detail tentang isinya, tapi Ibunya Amy sudah dengan cepat memberikan tanda tangan disana seolah sudah tidak sabar ingin mendapat uang sesegera mungkin.
Jhon menghela nafasnya, dia sampai tidak tahu harus mengatakan kepada Ibunya Amy.
Setelah masalah surat perjanjian itu selesai, Jhon mengatakan bahwa uang akan di kirimkan beberapa saat lagi.
Jhon kembali menghela nafasnya sebelum memulai untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan.
"Nyonya, kali ini biarkan saja berbicara sebagai kakak laki-lakinya, Amy." Ucap Jhon menatap Ibunya Amy dengan tatapan pilu.
"Selama ini, Amy sudah melewati begitu banyak luka. Di balik wajahnya yang kadang menyebalkan, bicaranya yang angkuh, sok pintar, dan los seperti tak punya rem, siapa yang akan menyangka kalau dia memiliki trauma yang mendalam? Untuk bisa menikah dengan Heinry, Amy melewati banyak masa tidak mengenakkan. Dia trauma akan hubungan terutamanya hubungan suami istri. Dia takut akan memiliki suami seperti Ayahnya, dia takut akan menjadi seperti Ibunya, lalu membuat anaknya terombang-ambing seperti seorang anak yatim. Heinry juga membutuhkan kerja keras untuk membuat Amy mengiyakan ajakan menikah darinya. Ah, mungkin jika bukan karena anak mereka, Amy pasti tidak ingin menikah seumur hidupnya. Sebagai seorang kakak, saya mohon dengan sangat kepada anda, Nyonya. Tolong, jangan melibatkan Amy dalam hidup anda sekarang, jangan menyeret Amy dan membuatnya teringat dengan trauma yang sedang dia coba untuk kalahkan. Tolong, biarkan dia hidup dengan bahagia tanpa harus minat hancurnya hubungan kedua orang tuanya."
Ibunya Amy menyeka air matanya, dia tidak mengelak kalau dia adalah Ibu yang buruk untuk Amy. Dia terlalu menganggap Amy kuat, dia tidak begitu memperdulikan Amy karena dia sibuk mengurus dirinya sendiri. Dia terlalu sibuk mencari kebahagiaan, dia terlalu mudah jatuh cinta, dia terlalu mudah terlena dan lupa dengan tanggung jawabnya sendiri. Seorang Ibu yang sangat buruk seperti dirinya, tentu saja tidak berhak menuntut anak yang tidak dia anggap selama ini kan? Kalau memang dengan memutuskan hubungan dapat membuat Amy lebih baik, maka dia juga hanya bisa melakukan hal itu.
"Tolong jangan salah paham lagi, Nyonya. Saya tidak melarang anda untuk datang kepada Amy dan keponakan saya. Yang saya inginkan hanyalah, tolong jangan menunjukkan kesedihannya anda tentang hubungan anda, jangan memperlihatkan kemiskinan anda. Walaupun memang benar, Amy adalah anak yang anda lahirkan. Nyatanya anda jugalah yang telah membuatnya merasa yatim sejak kecil. Dia pantas bahagia seperti anda yang terus mencari cinta yang Anda inginkan bukan?"