
Kembali ke gedung pernikahan.
Amy minat jam dinding yang tergantung di dinding sembari membatin di dalam hati, kenapa Heinry masih belum juga sampai?
Amy terdiam dengan segala pemikirannya. Kenapa Dia berdebar tidak jelas begini? Apakah Heinry tiba-tiba saja mendapatkan ingatnya kembali dan berubah pikiran? Apakah Heinry lari dari pernikahan? Kalau memang benar, haruskah dia menemukan satu pria untuk menggantikan Heinry lalu hidup bahagia bersama pria pengganti seperti kebanyakan dalam novel dan drama?
Duh, perlukah dia benar-benar melakukan itu sekarang? Jadi, haruskah dia segera bangkit dan mencari pria pengganti yang akan dia gunakan untuk menggantikan Heinry nanti?
Tapi, dengan pakaian yang super ribet itu dia jelas tidak akan nyaman kalau banyak bergerak bukan?
Amy kembali melihat ke arah Jam, Jeje, Nenek fan juga Jhon juga melakukan hal yang sama.
Sungguh! Mereka juga berpikir yang sama sekarang ini.
"Nek, apa mungkin Heinry tiba-tiba tidak ingin menikah denganku? Kalau iya, seharusnya dia tidak melakukan ini sejak awal bukan?" Kesal Amy. Tentu saja kesal yang dia rasakan adalah rasa malu jika saja apa yang dia takutkan terjadi.
Nenek memaksakan senyumnya, menatap Amy dengan tatapan lembut. Sungguh Nenek juga merasakan takut yang sama, tapi dia mencoba untuk tidak berpikir sebegitu jauh dulu agar Amy juga tidak perlu merasa panik untuk hal yang tidak perlu.
"Mungkin saja dia sudah menunggumu di luar kan?" Ujar Nenek membuat Amy sedikit merasakan lega di hatinya.
Jeje menunduk takut, sungguh dia takut kalau Ayahnya tidak datang dan akan membiarkan Ibunya di sana menahan sedih.
Apakah aku melakukan kesalahan besar dengan memaksa Ibu untuk menikahi Ayah?, Batin Jeje yang merasakan apa yang di rasakan keluarganya.
Upacara pernikahan di mulai.
Amy tidak lagi bisa menahan diri disana, dia harus keluar dan melangsungkan pernikahan.
"Aku bukan Ayahmu, tapi aku rasa aku adalah orang yang paling berhak untuk mengantarmu kepada pria yang akan menjadi suamimu kan?" Ucap Jhon seraya menyerahkan lengannya untuk di gandeng oleh Amy.
Amy tersenyum meski sempat berdecih sebal. Dia meraih lengan Jhon dan menggandengnya menuju pintu keluar.
Jhon dan Amy sudah berjalan bersamaan, semua mata tertuju padanya namun, tidak ada Heinry disana.
Amy dan Jhon kompak terdiam dan merasakan takut yang sama.
Ibunya Heinry seperti sedang terlihat begitu panik, dia mencoba untuk menghubungi seseorang, apakah dia sedang menghubungi Heinry?
Amy mulai tertunduk lemas, semua tamu undangan juga celingukan mencari keberadaan Heinry yang tak terlihat sama sekali.
Jhon mengeraskan rahangnya,"Sialan! Jangan-jangan, dia sengaja melakukan ini hanya untuk balas dendam padaku yang terus mencoba untuk memisahkan kalian berdua sebelumnya. Awad saja kau, Heinry. Kau mempermainkan kami, artinya kau juga tidak sayang dengan nyawamu!" Maki Jhon pelan.
Amy menghela nafasnya,"Sudahlah, kak. Sejak awal aku juga sudah tidak yakin sama sekali. Masalah malu, aku sudah terbiasa dan aku hampir tidak punya rasa malu jadi, jangan khawatir karena aku akan baik-baik saja." Ucap Amy mencoba untuk menenangkan kakaknya.
"Nyonya, dimana mempelai prianya?"Tanya seorang pria yang bertugas untuk megesahkan mereka untuk menjadi suami istri.
"Tunggulah sebentar lagi, dia pasti sedang terjebak macet!" Ucap Ibunya Heinry yang sebenarnya juga benar-benar tengah merasa ketakutan dan khawatir sekali. Dia sudah mencoba untuk menghubungi Heinry berkali-kali, tapi nyatanya masih saja tak mendapat jawaban dari Heinry.
Dua puluh menit acara pernikahan di undur, Amy sudah benar-benar pasrah tak ingin melanjutkan pernikahan yang tidak juga dia inginkan.
"Sudahlah, ayo kita kembali saja!" Ucap Amy yang mencoba untuk tersenyum saat Jhon melihatnya. Tentu dia sedih, tapi mau bagaimana lagi?
"Tunggu!"
Semua orang menoleh padanya.
Heinry datang sembari terengah-engah, pakaiannya kusut, tapi dia mencoba untuk mengatur nafasnya dan penampilannya agar terlihat sedikit saja lebih rapi.
Semua keluarga menghela nafas lega, akhir Heinry datang!
"Dasar bajingan!" Maki Amy pelan karena kekesalan yang dia rasakan.
Pesta pernikahan mulai di langsungkan, dan sejak itulah Heinry terus menatap Amy yang benar-benar terlihat jauh lebih cantik dari biasanya.
"Kau bajingan!" Ucap Amy yang mendapatkan respon berupa senyuman dari Heinry.
Sumpah pernikahan di ambil, semua berjalan dengan lancar dan baik seperti yang di inginkan.
"Silahkan anda bisa saling mencium."
Amy berhadapan dengan Heinry, menatap Heinry dengan satu sisi bibirnya yang naik ke atas. tatapan matanya terlihat kesal, tapu justru membuat Amy terlihat sangat lucu di mata Heinry.
"Berciuman ya?" Amy tersenyum, menatap kedua bola mata Heinry dengan tatapan mengancam membuat Heinry terdiam karena bingung.
"Kenapa ekspresi mu begitu?" Tanya Heinry pekan.
"Mari kita lihat, kira-kira bagaimana respon semua orang saat kau menikahi wanita yang otaknya jurang waras."
Amy meraih wajah Heinry sedikit kasar, dia bukan mencium seperti kebanyakan sepasang pengantin di hari pernikahan melainkan, Amy menjulurkan lidahnya dan menjilat bibir Rodez!
Hemp!
Amy terkekeh pekan setelahnya, namun semua orang yang menyaksikan terhibur oleh sikap Amy.
"Pantas saja Heinry menolak semua wanita yang mendekatinya, rupanya dia memilih wanita yang humoris dan mampu membuatnya tak bisa berkata-kata ya?" Seperti itulah yang di dengar Amy.
Hah .....
Padahal bukan itu tujuan, Amy!
Heinry menang terkejut, tapi dia tidak masalah dengan apapun, yang paling penting mereka sudah menikah selatan.
"Selamat untuk kalian!"
Heinry tersenyum menatap Amy, tapi, matanya benar-benar sudah tidak sanggup lagi bertahan dan bruk!
Heinry menjatuhkan dirinya di pelukan Amy.
"Aku bahagia sekali," Ucapnya lirih.
Ibunya Heinry melotot kaget! Apakah karena Heinry benar-benar kurang tidur?
"Hei, jangan banyak tingkah!" Ucap Amy, lalu tak sengaja melihat rambut Heinry yang basah tidak biasa. Amy menyentuh rambut Heinry, kau melihat telapak tangannya.
Darah!
"Kak, Heinry berdarah!" Ucap Amy panik.
Semua orang bergegas untuk berlari mendekati Heinry agar bisa menolongnya.
Beberapa saat kemudian.
Amy dan yang lain duduk di kursi tunggu, menunggu Heinry yang kini tengah mendapatkan perawatan untuk lukanya.
"Heinry pingsan begitu saja setelah aku jilat, apakah air liurku berair?" Tanya Amy yang begitu merasa bersalah.
Gaun pengantin yang melekat di tubuhnya masih tak sempat dia lepaskan sehingga dia cukup menjadi pusat perhatian disana.
Jhon membuang nafasnya," Jangan asal bicara, pasti terjadi sesuatu dengan Heinry sebelum datang ke pernikahan kalian tadi."
Orang tuanya Heinry tidak bisa diam sejak tadi. Dia terus mondar mandir tidak merasakan tenang barang sedikitpun.
Bersambung.