
"Aku mendapatkan informasi dari teman Amy, dia juga anaknya dosen yang mengajar kelas mereka. Amy sudah tidak lagi kuliah di sini, katanya sih Amy pergi ke negara X untuk melanjutkan kuliah di sana." Ucap Jhon kepada Heinry yang sudah beberapa hari ini terus membuat Jhon tidak tenang karena beberapa hari terakhir Heinry terus menerus meneror Jhon untuk mendapatkan informasi tentang keberadaan Amy.
Mendengar ucapan Jhon, Heinry benar-benar terdiam membeku tidak percaya kalau perempuan yang sebelumnya begitu menempel seperti kuman parasit tiba-tiba saja menjauh bahkan sudah ada di luar negeri sekarang.
"Perempuan gila itu, dia, jangan bilang dia sudah hamil?"
Sekarang giliran Jhon yang terkejut, menatap Heinry dengan tatapan kesal.
"Heinry, kau, kau benar-benar menghamili adik ku?! Walupun memang selama ini dia yang terus berteriak minta untuk di hamili, bukan berarti kau benar-benar menghamili dia!" Jhon sudah akan meraih kerah kemeja yang di gunakan Heinry, tapi dengan cepat Heinry menepis tangan Jhon.
"Si siapa?! Aku cuma heran saja kenapa siluman itu tidak pernah muncul, alasanku terus mencarinya adalah karena,"
Jhon menatap Heinry dengan tatapan serius, dia benar-benar tidak akan melepaskan Heinry tidak perduli hubungan baik mereka selama ini. Walaupun memang benar dia dan juga Amy tidak sedekat itu, tapi Jhon termasuk satu-satunya kakak yang terus memperhatikan Amy. Dia dan Amy memang berbeda Ayah, tapi bukan berati mereka juga harus sebegitu jauhnya bukan?
"Karena apa?" Tanya Jhon saat Heinry tak kunjung melanjutkan apa yang ingin dia ucapkan.
Heinry menelan salivanya, sialan! Mana mungkin dia mengatakan yang sebelumnya? Tapi alasan apa yang bisa dia gunakan untuk membohongi Jhon yang terlihat begitu mencurigainya?
"Itu, itu karena, adik mu, siluman betina itu, dia, mencuri celana dal*m ku!"
Jhon mengeryit menatap heran, satu sisi bibirnya naik saat dia memikirkan ucapan Heinry yang begitu aneh? Aneh? Ya ampun..... kalau saja itu adalah gadis lain, mungkin saja akan terkesan aneh, tapi yang sedang di bicarakan adalah Amy. Adiknya itu benar-benar di luar nalar sifatnya, juga bukan hal yang aneh kalau Amy sangat tidak tahu malu kan?
"Kau tahu bagiamana gilanya otak adik mu itu kan? Tidak perduli waktu dan tempat selalu saja minta di hamili. Aku ini adalah korban dari kejamnya siluman betina yang menyebalkan, belum lagi mulutnya yang tidak ada rem, aku benar-benar tidak bisa percaya kalau akan ada manusia setengah siluman seperti dia di dunia ini."
Jhon menatap Heinry dengan tatapan kesal, membuat Heinry menelan saliva merasa bersalah telah mendeskripsikan adik dari sahabatnya itu dengan sangat buruk.
Jhon mencengkram lengan Heinry, dan Heinry benar-benar hanya bisa pasrah karena memang ucapannya tadi berlebihan.
"Berani sekali kau mengatai adikku begitu?! Tapi, setelah aku pikirkan lagi, ucapan mu memang benar." Jhon melepaskan tangannya, menghela nafas karena dia ingat benar bagaimana Amy dan segala tingkah polahnya.
Heinry mengusap lengannya yang terasa agak panas.
"Ngomong-ngomong, apa kau tanya di mana adikmu tinggal?"
Jhon kembali menatap Heinry dengan tatapan kesal.
"Ja jangan salah paham! Aku bertanya dia sedang di mana karena aku harus mengambil kembali celana dal*m ku!"
Jhon benar-benar tidak habis pikir, sebenarnya apa begitu penting celana itu? Bukankah seharusnya yang paling penting adalah isi di dalamnya? Amy tidak segila itu sampai harus membawa lari kain pembungkus kemoceng kan? Amy adalah perempuan yang tidak biasa, tentu saja dari pada mencuri celana dal*m dia pasti akan lebih memilih untuk membawa kabur kemoceng Heinry, beserta empunya.
Heinry menutup mulutnya rapat-rapat, sialan! Kenapa dia harus menjawab dengan alasan itu!
Setelah hari itu, Heinry benar-benar tidak bisa tenang, dia bahkan tidak fokus saat mengerjakan apapun membuat orang-orang di sekelilingnya merasa keheranan. Mulai dari sibuk mencari ponsel padahal ponsel sedang dia pegang, bahkan pagi ini dia salah memasukkan saus hingga berakhir dengan sakit perut karena memakan saus cabai. Untung saja Heinry masih tidak lupa di mana letak mulut jadi tidak sampai salah menyuapkan makanan, dia juga tidak lupa bernafas untungnya.
Heinry yang sudah tidak tahan dengan kegilaan atas sikapnya sendiri menjadi membulatkan tekadnya untuk menemui Amy dan membicarakan entah apa yang penting dia akan merasa lega nantinya.
Setelah benar-benar yakin Heinry pergi menemui orang tuanya yang tengah sibuk mempersiapkan segala tentang Pertunangan Heinry dan Cheren yang rencananya akan di gelar akhir bulan di bulan depan nanti.
Awalnya Heinry benar-benar merasa ragu, tapi setelah cukup lama berada di dekat kedua orang tuanya, Heinry memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.
"Ibu, Ayah, aku ingin pergi berlibur ke luar negeri, apa tidak masalah?"
Kedua orang tua Heinry berhenti sejenak dari apa yang sedang mereka lakukan yaitu, memilih menu makanan untuk acara pertunangan Heinry nanti. Mereka saling menatap seolah menduga bahwa kepergian Heinry pasti karena ada janji dengan Cheren kan? Orang tua Cheren juga mengatakan kalau Cheren akan pergi ke luar negeri selama beberapa waktu karena di sana juga ada kakaknya Cheren.
Ibunya Heinry tersenyum dengan pipinya yang merona membuat Heinry mengeryitkan dahi kebingungan sendiri. Kenapa wajah Ibunya memerah? Apakah mungkin Ibunya sedang bernostalgia saat sedang bulan madu bersama Ayahnya di luar negeri? Cih! itu terlalu kekanakan sekali bukan?
"Tentu saja boleh, mau berapa lama?" Tanya Ibunya Heinry masih saja menunjukkan wajah aneh itu membuat Heinry tak habis pikir tapi juga mau banyak berpikir apalagi memikirkan hal yang tidak penting baginya.
"Hanya tiga atau empat hari saja." Jawab Heinry karena memang begitulah yang dia inginkan.
Ibunya Heinry menghela nafasnya.
"Duh! kau ini bagaimana sih? Pergilah dua atau tiga Minggu, kau kan jarang liburan, kali ini kau pergi untuk bersenang-senang jadi tidak ada salahnya memiliki masa lebih lama kan?"
Heinry benar-benar tidak mengerti apa maksud ucapan Ibunya, dia heran dan bingung tapi juga terlalu malas bertanya dan bicara.
"Benar, kau juga sudah dewasa jadi tidak usah selalu serius dalam segala hal. Sesekali kau juga harus menjadi pria yang bebas supaya kau bisa merasakan sesuatu yang berarti di hidupmu."
Heinry benar-benar hanya bisa menggeleng keheranan karena apa yang di bicarakan oleh kedua orang tuanya benar-benar begitu ambigu.
Ini, apakah mereka tahu kalau aku akan menemui wanita yang memperkosa ku?
Memikirkan itu tiba-tiba saja Heinry terlihat sulit mengontrol wajahnya yang memerah. Memperkosa? Bagaimana bisa di sebut memperkosa kalau nyatanya itu tidak akan terjadi saat si kemoceng tidak bangun?
Bergabung.