
"Kau, kau pasti hanyalah asistennya Heinry kan? Jangan bersikap sok paling kenal Heinry! Kami ini adalah teman lama, kenapa kau begitu repot? Kau pasti sudah menganggu bosmu sejak lama kan? Yah, sayang sekali! Sejak dulu, Heinry memang orang yang sulit untuk di dekati. Iya kan, Heinry?" Wanita itu berbicara dengan ekspresi wajahnya yang terlihat merendahkan Amy, tapi begitu menatap Heinry, dia akan menunjukkan wajah bak hello Kitty yang dadanya ingin Amy Jambak bulu hidungnya, lalu melemparkan wanita tidak tahu malu itu sampai ke Uranus!
"Teman lama saja? Wah, sayang sekali ya? Berarti aku adalah orang pertama dan terakhir dong yang tahu bagaimana rasanya ewidwod bersama Heinry? Sampai kami memiliki anak yang super cantik, dan Heinry masih saja tidak mudah di dekati wanita lain. Ah, kalau begini, aku sih tidak perlu khawatir dong? Rasanya, kalaupun kau berdiri di hadapan Heinry yang adalah suamiku dengan keadaan tidak berbusana, Heinry ku pasti hanya akan berdecih dan mengatakan, ah punyamu jelek! terlalu rimbun! Atau, ah gundul seperti tuyul! Bagus juga punya Amyku tersayang......"
"Hah? Gi gila! Dia dasar, wanita tidak waras!"
Heinry menahan tawanya, aduh! Dia benar-benar tidak tahan lagi sekarang!
"He Heinry, wanita gila itu bicara apa sih?" Tanya wanita itu dengan ekspresi wajahnya yang terlihat bingung dan penuh tanya.
Heinry mengambil nafas dan tersenyum sembari membunuh nafasnya. Ditatapnya wanita yang katanya adalah teman sekolah menengah atas, lalu berkata,"Wanita yang aku sebut gila, dia adalah istriku. Ibu dari anak gadisku!"
Hah?
Wanita itu ternganga tidak percaya. Dia kembali melihat Amy dan me atap Heinry seolah tidak percaya. Tidak, bukan karena wajah Amy yang tidak lantas, tapi dia masih tidak percaya kalau Heinry yang susah di dekati justru sudah menikah, dan sudah punya anak pula.
Bagi para penduduk di negara dia tunggal sekarang, tipe seperti Amy adalah tipe idaman. Tubuh kecil, langsung, kulit sawo matang, rambut yang agak coklat, matanya juga agak coklat. Sungguh idaman sekali, dia bahkan juga menginginkan warna kulit yang seperti Amy.
Ah! Bukan itu masalahnya sekarang! Yang masih tidak dia percaya adalah, kenapa Heinry bisa doyan wanita? Padahal dia kira, Heinry adalah kaum belok!
"Ya ampun!" Ucap wanita itu sembari terbengong masih tidak ingin percaya dengan pengakuan keduanya.
"Kenapa? Kau iri ya? Duh! Kasihan sekali, pasti kau ingin bunuh diri ya?" Ledek Amy dengan penuh percaya diri.
Wanita yang namanya adalah, Lorita itu benar-benar hanya bisa menggeleng keheranan.
"Benar! Aku benar-benar kaget sampai ingin bunuh diri! Aku masih tidak percaya, apa kau yakin milik Heinry bisa bangun?" Tanya Lorita yang kini justru menggeser bangkunya untuk lebih dekat dengan Amy.
Eh? Reaksinya, kenapa tidak seperti orang yang iri sih?! Batin Amy bingung.
"Kau, sekarang kau yang bicara apa?!" Protes Heinry tidak terima mendengar pertanyaan Lorita.
"Bagaimana bisa aku percaya?! Sejak sekolah, kau hanya berdiam diri, menjauh saat ada gadis yang mendekatimu, bahkan aku dengar, saat kuliah, dan lulus kuliah, kau juga masih menolak wanita! Memang orang normal mana yang tidak mengira kau itu belok?"
Hah?
"Jadi, kau tadi juga berpikir begitu?" Tanya Amy yang kini jadi keheranan dengan Lorita.
Lorita mengangguk dengan cepat seraya menatap Amy dengan sangat serius.
"Aku tentu saja masih ingat wajahnya, karena dia adalah anak laki-laki yang paling aneh! Aku pernah mendekatinya, aku hanya ingin berteman, tidak lebih! Tapi dia malah melemparkan sepatunya padaku, kau tahu sekarang bagaimana dia keterlaluan bukan? Bagaimana aku bisa melupakan wajah pria sialan yang melemparkan sepatu padaku?!" Ucap Lorita dengan menggebu-gebu membuat Amy dan Heinry kompak kebingungan.
"Jadi, kau gadis aneh itu ya? Kau menyukai Jhon, dan kau ingin menjadikan ku teman hanya hanya untuk mencari tahu semua tentang Jhon?"
Lorita melotot kesal, dia sudah mengangkat satu sendok di meja siap untuk dia lemparkan kepada Heinry. Ah, tapi tidak jadi karena takut juga nanti dia akan mendapatkan masalah karena sudah mengusik orang kaya.
"Jhon?" Tabah Amy bingung. Tidak mungkin Jhon kakaknya itu kan? Pria sialan yang terus saja membuat kesal itu, bagiamana mungkin ada wanita secantik Lorita yang menyukainya.
Eh?
Amy menatap Lorita dengan tatapan keheranan.
"Kenapa kau menyukai kakakku yang aneh itu?"
Lorita menelan salivanya sendiri, duh! Padahal, barusan dia sengaja menghampiri Heinry, sok kenal dan sok akrab karena ingin menanyakan kabarnya Jhon, tapi malah sudah terbongkar lebih dulu Kisah cinta monyet piyik di masa sekolah mereka.
"Sudahlah, kau sudah tua. Kau pasti sudah punya keluarga kan?" Ucap Amy kelepasan, dan sekaligus membuat Lorita kesal.
Lorita membuah nafasnya lalu berkata,"Usia tiga puluh bukan tua namanya! Sekarang aku dalam usia matang, walaupun aku sudah pernah gagal menikah, tapi aku jadi tahu kalau kemarin itu aku terlalu buru-buru jadi gagal dalam pernikahan."
Amy mengangguk sok paham saja.
"Wah, di usia sekarang kau sudah menjadi janda ya?" Tanya Heinry yang sebenarnya juga tidak begitu perduli dengan apa yang tejadi kepada Lorita.
"Mau bagaimana lagi? Berpacaran tiga tahun, baru menikah tiga bulan, aku sudah bercerai."
Brep!
Amy menyemburkan minuman yang baru saja dia seruput membuat Lorita dan Heinry terkejut.
"Tiga bulan? Pernikahan kalian singkat sekali ya? Aku jadi agak ngeri deh!" Ujar Amy.
Heinry menatap Amy, dan dengar mimik serius Heinry mengatakan ,"Ayolah, aku akan mneceriakan mu tuga ratus tahun setelah kita menikah."
Amy memaksakan senyumnya, uluh uluh.... Gombalan yang sangat membagongkan sekali!
"Cih! Mantan suamiku itu memang bajingan, aku saja yang terlambat tahu. Ternyata setelah tiga tahun lebih kita saling kenal, aku baru tahu kalau dia bukan hanya suka lubang perempuan saja, tapi dia juga suka main pedang-pedangan! Sialan! Kalau ingat itu, aku jadi tidak berselera untuk makan! Aku benar-benar tidak bisa berhenti merasa jijik dengan pria itu! Bagaimana bisa setelah menggunakan lubangku, dia menggunakan lubang belakang partner pedang pedangannya? Ah! Sialan!" Ucap Lorita dengan begitu frustasi.
Amy mengambil kembali gelas airnya, meminum hingga habis, lalu menggeser piring spaghetti miliknya. Begtu juga dengan Heinry.
"A aku, ja jadi tidak lapar...." Ucap Amy dengan mimik wajahnya yang terlihat pucat.
Ah! Dia terlaku jijik membayangkannya!
Heinry mengangguk setuju.
"Sialan kau! Seharusnya, tidak perlu juga kau ceritakan bagian itu! Aku, sungguh tidak perduli dengan kehidupan mu! Aku tidak ada hubungannya dengan urusan rumah tanggamu tapi, kenapa kau merusak momen makan malam romantis ku bersama istriku?!" Protes Heinry kesal.
Lorita berdecih kesal.
"Itu makanya aku mengganggu! Aku tidak suka ada pasangan yang romantis!"