One Night Special

One Night Special
Saling Mengancam



"Ibu, kemarin aku jalan-jalan bersama Ayah dan Kakek, banyak orang yang mengatakan kalau kami bertiga mirip sekali loh, jadi mereka semua tahu kalau kami ini adalah tiga generasi!" Ucap Jeje bercerita kepada Ibunya sebelum mereka berdua tidur.


Amy memaksakan senyumnya, sungguh dia tidak bisa berkata-kata dalam hal ini. Tentu saja maksud Jeje mengatakan itu adalah untuk memberikan kode untuknya.


"Semua orang bertanya kemana Ibuku, jadi aku hanya diam saja dan sedih. Coba deh kalau aku pergi bersama Ayah dan Ibu, pasti akan sangat seru kan?"


Yah!


Tentu saja Amy sudah tahu beginilah tujuan dari ucapan Jeje.


"Sejak kapan kau gampang sedih, Jeje kesayangan Ibu? Bukanya kau pernah mengatakan kepada Ibu bahwa, jika saja bumi remuk di depan matamu kau tidak akan sedih?"


Eh?


Jeje terdiam sebentar, perasaan ucapan itu kan karena dia sedang kesal kepada Ibunya yang terus saja membuatkan makanan yang sangat tidak layak dimakan.


"Kalau bumi remuk artinya aku juga pasti akan remuk dan mati bersamaan kan? Ngomong-ngomong soal mati, bukanya rugi sekali saat mati dalam keadaan sedih?"


Aduh duh!


Amy benar-benar bingung sekali, sejak kapan anaknya menjadi begitu hebat dalam kata-kata puitis seperti ini?


Cih! Apa-apaan sih? Ini pasti perbuatan si Heinry siluman bekicot sialan itu!


"Sudahlah, jangan membicarakan tentang remuknya bumi toh remuknya hati Ibu hari ini bahkan lebih parah dari pada bumi yang remuk," Ujar Amy mengingat bagaimana kacaunya hari ini.


Jeje menoleh, menatap Ibunya yang berbaring disebelahnya.


"Memang apa yang terjadi pada Ibu?" Tanya Jeje penasaran.


Amy menghela nafasnya, tidak mungkin kan dia menceritakan segalanya kepada putrinya? Yah, walaupun Amy menganggap Jeje adalah satu-satunya orang yang hanya akan menjadi segalanya, tapi nyatanya dia juga harus merahasiakan beberapa hal agar sesuatu yang dia anggap segalanya akan tetap hidup dengan bahagia dan selalu akan menjadi segalanya untuk Amy.


"Tidak ada sih, hanya saja Ibu ingin berperan sebagai penyihir justru tidak sengaja menjadi si malaikat bersayap! Duh! Mengingat hal itu Ibu jadi kesal," Gumam Amy yang tentu saja dapat didengar dengan jelas oleh Jeje.


Jeje menghela nafas leganya membuat Amy menatap kearahnya dengan tatapan bertanya,"Kenapa menghela nafas begitu?"


"Aku sempat khawatir dengan Ibu karena baru saja bertemu dengan kakek aneh itu, tapi melihat cara berpikir Ibu yang kurang masuk akal, sekarang aku jadi tahu kalau Bu baik-baik saja dan tidak merasa sedih karena si kakek tadi!"


Eh?


Ugh!


Ya ampun!


Sebenarnya kapan dia akan menjadi Ibu yang memiliki pemikiran tidak aneh dan normal di mata putrinya sendiri?


Besok paginya.


"Selamat pagi?"


Amy membeku melihat Heinry datang pagi sekali, tersenyum begitu lebar memberikan barisan giginya yang rapih dan putih.


Alamak.......


Heinry tersenyum begitu lebar apakah dia tidak tahu kalau kerlingan giginya menyilaukan mata melebihi silaunya sinar matahari!


"Pagi-pagi sekali sudah datang, Tuan Heinry ini memang orang yang tidak kenal yang namanya tidak enakan ya? Datang sepagi ini bukan untuk meminta sarapan kan?" Tanya Amy dengan senyum yang juga dia perlihatkan selebar mungkin, namun sudah jelas kalau yang di ucapannya adalah kalimat untuk meninju Heinry supaya cepat pergi dari sana.


Heinry tersenyum, dia datang juga bukan tanpa alasan. Sebenarnya dia ingin mencoba jurus Ayahnya dalam mendekati Ibunya dulu. Dalam mengejar wanita, hanya butuh tiga modal saja yaitu,tidak tahu malu! Tidak tahu diri!, dan modal nekad!


"Aku datang pagi sekali karena hari ini putri kita sudah boleh masuk sekolah, juga ingin sarapan bersama putri kita, dan Ibu dari putri kita kan?"


Ugh!


Apa-apaan itu? Putri kita? Ibu dari putri kita?


Kenapa kata-kata itu seperti belati yang menusuk pantat? Ah, salah! Dada, ulu hati, dan semacamnya!


Tunggu dulu!


Kenapa Heinry begitu tidak tahu malu? Apa dia sempat terjatuh, lalu otaknya jatuh di jalan saat dalam perjalanan kemari?


Amy menghela nafasnya,"Putri kita sedang mandi, dan karena Ibu dari putri kita tidak bisa memasak, maka mari kita sarapan dengan harapan, semoga saja Ibu dari putrimu dapat melenyapkan sesuatu yang menyebalkan!" Amy menunjukkan kembali senyum lebarnya, namun sorot matanya jelas mengatakan bahwa akan lebih baik jika Heinry pergi saja sekarang juga! Tidak ada yang bisa dimakan!


Heinry tidak goyah, dia tersenyum menatap Amy.


"Tenang saja, aku juga tidak mau kok menjadikan Ibu dari putri kita sebagai koki rumah. Hanya tinggal tunggu putri kita keluar dan kita bisa berangkat bersama untuk sarapan, lalu mengantarkan putri kita sekolah di hari pertama di sekolah yang baru," Ujar Heinry lalu kembali tersenyum membuat Amy membulatkan matanya karena dia juga mulai kesal dan sulit untuk ditahan.


Apa-apaan?! Sejak kapan Heinry jadi begitu mahir dalam mengolok-olok menggunakan bahasa yang manis tali terdengar begitu sialan?!


"Sekarang biarkan aku masuk kedalam dan duduk untuk menunggu putri kita selesai ya?" Heinry sudah mulai menggeser posisinya untuk masuk kedalam rumah, tapi secepat itu juga Amy menghalangi agar Heinry tidak bisa masuk.


"Tunggu dulu, Tuan Heinry! Lantai rumah kami belum sempat di pel, jadi tunggulah saja di teras dan pastikan tetap berdiri karena kursi teras juga belum di lap." Amy tersenyum.


Heinry terdiam sebentar,"Tenang saja, jangankan lantai yang belum di pel atau kursi yang belum di lap, aku bahkan tidak masalah kok duduk di tengah kubangan asalkan ada di dekat putri dan Ibu dari putriku,"


Eh? Ugh!


Sialan!, lagi-lagi dia di buat kesal dengan kalimat menjijikan itu!


"Jadi, bagaimana kalau kita masuk kedalam kamar untuk melakukan sesuatunya yang panas sebagai pengawal hari? Usia Tuan Heinry yang tampan ini kan sudah sangat matang dan hampir busuk, pasti sudah paham kan?" Tanya Mag seraya meraih dasi yang digunakan Heinry, sedikit menariknya dan berekspresi menggoda berharap Heinry akan merasa jijik atau gugup dan kabur setelahnya.


"Kenapa harus pakai bicara, kau hanya tinggal membawaku bersama kemana kau ingin pergi kan?"


Ugh! Mampus!


"Aku akan menciummu!" Ucap Amy yang dia pikir adalah ancaman.


Heinry tersenyum, lalu menundukkan wajahnya,"Nih! Kau boleh cium bagian yang kau sukai, menyentuh bagian lagi juga boleh kok!"


Tak jauh dari mereka.


"Paman, aku merinding!" Bisik Jeje dengan tatapan bengong.


"Aku ingin muntah, mendengar mereka saling mengancam dengan cara yang aneh seperti itu, gigiku gatal ingin mengigit mereka berdua sampai habis tak tersisa!"


Bersambung.