
Amy menghela nafasnya melihat Jhon yang benar-benar kesal dan harus bergerondel tidak jelas sejak tadi kepada dia dan juga Heinry.
"Bisa-bisanya, kalian memiliki ide gila seperti itu?! Kalau memang kalian tidak ingin lagi aku bekerja di perusahaan itu, seharusnya katakan saja secara langsung jadi aku bisa pergi secepat mungkin! Kalian, benar-benar membuat tekanan darahku naik sampai seribu!"
Heinry menggaruk pelipisnya, dia terlihat malas untuk menghadapi ocehan ocehan tidak jelas yang keluar dari mulut Jhon. Tapi, karena Jhon adalah kakak iparnya, ditambah Di sana juga ada istrinya, maka mau tidak mau Henry hanya bisa bersabar dan berpura-pura saja mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan oleh kakak iparnya.
"Jangan bilang, kalian berdua sengaja mendatangkan Lorita untuk menguji rasa cinta kalian berdua! Atau, kalian mendatangkan Lorita untuk menguji imanku yang tipisnya melebihi tisu?" Tanya Jhon sembari menatap Amy dan Heinry secara bergantian.
Amy kembali membuang nafasnya lalu berkata,"Kalau kau sangat gelisah seperti itu dengan keberadaan Lorita, bagaimana kalau kau nikahi saja dia? Toh, Lorita cukup cantik kok. Lagi pula, usiamu kan sudah tua nanti kau pasti akan kesepian kalau terus sendirian seperti itu," Ujar Amy dengan mimik wajahnya yang terlihat santai.
Jhon membuang nafas kesalnya, entah Sejak kapan adiknya itu berubah menjadi sangat keibuan sampai-sampai begitu sibuk memikirkan tentang dirinya. Walaupun Sampai detik ini dia masih belum menikah, bukan berarti dia tidak laku! Tentu saja Dia memiliki beberapa wanita yang rencananya akan dia seleksi dengan baik, dan baru akan menjalani hubungan dengan sungguh-sungguh. Menikah itu bukan asal menikah, menikah juga tidak cukup hanya dengan modal saling mencintai saja. Banyak contohnya di luaran sana, makan di media sosial dan berita televisi banyak bermunculan tentang kasus-kasus perumah tanggaan yang sangat mengerikan. Ada suami yang memukuli istrinya sampai istrinya meninggal, ada istri yang tega membakar suaminya sendiri sampai metong. Ada juga kasus pelecehan yang tidak kenal hubungan darah, dan kasus-kasus lain yang sangat mengerikan.
"Berhentilah untuk omong kosong! Aku masih belum siap untuk menikah, kalau memang ada yang harus menikahi Lorita, maka biarkan saja suamimu memiliki dua istri!" Seru Jhon membuat kedua bola mata Heinry melotot kaget.
Dua istri? Bahkan, memiliki satu istri saja dia sudah sering merasa sakit kepala seperti ini apalagi kalau dua? Memiliki satu istri memang terkesan biasa saja, tapi memiliki dua istri artinya harus siap mati kapan saja.
Di lain sisi, Heinry juga bukan orang yang mudah untuk jatuh cinta apalagi, sampai harus memikirkan tentang perselingkuhan. Baginya, Amy saja sudah lebih dari cukup. Tapi, Heinry akan coba untuk mengiyakan lebih dulu dan melihat bagaimana ekspresi istrinya. Kalau istrinya kesal dan cemburu, patutlah dia merasa bahagia.
"Kalau istriku mengizinkan, Tentu saja tidak ada salahnya untuk dicoba. Iyakan, sayang?" Tanya Heinry lalu tersenyum seolah-olah dia memang serius dan berharap benar tanggapan dari Amy.
Amy membuang nafas kasarnya, menatap suaminya dengan tatapan seolah dia sama sekali tidak percaya lalu berkata, "bicaralah yang masuk akal sedikit, Henry! Memangnya kau bisa melakukan semua itu? Kalau memang iya, Tentu saja aku akan mengizinkannya."
Ucapan dari istrinya yang begitu tegas dan percaya diri membuat Heinry benar-benar kehabisan kata-kata. Dia sungguh benar-benar membuang waktu untuk mendapatkan kecemburuan dari istrinya. Padahal, cemburu itu adalah simbol dari rasa cinta dan sayang bukan? kalau istrinya tidak pernah merasakan cemburu sama sekali, bagaimana dia tidak sedih? Jadi selama ini istrinya tidak mencintainya ya?
"Karena kalian juga tidak menginginkan Lorita, maka minta dia pergi dari perusahaan dan jangan mengganggu pekerjaanku dan konsentrasiku! kalian benar-benar harus memikirkan pegawai yang sangat kompetitif, jujur, baik dan loyalitas sepertiku." Pinta Jhon lagi.
Jhon mengerang kesal. Sungguh dia sampai tidak tahu harus bagaimana menjelaskan bahwa, dia benar-benar tidak nyaman dengan adanya Lorita di kantor. Okelah, kalau saja posisi yang diberikan kepada Lolita tidak harus membuatnya terus melihat dan berada di sekitar Lorita, Jhon pasti tidak akan mempermasalahkan hal itu bukan?
"Waktu, aku hanya sedang belajar berpacaran saja! Kau kan tahu kalau anak-anak muda zaman dulu maupun zaman sekarang suka sekali cinta-cintaan alis Cinta monyet? Kenapa kalian harus mempermasalahkan semua itu sih?!" Protes lagi Jhon.
Amy menaikkan satu sisi bibirnya, menatap kakaknya dengan tatapan jengah lalu kembali berkata,"bagus! monyet bertemu dengan monyet, lalu jatuh cinta dan menikah, bukankah itu seru? Cinta monyet, berakhir dengan pernikahan para monyet."
Jhon memijat tengkuknya yang benar-benar sakit karena terlalu banyak menahan emosinya seharian ini. Kalau saja adiknya sedang tidak mengandung seperti sekarang, dia benar-benar akan membuat perhitungan yang tidak main-main kepada adiknya serta adik iparnya itu.
"Itulah masalahnya!! terus berada di sekitar Lorita, mau tidak mau harus menatap wajahnya saat bicara, itu semua membuatku merasa bahwa aku dan dia sama-sama monyet!" Ucap Jhon dengan wajah marahnya lalu bangkit dari duduknya dan segera beranjak Pergi. Tentu saja dia tidak ingin banyak bertengkar lagi dengan adiknya yang super blong mulutnya, ditambah Heinry yang jarang bicara tapi sekali bicara seperti tidak punya perasaan sama sekali.
Melihat kakaknya pergi dengan kesal seperti itu, Amy benar-benar bernafas dengan lega.
"Dia tidak tahu ya kalau aku sebal sekali harus menghadapi dia?" Amy menghela nafasnya dengan mimik wajahnya yang terlihat. Sebenarnya, dia tidak ingin merasa sebel atau kesal dengan siapapun karena dia takut anaknya akan mirip dengan orang yang dia benci atau sebal. Akan tetapi, perasaan itu benar-benar sangat sulit untuk dikontrol olehnya.
Heinry enggan membahas soal itu, dia justru ingin mengambil kesempatan untuk menanyakan kapan mereka berdua bisa berada di jarak yang dekat seperti sebelumnya.
"Sayang, malam ini aku boleh tidur di,"
Amy menatap Henry dengan tatapan yang dingin lalu berkata,"Tentu saja boleh kalau tidur di kamar Jeje, Aku akan baik-baik tidur di kamarku sendiri, semoga mimpi indah ya?"
Heinry terperangah tak percaya, hanya bisa menatap punggung istrinya yang melenggang, menjauh meninggalkan dirinya dan menuju kamar yang biasa dia gunakan.
"Sepertinya, sampai lebaran monyet pun aku masih harus jaga jarak dengan istriku sendiri," Gumam Heinry yang terlihat sangat lesu.