
"Kau yakin dengan keputusan mu, Amy?" Tahu Jhon kepada Amy. Sesungguhnya dia masih tidak ingin membuatkan Heinry menikah dengan Amy. Pernikahan bukanlah hal yang sesimpel itu, pernikahan juga bukan solusi dari masalah melainkan membuka masalah baru.
Sama seperti Amy, hingga sekarang Jhon juga masih memiliki keraguan untuk menikah karena ketakutan akan menyakiti pasangan seperti yang Ayahnya lakukan. Dia takut akan ada air mata seorang wanita dan membuat wanita itu menangis sedih hingga matipun masih dalam keadaan sedih.
Amy menghela nafasnya, belakangan ini Amy bukannya tidak menyadari bagaimana Jeje begitu menginginkan sebuah keluarga, tepatnya saat dia tahu bahwa sebenarnya dia memiliki Ayah.
Dia masih tidak ingin menikah tapi, apakah keputusan itu memang adalah pilihan yang terbaik? Dia tidak ingin anaknya merasakan dampak dari trauma yang dia rasakan, dia tidak ingin anaknya memiliki kekhawatiran seperti yang dia rasakan apa lagi sebagai seorang Ibu dia cukup memahami bagaimana sifat anaknya.
Jeje, dia memang cukup dewasa di usianya yang masih kecil. Tapi kembali lagi, Jeje hanyalah anak kecil yang pada akhirnya juga akan memiliki sifat sesuai dengan usianya.
"Aku tidak ingin menikah, tapi aku juga yakin kalau Heinry tidak akan memiliki sifat seperti Ayah. Aku dilema dengan Heinry yang ingin menikahiku, apa alasan yang sebenarnya? Apakah hanya karena aku Ibunya Jeje? Atau tepaksa dari pada terus di jodohkan dengan orang lain? Ataukah, karena Jeje yang memintanya?" Amy tersenyum kelu.
Jhon berdecih sebal,"Cara bicaramu itu seolah-olah kau begitu mengharapkan cinta dari Heinry, padahal kalaupun Heinry menghilang kau juga tidak akan merasa kehilangan kan?"
Amy membuang nafas kasarnya. Iya, memang dia tidak tertarik kepada Heinry sama sekali dalam artian jatuh cinta. Tapi kalau senang melihat fisik Heinry yang dia cukup tertarik tapi masih seperti menyukai dengan rasa mengambang.
Nenek yang ada di sana juga ikut menghela nafasnya.
"Nenek mungkin bukan orang yang mengenal nak Heinry dengan baik, tapi, seperti yang kau katakan tadi nak, Heinry terlihat baik dan tidak seperti Ayahmu. Alasan kenapa dia ingin menikah denganmu tentu saja bagus untuk kalian bicarakan berdua saja. Tapi jika alasannya kuno semacam hanya karena rasa cinta saja, bagus untuk kau pertimbangkan."
Jhon menatap Neneknya dengan tatapan penuh tanya.
"Maksudnya nenek?"
Nenek tersenyum kelu, membayangkan apa yang ingin dia katakan rasanya dia benar-benar malu tapi, dia harus mengatakan itu demi kelangsungan hidup cucu dan cicitnya kelak.
"Dulu sekali, Nenek dinikahkan secara paksa dengan kakek kalian padahal usia Nenek baru saja tiga belas tahun. Kakek kalian sudah dia puluh lima tahun saya menikah. Nenek pikir hidup nenek sudah hancur, tidak ada masa depan lagi, Nenek hanya bisa berkutat di dapur, melayani suami, mengerjakan tugas rumah dan istri di usia yang baru beranjak dewasa. Nenek menangis tidak perduli waktu dan tempat, tapi Kakek kalian benar-benar selalu menenangkan dan mencoba untuk memahami keadaan Nenek. Perlahan Nenek mulai fokus dengan kebahagiaan yang kakek kalian berikan, Nenek mulai lupa dengan masa remaja dan bahagia dengan dunia Nenek sendiri." Nenek meraih tangan Amy dan menggenggamnya.
"Amy, Nenek tahu ada luka yang sangat besar dan dalam, luka yang seolah seperti terus berdarah dan tak pernah mengering. Kau tahu kenapa?"
Amy menggelengkan kepalanya.
"Karena kau terlalu fokus dengan luka itu, kau terus mengingat luka itu seolah kau menambahkan sayatan demi sayatan sehingga luka itu semakin dalam dan melebar seiring berjalannya waktu. Nenek tidak memintamu untuk melupakan masa lalu itu. Tapi, cobalah untuk melangkah maju yang kalahkan rasa takut yang ada di hatimu. Percayalah pada dirimu sendiri, cucuku. Mungkin Nenek tidak akan bisa hidup lebih lama dan mendampingi mu, tapi kau punya Jhon, kau punya Jeje. Mereka berdua tidak akan lari saat kau terluka, mereka akan ada di dekatmu, jadi berhentilah menoleh kebelakang karena hal itu hanya akan mempersulit langkah majumu. Kau pantas untuk bahagia, nak."
Amy menatap Neneknya dengan sorot mata yang dalam. Cara bicara Nenek memang sangat lembut, mirip seperti Nenek atau Ibunya.
Nenek tersenyum, dia menatap Amy dan mengusap wajah Amy.
"Bukan Nenek yang perlu merasakan yakin, kau yang harus memiliki keyakinan itu. Nenek mengatakan ini buka memintamu untuk menikah, sungguh! Kau tidak ingin menikah pun, Nenek akan tetap mendukungmu. Bahkan saat kau ingin anak kedua tanpa menikah, Nenek juga akan mendukungmu. Bukan Nenek yang harus memiliki keyakinan itu, nak. Kau! Kau yang harus memiliki keyakinan itu." Ucap Nenek.
Jhon mengangguk, dia tidak tahan dengan pembicaraan itu dan tanpa sadar dia menyeka air matanya.
Benar, apa yang di katakan oleh Nenek adalah hal yang paling benar.
Selama ini dia beberapa kali menjalin hubungan dengan wanita, tapi dia masih tidak memiliki mina untuk menikah karena ketakutan yang dia rasakan. Murah lebih dia juga memilki luka yang sama seperti Amy.
Amy tersenyum, dia mengangguk paham lalu memeluk Neneknya.
"Nek, usia Nenek belum setua itu jadi berhentilah untuk membuat kami takut ya? Hiduplah lebih lama lagi, tolong ya nek? Kami memang memiliki Ayah, aku memiliki Ibu meski Jhon tidak punya tapi, yang bisa kami anggap orag tua kami sekarang hanyalah Nenek saja. Tolong terus sehat, kami membutuhkan sekali Nenek di dekat kami." Ucap Amy erat-erat memeluk Neneknya.
Jhon menyeka air matanya, dia ikut memeluk Nenek mereka dan rasanya itu benar-benar membahagiakan.
"Hei! Kalian ini sebenarnya ingin Nenek panjang umur, atau ingin membunuh Nenek sih? Sesak tahu!" Kesal Nenek membuat Amy dan Jhon kompak melepaskan pelukan mereka dan terkekeh bersama.
"Diantara cucu Nenek yang lain, hanya kalian berdua yang memiliki tempat spesial di hati Nenek. Maka dari itu, Nenek janji akan berusaha untuk menjadi lebih sehat agar bisa melihat kalian lebih lama, oke?" Ucap Nenek lalu tersenyum begitu manis.
Amy menghela nafasnya, "Nenek sebaik ini, bagaimana bisa Nenek melahirkan putra yang dungu?"
Jhon mengangguk setuju dengan ucapan Amy.
"Mau bagaimana lagi? Nyatanya dia memang anak kandung Nenek, tentang sifatnya Nenek juga tidak bisa berkata apa-apa. Kakek kalian adalah orang yang sangat penyayang istri dan anak, selama puluhan tahun kami menikah, Kakek kalian sama sekali tidak pernah mengkhianati Nenek."
Jhon berdecih kesal mengingat bahwa memang benat sikap Kakek dan Ayahnya berbanding terbalik.
"Nenek sih, melahirkan anak tapi lupa melahirkan otak untuknya!" Gerutu Jhon membuat Amy terkekeh geli.
Bersambung.