One Night Special

One Night Special
Orang Tua Yang Tidak Dewasa



Setelah selesai, mereka berniat untuk makan siang bersama, tapi tiba-tiba saja Heinry menghubungi dan meminta untuk bertemu karena dia baru saja menjemput Jeje.


Sekitar empat puluh menit menunggu kedatangan Heinry dan Jeje, akhirnya mereka datang juga di restauran yang sudah menjadi tempat janjian.


"Wah! Tumben Ibu rapih dan cantik sekali!" Ucap Jeje yang kagum melihat Ibunya menggunakan pakaian rapih dan dengan tatanan rambut yang rapih.


Cih! Belum tahu saja bagaimana bentuknya Ibumu ini beberapa saat lalu, batin Amy sebal.


Heinry juga kagum, ternyata kalau berpenampilan rapih, Amy memang lebih manis dari biasanya.


"Tentu saja! Style Ibumu sangat bagus hari ini kan? Tenang saja cucuku tersayang, nanti setelah Ibu dan Ayah mu menikah, Nenek janji akan bawa Ibumu ke butik setiap hari supaya bisa membeli pakaian baru!"


Hah?


Amy ternganga dengan wajah tidak rela.


Aku benar-benar menyesal sudah menyetujui pernikahan ini!


Setelah selesai makan siang bersama, Jeje merengek meminta Ibunya untuk ikut membeli es krim bersama dengan Ayahnya.


"Sayang, tolong ya? Hari ini Ibu sudah benar-benar sangat kasihani sekali loh, badan Ibu sudah seperti tertabrak truk tronton. Ibu butuh pulang, tidur, dan makan lagi yang banyak supaya bisa kembali segar tubuh Ibu, oke?" Ucap Amy dengan tatapan matanya yang terlihat memohon. Namun, sayang sekali karena Jeje benar-benar tidak perduli.


"Baiklah! Ayo berangkat!" Ucap Jeje mengabaikan ucapan Ibunya membuat Heinry menahan tawanya.


Amy benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa, Sepertinya Jeje benar-benar sedang berusaha sangat keras agar bisa membuat Ibunya lebih dekat dengan Ayahnya.


Sesampainya di sebuah pusat belanja, di sana stand penjual es krim yang di inginkan oleh Jeje.


Jeje benar-benar menikmati es krim miliknya hingga mengabaikan mulutnya yang belepotan. Sementara Amy, dia hanya terus diam sampai wa krim di tangannya meleleh dan mengenai tangannya barulah dia tersadar dan mulai menjilat es krimnya.


Sepertinya, nyawanya sudah sampai ke rumah dan sedang tidur dengan nyaman meski nyatanya, raganya tengah berada di pusat belanja.


Suara dering ponsel milik Heinry membuatkan konsentrasi mereka dalam menikmati es krim, sementara bagi Amy, dia seperti mulai tersadar karena nyawanya sudah bersatu dengan raganya.


Menyebalkan!


"Ada apa, Bu?" Tanya Heinry begitu sambungan teleponnya terhubung. Heinry terdiam, dia terlihat terkejut sembari menatap Amy dan tak lama dia hanya mengiyakan lalu mengakhiri sambungan teleponnya.


Heinry terus menatap Amy dengan tatapan yang tidak biasa membuat Amy mengeryitkan dahi dengan tatapan bingung.


"Apa kau sedang melihatku sebagai pisang?" Tanya Amy kesal.


Heinry menghela nafasnya,"Apa aku terlalu mirip monyet?"


"Kau baru menyadarinya?" Amy berdecih kesal.


Jeje membuang nafas kesalnya, sungguh kalau begini bisa-bisa dia tua sebelum waktunya. ah, apalagi ada istilah Tua sebelum waktunya! Duh! Padahal dia punya niatan ingin berpacaran dengan aktor terkenal saat dewasa nanti.


"Bukankah wajar kalau manusia mirip monyet? Yang tidak wajar itu adalah, sudah tahu manusia dibilang mirip manusia! Yang mirip manusia kan hanya monyet?" Ucap Jeje lalu melanjutkan kesibukannya dengan es krim.


Amy dah Heinry kompak terdiam, sungguh, ucapan mereka benar-benar mengena di hati yang sakitnya bahkan sampai ke bokong!


"Ngomong-ngomong, tadi Ibumu bilang apa? Kenapa ekspresi mu seperti sedang menahan kemoceng mu yang terjepit sleting." Amy langsung menutup mulutnya rapat-rapat karena dia baru saja teringat jika ada Jeje bersama mereka.


"Kemoceng itu apa?" Tanya Jeje bingung.


Amy menghela nafasnya, ternyata ada bagusnya Jeje tidak terlalu pandai bahasa asal negaranya sendiri.


"Kemoceng itu, sejenis kue yang terbuat dari tepung tapioka, iya kan, Heinry?"


Heinry menghela nafasnya, lalu mengangguk saja.


"Kau belum menjawab pertanyaan ku tadi, Ibu mu bilang apa?" Tanya Ay lagi.


Heinry menatap Amy, lalu menghela nafasnya.


"Ibu bilang, gedung pernikahan sudah penuh semua di bulan ini, buan depan, bukan depannya lagi, bulan selanjutnya juga. Cuma ada lusa yang kosong, jadi kalau kau mau, kita menikahnya lusa saja."


Ugh!


"Menikah lusa?" Amy menatap Heinry dengan tatapan marah, wajahnya bahkan ikut memerah karena kemarahan yang dia rasakan.


"Itu kan kata Ibuku," Ujar Heinry yang menolak menjadi pelampiasan kekesalan Amy.


"Kau pikir menikah itu sama artinya dengan kita membeli terasi?! Lusa apaan?! Kalau bulan besok, bulan depan, bulan depannya lagi tidak ada gedung pernikahan yang kosong, kan masih bisa tahun depan?!" Ucap Amy dengan nada bicara yang meninggi dan jelas dia masih merasa kesal.


"Tahun depan apanya? Mana boleh menikah di undur-undur segitu lamanya!" Protes Heinry yang tak mau kalau pernikahannya harus di undur sampai tahun depan.


"Ihh! Kalau tidak mau ya sudah! Menikah saja dengan wanita yang kemarin! Aku saja belum bernafas dengan baik karena gaun pengantin tadi, kau dan Ibu mu sudah akan membuatku benar-benar tidak bernafas Sampai mati ya? Pokoknya, mau tidak mau, pernikahan akan di gelar di waktu yang sudah di tetapkan!" Ucap Amy dengan tegas.


Heinry membuang nafas kasarnya, kalau begini dia juga tidak bisa mengalah. Tanggal pernikahan mereka rencananya akan di gelar tiga bulan dari sekarang sesuai permintaan Amy, tapi bagiamana kalau nyatanya memang terjadi hal seperti ini?


"Kita bisa menikah secara ilegal lebih dulu kan? Nanti di tanggal yang sudah di tentukan bisa kita legalkan pernikahan kita," Ucap Heinry mencoba untuk membujuk Amy.


"Tidak mau!" Ucap Amy dengan tegas.


"Tapi bukan depan tidak ada gedung pernikahan yang kosong, Amy. Karena hanya ada lusa, jadi lebih baik untuk tidak melewatkannya bukan?"


Amy menggigit bibir bawahnya menahan kesal, sungguh hanya Tuhan yang tahu bagaimana perasaannya sekarang. Padahal, sudah setuju menikah saja adalah sebuah keajaiban, tapi bagaimana bisa dia akan menikah lusa kalau tiga bulan dari sekarang saja, Amy masih merasa terlalu cepat dan dia masih tidak siap sama sekali.


"Pokonya, lakukan saja seperti tanggal yang sudah di setujui!"


Heinry menghela nafasnya lagi.


"Kita akan kesulitan mencari gedung untuk menikah!" Ucap Heinry dengan nada bicaranya yang semakin meninggi.


Jeje membuang nafas kesalnya, entah kapan kedua orang tuanya akan menjadi dewasa, ckckck!


"Menikah lusa atau kapanpun, pada akhirnya kalian akan menikah kan? Kenapa masih sibuk dengan gedung pernikahan kalau menikah di rumah saja bisa?"


Heinry dan Amy kompak terdiam kehabisan kata-kata karena ucapan anaknya tersebut.


"Sebenarnya, mau menikah sepuluh tahun lagi, Ibu juga tidak akan siap kan? Lalu apa bedanya menikah lusa?" Tanya Jeje.


Bersambung.