
Heinry tersenyum lebar saat Amy sudah tak lagi merasa mual saat dekat dengannya. Bulan ini, kehamilan Amy sudah memasuki usia empat bulan, dan akhirnya setelah sekian purnama dan si monyet sudah merayakan lebaran akhirnya, hari yang di tunggu-tunggu itu tiba.
Mulai dari semalam, Heinry bisa tidur dengan nyaman sembari memeluk istrinya.
Walupun perbedaan sikap Amy sebelumnya dengan sekarang sangat berbeda, tetapi Heinry benar-benar merasa sangat senang sekali. Amy sudah tidak mau kalau berjauhan dari Heinry, bahkan Amy juga akan terbangun saat tidak merasakan kulit Heinry menempel di tubuhnya.
Hal itu juga membuat Jeje merasa senang dan bahagia. Tidak ada lagi Ayahnya yang dayang ke kamarnya setiap malam sembari memasang wajah sedih lalu mengajak Jeje untuk mendengarkan segala keluh kesahnya dan juga kesedihannya atas apa yang dilakukan oleh ibunya Jeje padanya.
Jeje bisa melakukan segala hal yang dia inginkan tanpa gangguan. Dia bisa sepuasnya bermain dengan pensil warna untuk mewarnai gambarnya, gak bisa bermain piano dengan santai, sesekali juga akan memainkan gadgetnya tanpa ada yang terus bicara oleh curhat.
Akan tetapi, semua itu tidak bisa bertahan lama sejak neneknya kembali dari menjenguk kerabat jauh yang sedang sakit di luar kota beberapa hari yang lalu.
"Duh, cucuku tersayang, suku yang paling cantik! Kau pasti sangat merindukan nenek ya? Maaf Karena nenek tidak mengajak, sekolah jadi terpaksa meninggalkanmu di rumah," Ucap Ibunya Heinry dengan mimik wajahnya yang terlihat begitu sedih. Ia terus mengusap kepala cucunya dengan lembut, kedua bola matanya yang mulai berair seperti tengah menahan tangis penyesalan karena pergi tanpa membawa cucunya serta.
Jeje benar-benar terdiam tak tahu harus mengatakan apa.
Benar saja!
Dia tidak akan bisa lepas dari perhatian berlebihan orang-orang di rumah itu. nenek dan juga kakeknya, ayahnya, paman dan juga nenek buyutnya, mereka semua benar-benar sangat berlebihan dalam memberikan kasih sayang kepadanya sehingga, Jeje sampai tidak ada tempat untuk menerima cinta dan sayang mereka yang sangat banyak itu.
Jeje menelan salivanya sendiri, dengan susah payah dia mencoba untuk tersenyum sebaik mungkin meski hatinya menggerutu di dalam hati, mungkin orang yang paling bahagia saat ini hanyalah ayahnya seorang!
Di dalam kamar.
"Heinry, Kau mau ke mana?" Tanya Amy menghentikan langkah kaki Heinry dengan menahan ujung baju yang digunakan oleh Heinry sehingga mau tak mau Heinry harus berhenti sebelum kembali melanjutkan langkahnya.
"Tentu saja ke kamar mandi, sayang. Aku kan belum mandi sejak pagi,'' Ujar Heinry dengan senyum lebar karena dia tidak mungkin menunjukkan wajah kesalnya bukan?
"Ikut!" Ucap Amy dengan nada suaranya yang cukup tinggi.
Heh?
"Aku cuma mau pergi ke kamar mandi kok, sayang."
Amy menatap Henry dengan tatapan kesal, lalu kembali berkata," Aku bilang, Aku mau ikut!"
Heinry menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena bingung sendiri dengan istrinya yang sangat aneh.
Ah, tapi sudahlah!
"Okelah, Ayo kita ke kamar mandi bersama!"
Amy tersenyum lebar, dia segera mengambil posisi untuk turun dari tempat tidur dan berjalan sembari memeluk lengan Henry menuju ke kamar mandi.
Memang menggelikan sekali, tapi mau bagaimana lagi? Heinry juga tidak berani memprotes tindakan apapun yang dilakukan oleh istrinya karena, dia juga tidak ingin kalau sampai terjadi buruk istrinya yang selalu mual saat berada di dekatnya.
Setelah keluar dari kamar mandi, Heinry mengajak Amy untuk keluar dari kamar dan menuju ke meja makan karena ini sudah siang dan tentu saja Amy harus makan siang lalu tidak lupa juga meminum vitamin serta susu hamilnya. Maklum saja, pagi tadi Amy begitu malas-malasan saat akan meminum susu hamil.
Masih dengan posisi yang sama, Amy terus memeluk lengan Heinry dan tidak melepaskannya sedikitpun atau sebentar saja.
Bahkan, di meja makan semua orang benar-benar terbengong-bengong melihat tingkah Heinry dan juga Amy seperti pengantin baru, lengket seperti tersiram lem.
Jeje juga terus menaikkan satu sisi bibirnya menatap ibunya yang seperti orang lain saja. Entahlah, melihat ibunya seperti itu Jeje justru berharap ayahnya akan tetap terasa baik-baik saja.
"Heinry, kau terbiasa menggunakan tangan kananmu jadi gunakan saja seperti biasanya. Kau juga, Amy. pindahlah posisi Kalau kau ingin terus memeluk lengan suamimu, seperti kesulitan menggunakan sendok dengan tangan kirinya," Ucap Ibunya Heinry tapi dia tidak terlihat marah sama sekali.
"Ah, Tidak apa-apa kok Bu. Asalkan Amy tidak ngidam seperti sebelumnya yang mual setiap kali dekat denganku, seperti ini saja tentu sangat bagus kan?" Ujar Heinry dengan wajah yang merona merah membuat semua orang ternganga keheranan dan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Jeje membuang nafas kasarnya, menjauhkan makanannya yang sudah tak lagi enak untuk dia telan. kemudian, Jeje menatap ayahnya lalu berkata,"ayah, sungguh aku sangat berharap Ayah tidak akan mengubah kata-kata Ayah barusan."
Heinry memaksakan senyumnya lalu berkata dengan mimik wajahnya yang terlihat sangat yakin,"tentu saja Ayah tidak akan merasa keberatan, Apakah sekarang kau iri?"
Jeje ternganga kesal, sungguh dia sama sekali tidak merasa cemburu atau apapun akan tetapi, feelingnya mengatakan bahwa tidak akan lama lagi dia akan melihat ayahnya kembali berwajah murung. Yah, semoga saja itu hanya dugaan semata.
Dan, benar saja!
Ini sudah satu minggu, dan akhirnya benar-benar merasa kalau harinya berjalan dengan sangat lambat. Sebentar-sebentar, Heinry terus bertanya kepada ibunya tanggal berapa, Jam berapa?
Alasannya adalah,
Amy yang begitu menempel itu benar-benar tidak membiarkan Heinry menjauh barang sedikit pun. Makan harus bersama, mandi, buang air kecil bahkan buang air besar, kerja pun Heinry harus membawa istrinya serta.
Tidak, bukan hanya karena itu saja. Bahkan, Amy benar-benar terus memeriksa ponselnya dengan detail entah apa yang dia cari padahal dua puluh empat jam Heinry bersama dengannya, dan Heinry sendiripun tidak memiliki minat sama sekali untuk memiliki hubungan tersembunyi dengan wanita lain.
Percayalah, Heinry sudah sangat tertekan hanya karena satu wanita saja, jadi kalau sampai dia memiliki dua wanita, maka yang dia benar-benar tidak akan bisa hidup dengan tenang dan damai sampai tua nanti.
"Kau mau kemana?" Tanya Amy begitu Heinry bangkit dari tempat tidurnya. Yah, padahal Heinry sengaja bangun tengah malam agar bisa buang air besar dengan nyaman tanpa gangguan Amy, tapi lagi-lagi dia harus menderita karena buang air besar sembari di saksikan oleh Amy.