One Night Special

One Night Special
Permintaan Ibu



" Cepat temui Ibu mu, minta maaf sana. Kau sudah benar-benar keterlaluan sekali, Heinry. Cobalah untuk bicara dengan Ibu mu, setujui saja pernikahan mu dengan Cheren. Kau ini terlaku banyak berpikir, terlalu banyak membaca buku sampai otak mu terlalu tidak masuk akal."


Heinry menghela nafas, tentu saja hanya sebatas itu saja Ayahnya akan menunjukkan kemarahannya, tapi sayangnya Heinry tidak ingin melakukan itu meski Ayahnya sudah begitu lembut memperlakukan dirinya.


"Ayah, kita ini sama-sama pria kan? Kalau tidak cinta tapi tetap di paksakan apa tidak takut kalau usia pernikahan hanya akan bertahan satu jam saja?"


Ayahnya Heinry membuang nafas.


"Kalau Ayah jadi kau sih, Ayah tidak akan jual mahal seperti mu. Cherel itu kan sangat cantik, melihatnya saja kemoceng mu bisa bangun kan?"


Heinry mengeryitkan dahi menatap Ayahnya yang berbicara aneh tapi tak menunjukkan ekspresi apapun.


"Jadi, apakah selama ini kemoceng Ayah berdiri kalau melihat Cherel?"


Ayahnya Heinry membulatkan matanya, duh! Rasanya ingin memukul kepala putranya itu, tapi istrinya pasti sedang memperhatikan mereka kan? Kalau tahu dia memukul Heinry, nanti pasti istrinya yang akan ganti memukul kepalanya kan?


"Tidak, bodoh! Setiap pria memiliki lubangnya masing-masing, untuk apa aku memiliki minat seperti itu saat melihat Cherel?"


Heinry menggelengkan kepalanya malas berucap lagi.


"Ngomong-ngomong, Ibu mu khawatir sekali kalau ternyata kau adalah kaum pelangi, bagaimana tanggapan mu? Bagaimanapun kau adalah anak satu-satunya bagi kami, kau tahu kan kalau membuang sper** di lubang yang tidak seharusnya tidak akan menghasilkan anak?"


Heinry benar-benar tidak tahan membahas masalah itu dengan Ayahnya. Ya iyalah dia tidak perlu pembelajaran tentang itu karena nyatanya dia ngakak sudah akan memiliki anak sebentar lagi. Ah, mengingat Amy akan melahirkan seharusnya dia datang untuk menamai Amy kan? Memang benar masih memerlukan dua bulan lagi, tapi rasanya dia benar-benar ingin segera kesana untuk melihat perut Amy yang membuncit, jadi dengan begitu dia bisa meledek Amy kan?


"Ayah, lusa aku akan pergi untuk berlibur. Aku sekalian juga ingin menemui teman ku, jadi mungkin aku butuh sepuluh harian di sana."


Ayahnya Heinry membuang nafas kesal nya, Heinry benar-benar paling jago kalau soal lati dari pembahasan kan?


"Kalau soal itu, coba saja kau minta izin dengan Ibu mu. Kau tahu bagaimana dia kan?"


Heinry mengangguk paham, rencananya dia akan meminta izin Ibunya selesai makan malam nanti.


Seperti yang di buatkan oleh Heinry, dia mengatakan kepada Ibunya kalau dia ingin pergi berlibur, tapi sepertinya Ibunya Heinry masih saja terlihat kesal.


"Kau ingin pergi berlibur setelah apa yang kau lakukan kepada kami semua? Otak mu di mana, Heinry?!" Tanya Ibunya Heinry yang benar-benar tidak bisa menutupi kekesalannya yang sulit untuk di bendung. Padahal dia sudah meminta Ayahnya Heinry untuk membujuk Heinry baik-baik, tapi ternyata juga nihil hasilnya.


"Masih di dalam tengkorak, Ibu."


"Tutup mulut mu, beraninya kau membalas ucapan Ibu?!"


"Tadi Ibu kan bertanya?"


"Diam!"


"Gara-gara kau, Heinry! Gara-gara kau Cherel mengurung diri selama berhari-hari di dalam kamar, dia bahkan tidak berhenti menangis! Pagi tadi dia di bawa ke rumah sakit karena dehidrasi parah, Semarang kau mengatakan ingin keluar negeri? Demi Tuhan, cekik saja Ibu mu supaya cepat mati, Heinry! Yang harus ka lakukan adalah temui Cherel, datang dan minta maaf dengan tulus, bila perlu ajak dia menikah hati itu juga!"


Cih!


Heinry memilih untuk diam, sepertinya mengatakan apapun tidak akan ada gunanya. Tapi kalau memang benar keadaan Cherel sedang sangat tidak baik seperti itu, memang sudah seharusnya dia datang dan menemui Cherel sebentar kan? Yah, yang pasti dia tidak akan mengajak Cherel untuk menikah seperti harapan Ibunya.


"Iya, besok pagi-pagi aku akan menemui Cherel." Ujar Heinry yang sedikit membuat Ibunya agak merasa lega.


Besok paginya.


Heinry meletakkan ponselnya setelah memesan tiket penerbangan untuk menuju ke negara di mana Amy berada. Rencananya besok sore dia akan berangkat, untuk hari ini dia harus mengunjungi Cherel ke rumah sakit lebih dulu, pulang nanti baru dia mulai berkemas.


Setelah selesai bersiap, Heinry dengan segera keluar dari kamarnya menuju ke garasi mobil. Setelah beberapa saat dia mulai menjalankan mobilnya keluar dari rumah, menuju ke jalan utama. Hari itu jalanan benar-benar lancar karena akhir pekan, dan Heinry masih melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang.


Entah dari mana datangnya sebuah truk yang tiba-tiba saja memotong jalan di jarak yang begitu mepet dengan mobil Heinry sehingga Heinry tidak bisa menghindari truk itu, lalu mobil Heinry menabrak bagian belakang truk cukup kuat. Mobil Heinry memang tidak terguling, tabu tabrakannya di perparah saat truk itu tiba-tiba berhenti membuat mobil Heinry membentur cukup kuat dan mundur beberapa meter.


Bagian depan mobil Heinry benar-benar rusak cukup parah, dan mobil truk itu juga debagn cepat menghilang seolah sengaja menghindari dari kewajiban untuk bertanggung jawab.


Heinry masih tersadar kala itu, dia masih bisa melihat terangnya sinar matahari, tapi telinganya berdengung, matanya seperti banyak kunang-kunang, cairan hangat seperti menjalar memenuhi wajahnya, dadanya sakit dan sesak karena terbentur kemudi mobil.


Bruk!


Heinry sudah tidak sanggup lagi mempertahankan matanya untuk tetap terbuka, dia menjatuhkan kepala tapi telinganya masih sempat mendengar ada orang yang memukul jendela kaca mobilnya mungkin sedang memeriksa keadaan Heinry dan ingin menolongnya. Tapi, beberapa detik setelah itu Heinry benar-benar kehilangan kesadaran sepenuhnya.


Di sisi lain.


"Ah!" Pekik Amy yang merasa perutnya kontraksi, tidak begitu sakit sih hanya seperti mengeras saja, tapi itu sungguh mengganggu sekali di sana Amy sedang bekerja.


Amy terdiam sebentar, dia pikir kontraksi palsu itu akan menghilang beberapa saat lagi, tapi sampai cukup lama rasanya perut Amy masih tak membaik.


"Sayang, tolong jangan begini ya? Ini masih terlalu awal untuk mu lahir, sabar ya sabar. Tunggu dua bulan lagi, oke?"


" Ada apa, Amy? Butuh Dokter kah? Apa kau sudah akan melahirkan?" Tanya salah satu teman yang bekerja di satu tempat dengan Amy.


Amy memaksakan senyumnya.


"Tidak apa-apa, santai saja."


Bersambung.


( Halo kesayangan? Mohon maaf karena belum sempat cek lagi tulisan ini, jadi kalau ada typo tolong kasih tahu ya......)