One Night Special

One Night Special
Kemana Perginya Rasa Malu?



Amy menghela nafasnya saat melihat Heinry membeli cukup banyak pakaian musim dingin yang artinya, dia juga akan lama berada di negara lain untuk berbulan madu.


Memikirkan akan jauh dari Jeje, rasanya dia masih tidak rela, tapi dia juga tidak bisa mengelak disaat orangtuanya Heinry, nenek dan bahkan Jhon dan Jeje memaksakan Amy untuk pergi saja bulan madu.


Entah kenapa juga Jhon begitu berubah setelah hari dimana Heinry menceritakan bagaimana dia berjuang datang ke gedung pernikahan dengan luka di kepala dan mengabaikan rasa sakitnya dengan begtu dramatis, Jhon menjadi mendukung penuh Heinry seolah dia sudah tidak memiliki kekesalan apapun terhadap Heinry. Padahal, selama ini Jhon lah yang paling usil dan paling tidak suka melihat Heinry datang kerumah untuk menemui Amy atau Jeje.


Nata Heinry terpaku melihat lingerie hitam yang nampak begtu hot, bibirnya tersenyum, yah sudah pasti otaknya ngeres sekali bukan?


"Kendalikan wajah sialan itu, Heinry! Bagaimana bisa kau terlihat seperti monyet yang sedang mengintai pisang! Aku benar-benar curiga deh, jangan-jangan saat terbentur kemarin, otakmu jauh di jalan." Ujar Amy.


Heinry tersenyum lagi, memang kenapa? Sekarang dia hanya perlu lebih ekspresif seperti saran Ayahnya saat akan mendapatkan hati wanita bukan? Ayahnya mengatakan jika, dulu, dia benar-benar mati-matian mengejar Ibunya yang sulit sekali di dapatkan. Waktu itu, Ibunya Heinry bahkan sudah akan menikah tetapi, Ayahnya Heinry datang dengan segala bujuk rayunya, lalu membawa Ibunya Heinry ke tempat tidur dan membuatnya hamil dengan sengaja.


Walaupun caranya memang terkesan tidak tahu malu, apalagi saat pertama kali melakukan itu Ibunya Heinry di buat mabuk lebih dulu. Tapi mau bagaimana lagi? Meskipun cara itu sangat memalukan dan bajingan, bukankah pada akhirnya Ibunya Heinry juga mencintai suaminya?


"Memang kenapa? Dulu sebelum kau hamil Jeje, kau begitu bersemangat mengajakku tidur bersama dan membuat anak tida kenal waktu. Sekarang kau jual mahal begitu, apakah kau malu?" Ledek Heinry.


Amy menaikkan sisi bibirnya lalu berkata,"Kalau bukan demi Jeje, aku juga tidak akan melakukan itu! Jangan lagi membahas soal rasa malu, karena sejak lahir aku tidak punya yang anaknya malu."


Heinry kembali tersenyum,"Jadi, kalau nanti kita melakukan itu lagi, tidak akan mungkin kau tidak merasa malu kan?"


Ckckck


"Lihat saja nanti, lihat bagiamana aku akan merasa malu. Entah kau atau aku yang malu, sepertinya terlalu dini membicarakan itu sekarang. Kau ingat kan saat dulu kita akan membuat Jeje? Wajahmu yang .erau seperti habis di tempat oleh tetangga, kau bilang, jangan Amy! Kau tidak boleh melakukan itu! Tapi tanganmu diam saja, pinggulnya saja ikut bergerak. Mulut bilang, jangan! Tapi tubuhnya yang malu-malu itu seolah mengatakan, terus Amy! Terus, lagi!"


Heinry terdiam tak tahu harus mengatakan apa, dan bagiamana dia akan berekspresi.


Padahal dia sudah cukup percaya diri, tapi kenapa masih tidak bisa menyaingi Amy?


Cara bicara yang lepas terkesan tidak tahu malu itu, bagaimana bisa Heinry membayangkan kalau saja nanti mereka melakukan hubungan suami istri, Amy akan menunjukkan wajahnya yang malu-malu dan dia bisa bergerak dengan percaya diri. Tapi, kalau kenyataannya seperti ini, dia ragu apakah bisa dia melakukan semua itu dengan sukses dan percaya diri?


"Sudahlah, jangan berekspresi seperti itu. Walaupun memang kau tidak yakin bisa melakukannya atau tidak, percayalah padaku saja oke? Aku memang baru pertama kali melakukannya denganmu, tapi aku akan mengajarimu dengan sangat baik karena aku, memiliki banyak pengalaman dari menonton film ehem ehem."


Heinry menelan salivanya, bohong sekali kalau dia tidak menonton film seperti itu juga. Tapi, kenapa bisa ada wanita yang begitu percaya diri mengatakan dengan lancar kalau dia sudah banyak sekali menonton film sepasang manusia sedang main colok?


"Amy, aku, benar-benar berharap kita bisa menjalani malam seperti itu dengan baik, oke?" Ucap Heinry dengan ekspresi wajahnya yang masih terbengong.


Amy terkekeh melihat ekspresi Heinry dan berkata,"Tenang saja, aku akan membantumu mengarahkan milikmu ke lubang yang benar. Soalnya kalau aku tidak bantu mengarahkan, aku takut kau memasukkan milikmu ke lubang hidung ku!" Setelah mengatakan itu, Amy kembali terkekeh membuat Heinry benar-benar kehabisan kata-kata.


Kalaupun memang bisa salah masuk, mana mungkin sampai ke lubang hidung juga? Heinry menatap Amy yang terus tersenyum padanya sembari membatin, semoga aku bisa panjang umur ya Tuhan....


Amy kembali sibuk memilih pakaian, sementara Heinry kini memilih untuk duduk dengan mimik wajahnya yang terlihat tertekan.


Yah, sekarang ini tiba-tiba saja dia merasa takut kalau dia tidak akan bisa mengimbangi Amy, membuat Amy kesal dan Amy menjadi mencari pria lain yang dapat berada di level yang sama dengannya.


"Kakak tidak berbelanja, kenapa terlihat tidak baik? Apa butuh bantuan untuk memilih barang?" Tanya gadis itu dengan suaranya yang dia buat sehalus mungkin, cara bicaranya juga terdengar sangat sopan.


Heinry berdecih kesal merutuki dirinya sendiri yang begitu mudah sekali merasa tertekan hanya karena ucapan Amy yang belum tentu akan kebenarannya.


Gadis itu mengigit bibir bawanya, dia kira, Heinry berdecih karena terganggu olehnya.


"Kak, apa aku mengganggu?"


Suara gadis itu baru saja terdengar oleh Heinry.


Heinry menatap gadis itu, lalu berkata,"Tidak, santai saja, lagi pula ini tepat umum kan?"


Gadis cantik itu tersenyum, lalu mengangguk.


"Kakak sedang bersama siapa? Kelihatannya kakak sedang tidak baik," Ucap gadis itu lagi.


"Sedang bersama istri," Ucap Heinry. Duh! Istri ya? Entah kenapa dia jadi tidak tahan untuk tersenyum mengingat kalau Amy memang lah sudah menjadi istrinya.


Melihat Heinry sedang tersenyum, gadis itu juga tersenyum karena menganggap Heinry sedang bercanda saja untuk menggodanya.


Amy tak sengaja menoleh, dan dia melihat seorang gadis tengah menatap Heinry dan terus tersenyum lembut padanya. Amy menghela nafasnya, menggelengkan kepala. Sungguh, Amy kasihan sekali dengan gadis cantik itu.


"Percayalah, kakak cantik. Wajah cantikmu itu tidak akan berguna bagi Heinry." Gumam Amy.


"Nyonya, anda mau coba yang ini?" Ucap pelayan toko yang adalah seorang pria muda.


"Ini bagus! Aku suka yang simple seperti ini, plos, kalaupun ada motif, usahakan motifnya yang lembut saja." Ujar Amy.


"Eh, itu suami anda sedang bersama siapa? Anda tidak datang kesana? Apa anda tidak cemburu?" Tanya pelayan itu.


Amy menghela nafasnya,"Aku akan memberikan jempolku kalau dia bisa merayunya!"


Pelayan pria itu mengangguk paham.


"Ngomong-ngomong, kenapa ini ada nodanya?" Tanya Amy.


Pelayan pria itu mendekat kepada Amy membuat Heinry terkejut dan langsung bangkit dari posisinya.


"Istriku sayang, apa ada yang perlu aku bantu?!"