One Night Special

One Night Special
Sesuatu Yang Di Dambakan



"Heinry, Dokter bilang kau harus datang Jumat nanti karena butuh pemeriksaan lengkap untuk memastikan benar keadaan mu." Ucap Ibunya Heinry setelah membuka pintu kamar Heinry dan perlahan bicara. Sejak kecelakaan itu Heinry benar-benar mengalami banyak masalah, mulai dari tidak bisa melihat hingga beberapa hari, Heinry juga berteriak kesakitan karena gumpalan darah di kepalanya memberikan efek sakit yang luar biasa, bahkan Heinry juga melupakan banyak hal yang terjadi beberapa tahun terakhir.


Heinry sejak awal memang sangat tidak banyak bicara, dan sekarang dia justru hampir tidak bicara dan memilih diam dan terus mencoba untuk mengingat beberapa tahun terakhir yang telah dia lupakan. Saat tersadar Heinry masih merasa usianya baru dua puluh tahun, lalu perlahan dia di beritahu tentang usia sebenarnya dan apa saja yang terjadi.


Masalah Cheren, pernikahan di antara mereka benar-benar di batalkan yang secara otomatis pertunangan mereka juga sudah di putus saat polisi menetapkan Ayahnya Cheren sebagai dalang di balik kecelakaan yang Heinry alami. Alasannya adalah karena Ayahnya Cheren merasa tak terima saat Heinry seperti mempermainkan Cheren, apalagi saat Cheren menangis dan tidak keluar kamar beberapa hari karena kesedihan yang dia rasakan atas sikap Heinry.


"Iya." Heinry tak melihat Ibunya sama sekali, dia terus melihat ke arah jendela seolah dia begitu mendambakan sesuatu di luar sana.


Ibunya Heinry menatap punggung putranya dengan tatapan kelu, rasanya dia benar-benar sedih dan menyesal atas apa yang terjadi dengan putranya, tapi bagaimanapun dan sebesar apapun penyesalan itu jelas tidak akan mengembalikan segalanya bukan?


"Heinry, masalah pernikahan yang pernah Ibu ceritakan itu-"


"Jangan membahas soal pernikahan lagi, tolong. Aku tidak akan menikah saat aku belum menemukan seseorang yang ingin aku nikahi. Aku tidak tahu perempuan seperti apa, jadi tolong Ibu dan Ayah jangan membahas pernikahan apa lagi menjodohkan ku dengan alasan apapun."


Ibunya Heinry langsung saja mengangguk setuju.


" Tentu saja! Ibu juga bermaksud mengatakan itu, Ibu janji tidak akan keberatan tidak perduli dia perempuan seperti apa. Entah janda anak sepuluh, entah anak remaja, entah matanya tidak ada satu, entah hidungnya pesek atau mancung, entah kurus atau gendut, entah dia mau boncel atau jangkung, entah itu pria sekalipun, asalkan anak ku yang paling tampan dan satu-satunya ini bahagia, Ibu benar-benar tidak akan keberatan."


Heinry menghela nafasnya, apa-apaan sih? Walaupun dia mengatakan tidak tahu perempuan seperti apa, bukanya dia tidak memiliki selera kan? Yah, sudahlah lebih baik seperti ini saja toh dia juga harus fokus untuk kesembuhannya dulu.


"Sepertinya anak kita benar-benar jadi lebih aneh." Ujar Ibunya Heinry begitu dia keluar dari kamar dan menemui suaminya yang menunggu di ruang tengah.


Ayahnya Heinry menghela nafas, memang benar seperti yang di katakan istrinya. Sejak siuman Heinry benar-benar jadi sangat berubah, bahkan sekarang juga terus menatap dingin dan terkuat lebih malas bicara dari pada sebelumnya.


Beberapa harga kemudian.


Heinry menjalani pemeriksaan lengkap, juga melakukan terapi untuk kembali mendapatkan ingatan yang hilang beberapa tahun ini.


Di sisi lain.


Amy kembali ke rumah sakit seperti kebiasaannya selama ini. Tapi khusus untuk hari ini, Amy benar-benar merasa begitu bahagia karen pada akhirnya, Jeceline atau panggil saja dia Jeje akan ikut Amy pulang kerumah. Kemarin Dokter sudah menyampaikan bahwa Jeje sudah boleh dia ajak pulang, hanya saja untuk kondisi Jeje akan terus di pantau, perawat juga akan datang tiga hari sekali untuk memastikan benar bahwa keadaan Jeje akan baik-baik saja.


Sesampainya di sana, Amy harus mengurus surat menyurat dari rumah sakit sebagai prosedur sebelum dia mengeluarkan bayinya dari sana, berikut juga dengan biayanya.


Sepanjang perjalan menuju ke rumah, Amy benar-benar terus tersenyum bahagia menatap Putrinya yang kini terlihat lebih gendut, juga sangat cantik. Iya, walaupun wajah Amy memang pas-pasan, tapi untunglah dia membuat anak dengan Heinry yang memiliki wajah super tampan jadi anaknya benar-benar benar-benar mendapatkan berkah itu. Memang sih wajahnya mirip sekali dengan Heinry, tapi sungguh itu tidak akan menjadi masalah karena intinya anak itu adalah anaknya yang akan menjadi prioritas utamanya.


Amy menghela nafas begitu dia sampai di rumah, aneh sekali, kenapa Heinry masih tidak datang juga? Apa dia tengah sibuk menyiapkan pernikahan bersama dengan Cheren?


"Heinry, aku berharap kau baik-baik saja. Nanti kau juga akan punya anak lagi bersama Cheren kan?"


Enam Tahun Kemudian.


"Kau bilang apa? Ah, akhir-akhir ini Ibu sedang ada gangguan telinga, tolong bicara lagi besok, oke?" Ucap Amy kepada Jeje yang kini tengah menatapnya dengan sinis.


Jeje berdecih dengan wajah polos khas anak-anak, dia benar-benar tumbuh dengan baik, dia tumbuh menjadi gadis cilik yang sangat cerdas dan kritis dalam segala hal.


"Cih! Padahal aku juga ingin memberitahu bahwa hari ini aku mendapatkan nilai terbaik, tapi sepertinya tidak akan bisa Ibu dengar karena Ibu sedang mengalami gangguan telinga." Ujar Jeje seraya mengangkat tas sekolahnya, dia sudah akan berbalik dengan tatapan matanya yang terus menatap Ibunya sembari berhitung di dalam hati.


Satu, dia, ti......


"Apa? Jadi Putri Ibu mendapatkan nilai terbaik lagi? Ah, senangnya..... Sini biarkan Ibu peluk dan cium sebagai hadiah!" Amy yang sudah mendekati Jeje dan memonyongkan bibirnya justru tak dapat melakukan apa yang ingin dia lakukan saat Jeje menutup bibir Ibunya menggunakan telapak tangannya.


"Gangguan telinga Ibu sudah hilang?"


Amy menelan salivanya sendiri, ah sial! Tenyata Jeje menipunya!


"Aduh, laptop Ibu! Wah, sepertinya ada banyak pekerjaan yang harus segera di selesaikan ya?" Gumam Amy lalu segera beranjak menuju di mana laptopnya berada, dia benar-benar harus menghindari Jeje yang sedang terus menerus mengungkit soal Ayahnya.


"Ibu, berikan aku Ayah, aku beri waktu dua hari! Lagi pula aku hanya butuh satu Ayah saja kok! Ibu di jangan mencari alasan terus menerus!" Kesal Jeje, sudah dua tahun dia sekolah, dia benar-benar merasa iri dengan teman-temannya yang hampir setiap hari di antar jemput oleh Ayahnya.


"Aduh! Jeje, Ibu kan sudah bilang kalau Ayah mu sudah mati? Rumput di kuburan Ayah mu sudah lebih tinggi dari pada Ibu, bagaimana Ibu akan mencarinya?"


Jeje mendengus kesal.


"Untuk mencari Ayah tidak harus di kuburan kan? Pinggir jalan ada banyak berserakan, kenapa Ibu pusing sekali?!"


Ugh!


Jeje, Ayah bukanlah sesuatu yang bisa di samakan dengan sampah!


Bersambung.