
"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan servis ku semalam? Kau suka atau tidak?" Tanya Heinry, dan lagi-lagi maksudnya bertanya adakah untuk menggoda Amy saja.
Amy hampir saja tersedak, tapi untunglah dia bisa menahan diri dengan baik dan berakting senatural mungkin agar Heinry berhenti dulu membahas soal semalam karena itu menyebalkan!
"Servis apa? Kau seperti itu kau sebut Servis? Jangan menilai diri sendiri terlalu tinggi! Aku benar-benar kecewa! Pokoknya, sebagai hukuman, aku tidak akan mengizinkan mu menyentuh ku lagi!" Ucap Amy dengan tatapan mengancam namun, itu benar-benar membuat Heinry ingin tertawa.
"Wah, begitu ya sayang! Kalau begitu, aku sudah pesan obat perangsang dan juga pil agar bisa menambah stamina sebelum ehem nanti! Tolong bersabarlah sebentar ya? Aku janji, aku tidak akan membuatmu kecewa lagi. "
Amy menatap Heinry dengan tatapan marah.
"Tidak mau! burung mu saja cuma sebesar kelingking kakiku, jadi jangan banyak gaya sekali!"
CK! Heinry menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sebesar kelingking? Hah, padahal dia juga cukup percaya diri dan sudah mencari tahu lewat Tante gogle bahwa, ukuran kemoceng berbulu pria di negaranya jelas jauh kalau dibandingkan dan tentu saja lebih besar miliknya. Cih, masih mau bilang miliknya kecil?
Heinry berjalan mendekati Amy, membuat tubuh mereka saling menempel dengan menahan pinggulnya. Heinry mendekatkan ke telinga Amy dan berbisik disana,"Sayang, kau kesal karena aku tidak bisa memenuhi harapanmu, atau kau tidak mau mengakui kalau kau kelelahan?"
Heinry tersenyum menatap Amy yang kini menatapnya dengan tatapan kesal. Amy mengigit bibir bawahnya, dia kesal memang, tapi dia juga malu tapi dia tidak mau mengiyakan apa yang di katakan oleh Heinry.
Tidak boleh! Pokonya, dia tidak boleh kalah dari Heinry.
"Aku, tidak kelelahan! Mau sepuluh ronde pun, aku pasti sanggup!"
Heinry menghela nafasnya, dia membelakangkan rambut Amy ke belakang telinga dan menyentuh wajah Amy serta mengusapnya dengan lembut.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan. Kau yang tidak ingin kalah dari pasanganmu, kau tidak ingin menjadi tertindas dan tidak ingin cerita kedua orang tuamu terjadi kepada kita. Cukup, hentikan, kau terlalu keras kepada dirimu sendiri. Kau menyakiti dirimu sendiri, kau terlihat baik-baik saja seolah kau sudah melepaskan trauma mu. Tapi, sebenarnya kau remuk, kau hancur, kau tidak tahu bagaimana memperbaikinya, kau kebingungan dan tidak memiliki petunjuk apapun. Namun, kau memilih diam dan menyembunyikan itu semua dan enggan untuk meminta tolong," Heinry mengecup dahi Amy dan kembali mengusap wajahnya dengan lembut.
"Jangan sembunyikan itu lagi, tinggalkan saja sesuatu yang sudah remuk dan hancur. Tidak usah diperbaiki jika itu mustahil. Datanglah kepadaku, mari kita buat rumah kita bersama-sama, berjuang bersama-sama dan membuatnya kokoh sehingga tidak akan remuk dan hancur lagi. Kalau kau melakukan semua ini untuk Jeje, maka mari berjuang bersama dan jangan menjadikan Jeje Amy kedua."
Amy menelan salivanya sendiri. Sialan......! Kenapa mulut sialan Heinry bisa mengeluarkan kata-kata menyentuh semacam itu? Padahal, dia ingin mencoba berkilah dengan menyudutkan Heinry tetapi, kenapa lidahnya terasa kelu?
"Mulai dari hari ini, aku akan terus memanggilmu sayang tidak perduli dimana dan dengan siapa kita berada. Aku akan membuktikan," Heinry menelan salivanya sendiri. Aduh! Apa yang harus dia katakan? Ah, dia lupa!
Amy menghela nafasnya lalu berkata,"Sudah, jangan bicara lagi! Meskipun aku tidak terlalu paham apa yang kau bicarakan, tapi aku akan coba untuk melakukannya. Demi Jeje, demi diriku sendiri juga," Ucap Amy dengan senyum tipis yang timbul.
Yah, ucapan Heinry batuan benar-benar cukup membuatnya berdebar dan merasa lega. Setidaknya, Heinry juga tidak ingin kalau sampai Jeje mengalami nasib yang kurang baik seperti yang dia alami. Entah kapan cinta dihatinya akan tumbuh, tapi Amy tidak menapik kalau Heinry menunjukkan segala kesungguhan yang membuatnya berdebar dan merasa bersyukur karena orang dia nilai adalah, Heinry.
"Jadi, bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan? Atau kalau kau tidak mau, aku sih tidak masalah kalau harus menghabiskan waktu di dalam kamar," Ujar Heinry lalu tersenyum penuh maksud membuat Amy berdecih kesal.
Sialan! Barusan dia merasa bersyukur memiliki suami seperti Heinry, tapi kenapa satu detik kemudian dia sudah merasa menyesal?
"Tentu saja pergi jalan-jalan! Seharian di kamar memang mau apa?!" Kesal Amy.
"Dasar sinting!"
Heinry terkekeh, di membiarkan Amy melepaskan diri darinya dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih pantas untuk di pakai jalan-jalan. Udara di sana juga sangat dingin dan bersalju, jadi Amy juga sudah menyiapkan pakaian musim dingin miliknya sekaligus milik Heinry.
Amy yang sedang sibuk mengenakan pakaian, maka Heinry juga sedang sibuk menghapus semua pesan dari Ayahnya. Hah! Ternyata, ucapan yang menyentuh tadi, ucapan sepeti datang dari mulut malaikat hingga membuat Amy tersentuh, ternyata dia hafalkan, dan dialognya di buat oleh Ayahnya yang memiliki hobi membaca novel romansa.
"Selesai!" Ujar Heinry lalu bisa tersenyum lega sekarang.
"Apanya? Kau tidak ganti baju?" Tanya Amy yang mengira jika Heinry sedang bicara dengannya.
Eh! Heinry segera meletakkan ponselnya, lalu menggunakan pakaian yang sudah disiapkan oleh Amy.
Beberapa saat kemudian.
Amy dan Heinry benar-benar bahagia sekali, mereka mendatangi tempat sejarah di jaman kuno, dan menikmati makan siang bersama juga malam romantis.
"Besok, apa yang akan kita lakukan?" Tanya Amy seraya menyeruput teh panas yang baru saja mereka pesan.
Heinry terdiam sebentar, tersenyum juga sebelum menjawab.
"Besok pagi kita pergi untuk mencari tempat sarapan yang enak, lalu pergi menonton pertunjukan tahunan, sorenya aku ingin mengajakmu ke tempat dimana kita bisa melihat aurora."
Amy terlihat bersemangat,"Aurora? Tepat seperti memang ada di dunia nyata ya?"
Heinry mengacak rambut Amy dan tersenyum.
"Tentu saja ada, kenapa kau tidak tahu?" Tanya Heinry.
Mau menghela nafasnya,"Aku memang pernah dengar, tapi aku tidak terlalu tertarik karena tidak yakin tempat seperti benar-benar ada."
Heinry tersenyum sembari menatap Amy.
"Baiklah, ini sudah jam delapan malam, sudah waktunya kembali ke hotel dan istirahat!" Ucap Heinry seraya mengambil posisi untuk bangkit.
Amy mengangguk dengan cepat, dan semangat. Bagaimanapun, besok dia akan benar-benar datang ketempat dimana dia bisa melihat Aurora jadi, dia akan menghubungi Jeje agar dia juga bisa melihatnya.
"Andai saja Jeje ikut ya?" Gumam Amy seraya menjalankan kaki beriringan dengan Heinry.
"Yah, kalaupun tidak ada Jeje disini, bagiamana kalau kita buat saja adiknya Jeje sebagai wakilnya?