One Night Special

One Night Special
Menyelesaikan Dengan Uang



Heinry dan Amy kini sedang di dalam perjalanan untuk menuju ke negara di mana mereka akan melakukan bulan madu. Berbeda dengan Heinry yang terus tersenyum, sejak tadi Ay benar-benar tidak berhenti merengut sedih, sesekali juga menitihkan air mata. Alasannya, tentu saja adalah Jeje! Ini adalah kali pertama untuknya meninggalkan Jeje sampai dua minggu. Mereka akan terpisah, mereka tidak lagi atau negara, dan hal ini benar-benar tidak pernah ada dalam rencana Amy sebelumnya.


"Amy, ini hanya dua Minggu oke? Kau tahu bagaimana Ayah dan Ibuku menyayangi Jeje kan? Jhon dan Nenek juga akan datang sesering mungkin agar Jeje tidak merasa kesepian. Toh, diantara semua orang yang berasa agak sedih karena kita pergi, kau juga ingat berapa kali Jeje terus meminta kita untuk bergegas lebih cepat kan?"


Amy menghela nafasnya, entah apa yang sedang di pikirkan putrinya saat ini. Tapi, melihat ekspresi Jeje tadi, Sepertinya Jeje juga merasa khawatir dan berat. Jeje pasti takut Ayahnya tidak bisa menjaga dengan baik Ibunya kan?


Di sisi lain.


Jhon kini tengah berdiri di hadapan seorang pria yang tidak lain adalah, Ayah kandungnya sendiri. Dia datang atas permintaan Heinry.


"Untuk apa kau datang kemari?" Tanya Ayahnya dengan mimik wajahnya yang dingin dan nada bicaranya yang ketus.


Jhon membuang nafasnya, memang siapa juga yang rela datang kesini kalau bukan karena tepaksa? Cih! Untung saja Jhon selalu ingat bagaimana Heinry begitu memperjuangkan Amy, kalau tidak, buat ditindih oleh planet Jupiter juga ogah dia mendatangi Ayahnya.


"Saya datang sebagai sekretaris dari Presdir Heinry, dan juga Nyonya Heinry. Anda pasti tahu kan, saya bekerja sebagai asisten sekretaris Presdir Heinry?" Ucap Jhon dengan nada bicaranya yang begitu sopan padahal di dalam hatinya, dia ingin sekali menjambak kumis Ayahnya yang menyebalkan kala matanya mengarah kesana secara tidak sengaja.


Ayahnya Jhon mengeryit dengan tatapan bingung. Sebagai suruhannya Heinry? Apa yang ingin dibicarakan dengannya?


Beberapa saat kemudian.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Ayah.


Jhon terima sebentar, dia terus melirik melihat kearah jam tangan yang melingkar pada lengannya. Yah! Sebentar lagi jam kerja sudah habis! Bagus! Sudah habis, jadi dia bukan lagi pegawainya Heinry!


"Begini, aku datang untuk menyerahkan surat perjanjian, juga peringatan kepada Ayah." Ucap Jhon yang kini bisa memperlihatkan wajah sombong, angkuh dan menyebalkan seperti Jhon yang dia kenal selama ini.


Eh, kenapa lagi dia tiba-tiba berubah sih?! Bagus seperti awal tadi, telinganya serta otaknya tidak akan sakit menghadapi Jhon! Batin Ayah kesal.


"Surat perjanjian apa? Peringatan untuk apa?" Tanya Ayah yang bingung dan tidak mengerti apa maksud ucapannya Jhon.


Jhon menghela nafasnya sebentar, lalu berkata,"Surat perjanjian bahwa, setelah Ayah menerima uang, Ayah tidak boleh datang menemui Amy dengan tujuan materi, Ayah juga tidak boleh menemui Amy, memaksa saat Amy menolak. Ayah, tidak diperbolehkan mengirimkan pesan, menghubungi dengan cara apapun kecuali lewat orang tertentu. Ingat, Ayah tidak boleh menemui Amy saat Amy menolak."


Uang? Uang? Uang?


Hanya yang saja lah yang dipikirkan oleh Ayah, dia tidak memikirkan yang lain, apalagi memikirkan Amy.


"Berapa uang yang akan aku dapatkan?" Tanya Ayahnya Amy.


Jhon menarik nafasnya, membuang dengan kadar sembari menatap tajam pria yang katanya adalah Ayah kandungnya.


"Lima ratus juta. Uang segitu banyak seharusnya cukup untuk membayar cairan benih Ayah kan? Yah, soalnya Ayah kan cuma tahu menghamili tapi tidak tahu cara mengurus, anak yang tumbuh dengan tidak di anggap, bahkan tahu-tahu sudah dewasa, memiliki keluarga, tapi masih begitu baik memberikan uang. Kalau aku sih, lebih baik jadi anak durhakim dari pada membuang uang lima ratus juta hanya untuk," Ujar Jhon yang sukses membuat mata Ayahnya mendelik kesal.


"Kapan aku bisa menerima uangnya?" Tanya Ayahnya Amy yang terlihat begitu tidak sabaran.


"Hari ini, uangnya akan dikirim hari ini setelah tanda tangan antara kedua belah pihak terselesaikan." Ucap Jhon.


Ayahnya Amy Jadi terlihat semakin bersemangat.


"Kalau begitu, mana surat perjanjian yang kau maksud?"


Jhon meraih tas miliknya, mengeluarkan amplop itu kepada Ayahnya sembari berkata,"Baca saja dulu isi surat perjanjiannya!"


Ayahnya sama sekali tak menghiraukan hal itu, dia langsung saja menandatangani karena dibutakan dengan lima ratus juta yang katanya akan dia dapatkan hari ini juga. Entah apa isi surat perjanjian itu, sama sekali tidak penting, dan tidak bisa di bandingkan dengan uang!


Jhon menggelengkan kepalanya karena merasa begitu keheranan dengan Ayahnya sendiri.


"Baiklah, karena sudah ditandatangani, maka tunggulah beberapa saat dari sekarang, uang itu akan langsung masuk kedalam rekening."


Ayahnya mengangguk dengan semangat membuat Jhon benar-benar merasa kalau lebih baik dia segera meninggalkan tempat itu sebelum kekesalannya memuncak.


Setelah pergi dari rumah Ayahnya, sekarang Jhon menemui Ibunya Amy dan menyelesaikan apa yang diperintahkan oleh Heinry kepada Jhon.


"Kau siapa?" Tanya Ibunya Amy saya dia melihat Jhon bertamu.


"Selamat sore, Nyonya? Saya adalah John, kakak laki-lakinya Amy, sekaligus asisten sekretaris Presdir Heinry."


Ibunya Mau tersentak, dia sungguh tidak menyangka kalau pria muda di hadapannya itu adalah anak tirinya sendiri.


"Ya ampun, Jhon! Ah, silahkan duduk!" Titah Ibunya Amy.


"Ngomong-ngomong, tumben sekali datang, ada perlu apa?" Tanya Ibunya Amy begitu mereka sudah berada dalam posisi duduk bersebrangan meja.


Jhon memaksakan senyumnya, dia mencoba untuk terlihat sopan bagaimanapun suasana hatinya saat itu.


"Saya datang atas permintaan, Presdir Heinry. Presdir mengatakan kepada saya bahwa, dia tidak ingin istrinya sedih seperti berapa saat stelah anda menemui istrinya Presdir. Karena tujuan anda menemui istri Presdir karena keuangan, maka saya datang untuk memberikan uang kepada anda. Tapi, dengan catatan, anda tidak boleh lagi menghubungi, menemui Nyonya Presdir hanya karena urusan materi. Presdir juga meminta agar anda, mengontrol lebih anak anda yang lain, termasuk anak tiri untuk tidak menemui Amy, dan jangan membawa nama Amy apapun masalahnya."


Ibunya Amy mengeryitkan dahinya.


"Maksudnya, Amy ingin memutuskan hubungan denganku yang adalah Ibunya sendiri?"


Jhon menggelengkan kepalanya.


"Salah, saya datang bukan karena Nyonya Presdir, tapi Presdir Heinry. Dalam surat perjanjian adalah, anda dilarang menemui Nyonya presdir jika anda datang untuk meminta Materi. Namun, jika anda datang untuk silaturahmi dan melihat keadaan Amy serta cucu anda, maka anda bisa melakukanya."


Bersambung