One Night Special

One Night Special
Hati Seorang Ibu



Heinry kembali ke rumah dengan perasaan tak berdaya namun juga sangat sedih. Sejak dia masuk ke dalam rumah dia mengabaikan pertanyaan Ibunya, juga mengabaikan Ayahnya yang menyapanya beberapa kali.


Bagiamana tidak?


Kenyataan yang menjelaskan bahwa dia telah memiliki anak secara tidak sadar sudah membuatnya sangat shock sekali, di tambah ternyata anaknya sangat tajam bicaranya, lalu Ibu dari anaknya yang sangat tidak tahu malu dan tidak berperasaan karena memperlakukannya seperti itu.


Surat perjanjian itu sungguh memberikan banyak keuntungan, tapi yang tidak bisa Heinry terima adalah, Amy yang seperti tidak menyukainya sama sekali.


Begitu masuk ke dalam kamar, Heinry langsung berjalan menuju kaca, dia memperhatikan bagiamana penampilannya hari itu. Iya, memang benar tidak serapih saat dia sedang bekerja, tapi sudah jelas tampangnya yang di atas rata-rata tidak akan mungkin terlihat jelek begitu saja kan?


Bahkan jika wajah Heinry di penuhi lumpur juga akan tetap terlihat tampan.


"Bagaimana bisa wanita itu sama sekali tidak terpesona sama sekali?, kenapa justru dia lah yang tidak menginginkan ku?, bukanya dulu dia yang mengejar ku?" Tanya Heinry bergumam seorang diri dengan mimik wajahnya yang terlihat melas.


Heinry sudah terbiasa mendapatkan tatapan penuh perasaan suka dari wanita, dan tatapan Amy saat melihatnya seolah dia sedang mengatakan bahwa dia sama sekali tidak tertarik dengan Heinry sedikitpun.


Duh!


Bagaimana bisa Heinry menerima itu?!


"Dasar perempuan! Memangnya apa kurangnya aku?!," Kesal Heinry yang tanpa sadar kedua orang tuanya tengah menguping apa yang di katakan Heinry.


"Dia itu bicara apa sih?, kenapa tidak jelas sekali?" Ujar Ibunya Heinry yang kesal dan gemas ingin masuk dan bertanya secara langsung kepada putranya.


"Sepertinya anak kita sedang patah hati, atau mungkin cintanya di tolak." Ujar Ayahnya Heinry yang langsung membuat kedua bola mata istrinya membulat karena terkejut.


"Sinting!, mana mungkin anakku di tolak wanita?" Potesnya.


Ayahnya Heinry menghela nafas, dia sebentar terdiam seolah bisa merasakan benar bagaimana kecewanya dia sebagai seorang Ayah yang anaknya dibuat patah hati oleh seorang gadis.


"Sudahlah, Heinry itu berarti tidak searah dengan kekasihnya. Lebih baik nasehati dia dan biarkan dia menemukan wanita lain yang lebih pantas dan cocok untuknya."


Ibunya Heinry melirik suaminya dengan sinis, tentu saja dia berbeda pendapat.


"Kalau memang benar ada wanita yang menolak putraku, maka wanita itu adalah manusia langka yang pantas untuk menjadi menantu!"


Eh?


Ayahnya Heinry menatap dirinya dengan tatapan heran.


"Menguping saja tidak cukup, dan sekarang kalian berdua menggosipkan ku?" Tiba-tiba saja pintu kamar Heinry terbuka, Heinry menatap Ayah dan Ibunya dengan tatapan dingin sembari mengatakan itu.


Ayah dan Ibunya Heinry segera membenahi posisi mereka, mencoba sebaik mungkin untuk tetap santai walupun mereka benar-benar merasa malu dan tidak enak.


Di sisi lain.


"Kenapa Ibu tidak biarkan aku berbicara dengan Ayah?" Tanya Jeje, menatap Ibunya dengan tatapan dingin juga sinis.


"Ayah?, kenapa semudah itu kau memanggilnya Ayah sih sayang Ibu? " Amy mencoba tersenyum selebar mungkin dan tidak memperlihatkan kalau sebenarnya perasaan Amy juga agak kacau setelah melihat Heinry beberapa saat lalu.


"Lalu aku harus panggil apa?, terlalu tua untuk sebutan kakek, terlalu muda untuk sebutan kakak. Jika membaginya paman aku benar-benar tidak nyaman memilki dua paman, aku juga tidak mungkin memanggil dia bIbi kan?"


Amy kembali mengembangkan senyumnya.


Sebelumnya Amy sama sekali tidak pernah memikirkan kalau pada akhirnya semua ini akan terjadi hingga mau tidak mau Jeje terikat secara langsung dengan mereka berdua, Amy dan Heinry.


Tadinya Amy pikir masih ingin membohongi Heinry bahwa kebetulan saja wajah Jeje dan Heinry mirip, tapi dia juga tahu benar bagaimana Heinry dan kekuatan keluarganya. Ke ujung dunia pun sepertinya mereka akan tetap bisa menemukan.


Amy meraih tangan anaknya, menariknya dengan pelan agar Jeje menjatuhkan dirinya di pangkuannya.


"Ibu, kenapa Ibu membohongiku?" Tanya Jeje dan sudah bisa Amy tebak bahwa yang di maksud adalah tentang Ayah kandungnya.


Amy menghela nafasnya.


"Maaf ya sayang? Ibu tahu Ibu salah, sejak kemarin Ibu ingin meminta maaf padamu hanya saja Ibu urung karena Ibu merasa malu." Amy memeluk erat tubuh putrinya yang duduk di pangkuannya.


Jeje terdiam sebentar.


Sejujurnya dia bahagia sekali karena nyatanya dia memiliki Ayah kandungnya sendiri, tapi anehnya kenapa setelah melihat Ayahnya dia tidak merasa begitu baik terutama untuk Ibunya? Melihat Amy yang tidak tertarik Jeje jadi menyimpulkan kalau Ayahnya pasti adalah orang jahat dan banyak menyakiti Ibunya sehingga Ibunya marah dan enggan untuk menemui pria yang katanya adalah Ayah dari Jeje.


"Ibu, apa Ayah adalah orang yang jahat?" Tanya Jeje.


Tentu saja Amy menggelengkan kepalanya, jahat? Bisa di bilang Heinry adalah pria yang baik karena hingga sekarang dia masihlah bukan Heinry yang akan memanfaatkan wajah serta uangnya dalam urusan wanita.


"Dia orang yang cukup baik, hanya saja untuk beberapa hal dia adalah orang yang pelit juga."


Jeje mengangguk saja meski tidak terlalu paham apa yang di katakan oleh Ibunya.


"Jika Ayah datang kesini, apa aku boleh mengajaknya bicara berdua saja, Bu?" Tanya Jeje.


"Tentu saja!"


Tidak!


Esok harinya.


"Apa!?"


Kedua orag tua Heinry saling menatap tak percaya, lalu menatap Heinry dan menghela nafas secara bersamaan.


"Kau ini sedang bercanda ya? Bagaimana bisa kau tiba-tiba punya anak?! Kenapa Ibu tidak tahu saat kau membuatnya?!"


Heinry menghela nafas sebal, kenapa Ibunya begitu berlebihan sekali? Walaupun memang Heinry adalah anaknya, apakah penting untuk seorang anak bahkan memberitahu Ibunya kapan dia membuat anak?


"Ibu, sungguh hentikan itu karena aku sedang serius!" Ucap Heinry kesal.


Ibunya Heinry kembali terdiam, sungguh dia tidak mengerti kenapa dia harus mendengar itu, kenapa anaknya sudah punya anak? Kenapa juga dia harus menjadi nenek secara tiba-tiba?


"Heinry, Ayah benar-benar kenal kau pria seperti apa jadi tolong jangan percaya wanita jahat yang mengaku melahirkan anakmu! Dia pasti sengaja menipumu untuk kau nikahi, artinya dia pasti adalah penggemar beratmu!" Ucapan Ayahnya Heinry yang terlihat begitu yakin.


"Iya! Ibu juga setuju dengan apa yang di katakan Ayahmu! Bagaimanapun orang mirip meski tidak ada hubungan darah adalah hal lumrah, jadi jangan percaya padanya! Heinry, Ibu bersumpah akan menjadi benteng agar wanita aneh membawa anak itu tidak bisa mengganggumu!" Ucap Ibunya Heinry.


Heinry menghela nafas, lalu meraih ponselnya untuk menunjukkan photo Jeje.


"Lihatlah wajah anak ini dulu, baru katakan apa yang Ayah dan Ibu katakan tadi," Ucap Heinry seraya menunjukkan layar ponselnya.


Bersambung