
"Kenapa kau juga datang? Ingin menjadi pahlawan di hadapanku? Sungguh terimakasih tapi aku tidak terlalu membutuhkan bantuan," Ucap Amy menatap Heinry dengan tatapan sebal, tentu saja pembicara itu terjadi setelah Ayahnya Amy keluar dari rumahnya.
Jhon kini sedang berada di dalam kamar neneknya, menenangkan neneknya yang terkejut dan syok karena kedatangan putranya dan pembicaraan putranya yang membuat emosinya naik.
Heinry menghela nafasnya, entah kenapa tadi dia juga merasakan emosi padahal seharusnya dia tidak perlu ikut campur kan?
"Melindungi Ibu dari anakku apa aku juga tidak boleh?" Tanya Heinry.
"Tidak boleh! Aku bukannya gadis lemah yang perlu perlindungan dari pria manapun!" Sinis Amy.
Heinry tersenyum tipis dengan sorot matanya yang terlihat aneh membuat Amy mengeryitkan dahinya karena bingung tapi juga kesal.
"Apa-apaan senyum mu itu?!"
Heinry menggaruk tengkuknya yang tak gatal, lalu menatap Amy dan berkata,"Mana ada orang yang sudah melahirkan menyebut dirinya gadis? Memangnya kau tidak malu?"
Amy ternganga kesal, malu? Apa itu malu? Dia bahkan bisa memperkosa pria sampai dia punya anak, bagian dari dirinya yang mana yang pantas merasakan malu?
"Yah, aku memang tidak malu, jadi kenapa memangnya? Iri? Ingin tidak punya rasa malu juga?" Sinis Amy.
Heinry langsung menutup mulutnya rapat-rapat, yah rasanya kenapa ya setiap kali berbicara dengan Amy mulutnya terasa begitu gatal seperti ingin mengatakan apa yang ingin dia katakan, yah, mengangguk bagian yang gatal memang memiliki kepuasan tersendiri kan? Jadi itulah kenapa Heinry sering tidak bisa menahannya jika dihadapan Amy.
"Karena kau sudah menutup mulut mu rapat-rapat, sudah sana pulang! Hariku sedang sangat kacau hari ini, wajahmu itu membuatku tambah kesal."
Heinry mengangguk-anggukkan kepalanya seolah dia paham, tapi sayangnya dia masih tidak cepat bangkit dan keluar dari sana.
"Kenapa masih disini?!" Tanya Amy semakin kesal.
"Karena aku masih ingin disini!" Ucap Heinry dengan tegas tapi raut wajahnya terlihat begitu santai membuat siapapun yang melihatnya pasti akan kesal.
Amy menggigit bibir bawahnya, menahan dirinya agar tidak terus merasa kesal.
"Heinry yang tampan, haruskah aku menyanyikan lagu balonku ada lima, memecahkan satu balon supaya kau tahu bahwa hatiku sangat kacau?" Tanya Amy, menatap Heinry dengan tatapan matanya yang begitu tajam tapi bibirnya tersenyum begitu aneh membuat Heinry tidak tahan untuk tidak tertawa.
Heinry berdehem mengusir rasa ingin tertawa sekuat tenaga. Entah lah, mungkin dulu dia juga merasa tertarik dengan Amy karena dia seperti memiliki daya tarik yang luar biasa.
untuk wajah, jelas Amy cantik karena dia adalah wanita. Hanya saja dia tidak secantik wanita yang biasanya mendekati Heinry. Tubuhnya juga biasa saja, justru bisa dibilang kerempeng dan terlalu rata.
Yah, Heinry juga mulai penasaran kenapa dia bisa tertarik untuk dekat dengan sanita seperti Amy?
Amy membuang nafas kasarnya, tersenyum dengan tatapan tak percaya,"Bagaimana mungkin orang setua kau masih begitu penurut?"
Heinry tersenyum, tua? Usianya baru saja lebih satu tahun dari angka tiga puluh, tapi sudah dicap tua? Tolong......! Di jaman sekarang banyak sekali kok pasangan yang menikah diusia empat puluh, memiliki anak diusia itu asalkan tidak lepas dari pengawasan dokter tentu sah sah saja kan?
"Usia itu hanyalah anak, Amy. Bukankah yang paling penting onderdilnya masih oke?"
Amy tertawa dengan maksud menghina,"Oke apanya? Namanya orang kalau mau testimoni ya bohong kalau cuma sekali coba langsung puas? Aku butuh buktimu sekarang!" Ucap Amy.
"Mau bukti? Jadi sebelumnya kau tidak puas ya? Mau sekarang mencobanya lagi?" Heinry tersenyum menatap Amy membuat Amy tidak lagi bisa tahan.
Di sisi lain.
"Hari ini aku benar-benar semakin yakin untuk menjadikannya menantu ku! Cara dia menilai orang, cara dia dalam memperlakukan orang dengan begitu berani, tida langsung mengatakan yang sebenarnya namun langsung memberikan bukti, bukankah dia itu sangat keren?" Ibunya Heinry sejak tadi terus saja menyanjung Amy di hadapan suaminya yang bahkan sudah sangat bosan mendengarnya.
"Berkat Amy juga, sekarang aku sudah tidak perlu lagi merasa kesal saat teman-teman ku memamerkan cucu mereka! Jelas lah cucuku itu paling cantik, pintar, dan juga bijak dalam bertingkah laku," Ibunya Heinry memandangi photo Jeje yang ada di ponselnya.
"Kau tahu benar bagaimana mereka kan? Selalu saja bertanya kapan Heinry menikah? Jangan-jangan Heinry memiliki kelainan orientasi, kasihan sekali ya padahal Heinry adalah anak yang tampak dan pintar. Cih! Sekarang mereka tidak bisa berhenti memuji saat aku memamerkan photo dan video cucuku. Aku benar luas sekali!"
Ayahnya Heinry menghela nafas, sebenarnya dia juga sangat bahagia dan bangga karena nyatanya dia telah memiliki satu cucu yang sangat cantik dan pintar. Berbeda dengan Ibunya Heinry yang begitu senang memamerkan wajah Jeje dan segala kepintarannya, Ayahnya Heinry jutsru tidak ingin melakukan itu sama sekali. Dia takut akan ada orang jahat yang mengincar cucunya, dia takut cucunya akan dalam bahaya, dia takut orang yang tidak memiliki anak jadi ingin menculik Jeje nantinya. Yah ketakutan itu memang berlebihan, tapi beginilah cara Ayahnya Heinry melindungi cucu pertamanya.
"Ngomong-ngomong, bagaimana kalau kita jebak saja Heinry dan Amy seperti kebanyakan cerita dalam novel, komik dewasa dan drama? Dengan percintaan semalam dibawa pengaruh obat bius biasanya akan berakhir dengan saling mencintai kan?"
Ayahnya Heinry kembali menghela nafasnya, bukankah cerita itu hanya ada dalam dunia drama saja? Apakah istrinya lupa kalau disini yang tidak ingin menikah adalah Amy, bukan keduanya.
"Berhentilah memikirkan yang macam-macam, apapun yang menjadi keputusan mereka juga patut ungu kita coba menghargai nya. Heinry sudah oke untuk menikahi Amy, tapi kau tahu bagaimana Amy kan? Biarkan saja semua berjalan seperti seharusnya, jangan terlalu memaksa kan kehendak karena pada akhirnya semua akan berakhir dengan buruk."
Ibunya Heinry berdecih kesal, lagi-lagi sok bijak!
Mana mungkin dia akan mengikuti ucapan suaminya? Kapak lagi coba Heinry siap menikah? Sudah begitu Amy juga adalah Ibu dari cucunya, kalaupun tidak mungkin dia sebagai seorang Ibu akan menjadikan apapun yang tidak mungkin menjadi mungkin.
"Kau pasti tidak ingin mendengar saran dariku kan?" Tanya Ayahnya Heinry yang bisa menebak apa yang dipikirkan oleh istrinya.
"Sudah tahu pakai ditanya! Ikan sudah ada di jaring tunggal ambil kenapa harus dibiarkan saja? Kalau seperti itu yang bisa di makan ya hanya jaringnya saja!"
Bersambung.