One Night Special

One Night Special
Sabar, Ini Ujian!



Jeje membuang nafas melihat Ayahnya yang datang padanya sembari membawa bantal. Yah, memang bukan hal yang asing Apa yang dilakukan oleh ayahnya itu. Akan tetapi, tetap saja itu menyebalkan bagi Jeje. Setiap hari harus mendengarkan curhatan Ayahnya, mulai dia dari cekcok dengan Ibunya, lalu diusir oleh Ibunya dari kamar, dan tentang dia yang sedih karena Ibunya Jeje tidak mau berdekatan dengan Ayahnya.


"Ayah, Sampai kapan ayah akan mengungsi di kamarku? Aku juga butuh waktu sendiri, dan tenang." Ujar Jeje dengan mimik wajahnya yang terlihat sebal.


Heinry dengan tatapan sedih lalu berkata,"kalau kau juga menolak ayahmu ini, apa tidak takut Ayahmu akan bunuh diri?" Ucap Henry dengan mimik wajahnya yang dia buat agar terlihat sesedih mungkin. Agak menggelikan memang, pria yang tadinya selalu bersikap dingin dan tidak banyak bicara, tengah merengek dan terus bicara seperti bayi yang menginginkan botol susunya.


Jeje memutar bola matanya sebal, dia juga sudah tidak tahu harus mengatakan apa kepada ayahnya yang malang itu. Jeje mengabaikan saja ayahnya yang mengambil posisi untuk berbaring di tempat tidur, lalu melanjutkan kegiatannya yang tengah mewarnai gambar di sebuah buku untuk melatih motorik pada anak.


"terserah Ayah saja deh, setelah ini Tolong jangan membuat anak lagi. Padahal, aku pikir memiliki adik akan membuat ku sedikit lega, tidak tahunya malah aku juga ikut repot," Gumam Jeje sebal.


Heinry menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dia sendiri juga tidak tahu kenapa semuanya jadi seperti ini? dia juga inginnya semua rencananya berjalan dengan sangat baik dan lancar-lancar saja, Tapi siapa sangka tolong ngidam pada ibu hamil bisa seekstrim ini?


"Setelah Ayah pikirkan lagi, sepertinya setelah ini ayah juga tidak ingin memiliki anak lagi deh. karena kalau punya anak kan harus ngidam dulu ibumu, ngidam ibu hamil benar-benar sangat menguji iman padahal, ayahmu ini kan tidak punya iman." Ujar Heinry lalu menghela nafasnya sendiri dan memikirkan betapa menyedihkannya dia setelah istrinya benar-benar hamil.


Di sisi lain.


Jhon menaikkan satu sisi alisnya saat kedua bola matanya tak sengaja melihat sosok wanita yang dulu pernah dekat dengannya saat sekolah menengah atas. sebenarnya, Jhon masih tidak bisa memahami Kenapa bisa-bisanya dia muncul dengan begitu tiba-tiba lalu menjadi asisten yang diminta oleh Heinry untuk membantunya dalam segala pekerjaan tentang perusahaan.


"Lorita, kau datang ke sini jangan-jangan ingin menyeleksi pria ya? Atau, kau datang ke sini ingin menjadi orang ketiga dalam hubungan suami istri adikku juga Heinry? Kalau benar begitu, maka jangan salahkan aku yang akan mencekikmu, lalu melempar kamu sampai ke planet Uranus!" Ucap Jhon dengan tatapan menyelidik yang begitu jelas terlihat.


Yah, wanita itu adalah Lorita! tentu saja, Lorita datang atas bantuan Amy yang sukses membujuk suaminya untuk mempersatukan Lorita dan juga Jhon. Amy menggunakan alasan bahwa, Jhon sudah mulai tua dan butuh istri untuk merawat dirinya.


Duh! Amy benar-benar memperlakukan kakaknya seperti jumpo-jompo yang sudah hampir sakaratul alias metong. Padahal, usia 30 bukanlah usia jompo yang begitu membutuhkan orang lain untuk merawat dirinya.


"Rencananya sih, Aku memang ingin menjadi orang ketiga dalam hubungan rumah tangga adikmu itu. Tetapi, kalau dilihat-lihat kau lebih manis daripada Henry aku jadi ingin menjadi orang ketiga dalam hubungan rumah tanggamu dan istrimu," Ujar Lorita tentu saja niatnya hanya menggoda Jhon saja. Lagi pula, dia juga tahu bahwa Jhon masih belum menikah hingga sekarang.


Jhon berdecih sebal, cita-cita sialan macam apa itu? pertama-tama ingin menjadi orang ketiga dalam hubungan Henry dan juga istrinya, Lalu tiba-tiba ingin menjadi orang ketiga dalam hubungan rumah tangganya? Lorita ini sedang bercanda atau mengejeknya yang masih juga melajang dan belum menikah? Atau, bahasa kasarnya Jhon itu tidak laku! boro-boro bisa menjadikan wanita lain sebagai orang ketiga, orang pertama dan kedua saja dia masih belum menemukannya tuh!


"Sayang sekali ya, memiliki orang ketiga sepertimu sepertinya hanya memperpendek usiaku saja deh. Kalau boleh memberikan saran padamu, Lebih baik kau nikahi saja pantun Pancoran. Dia akan tegak dalam posisi, dan dia tidak akan mendengarkan semua ucapanmu, dan dia tidak akan cepat mati hanya karena terus merasakan tekanan darah akibat mendengarkan omelan mu." Jhon memaksakan senyumnya.


Ah, sialan! Memperpendek usia apaan?! Duh, rasanya ingin sekali menceritakan apa yang terjadi dalam hubungan rumah tangga dengan mantan suaminya dulu, supaya Jhon tahu kalau dia adalah wanita yang sangat sabar dan juga lemah lembut.


"Sudahlah, Kalau tidak mau menjadikanku orang ketiga Kau boleh kok menjadikanku yang pertama," Ucap Lorita lalu kembali tersenyum semanis mungkin.


Jhon terperangan tak percaya mendengar ucapan Lorita. sudah cukup ya, Dia pernah menjalin hubungan cinta monyet dengan si monyet yang namanya Lolita itu. Sedikit-sedikit minta dielus kepalanya, sebentar ingin dipanggil dengan, Ayang! makan harus saling suap-suapan, Lorita tidak segan-segan menempel seperti perangko di manapun sampai-sampai, semua orang menganggap mereka sudah menikah karena terlalu lengket.


"Sudahlah, Aku tidak ingin berbicara basa-basi tidak penting denganmu lagi. Intinya, Aku tidak membutuhkan asisten dalam pekerjaanku karena aku bisa mengerjakan semuanya sendiri. Juga, kau dilarang datang lagi ke sini. Ingat, kau juga tidak boleh mencoba untuk mengganggu rumah tangga adikku! saat ini, adikku sedang mengandung keponakan nomor 2 ku jadi, tidak boleh membuat Dia memiliki beban dalam hidup!" Ancam Jhon dengan mimik wajahnya yang terlihat bersungguh-sungguh.


Lorita memaksakan senyumnya lalu berkata,"kau tidak bisa melarangku untuk bekerja di sini, soalnya aku dipekerjakan langsung oleh Heinry. Lagi, aku juga tidak akan menjadi beban untuk adikmu kok. Kau tahu kenapa? Soalnya, Aku lebih suka menjadi bebanmu seorang saja!"


Jhon membuang nafasnya perlahan, dia memejamkan mata sebentar mencoba untuk menenangkan dirinya yang kesal sekali melihat norita terus berbicara dengan maksud menggodanya.


"Terima kasih banyak. Tetapi, Aku sungguh tidak membutuhkan beban seperti mu. Gigiku yang masih utuh ini bisa rontok dalam waktu 1 bulan, rambutku yang hitam dan tebal ini bisa memutih dalam waktu 1 minggu, kulitku yang masih kencang kenyal dan berseri ini bisa langsung kusam dan penuh dengan beban kalau sampai membiarkanmu berada di sekitarku terus. Dengan segenap kerendahan hati, jiwa raga, rasa hormat, dan juga jutaan rasa nano-nano, tolong menjauhlah dariku. Bila perlu, Pergilah ke planet Pluto atau kemana pun yang penting tidak dekat denganku."


Lorita kembali tersenyum lalu berkata," Karena kau bilang ke manapun, maka biarkan aku pergi ke hatimu!"