One Night Special

One Night Special
Durasi Satu Menit



Edith ternganga tidak bisa mempercayai apa yang dia lihat di hadapannya itu. Pria super tampan yang selama ini di kejar-kejar oleh Amy ada di hadapannya, duduk bersebelahan dengan Amy yang sejak tadi terlihat sangat tidak menyukai adanya Heinry di sana.


"Makanlah yang banyak, makan dan habiskan makanan itu siapa tahu kau tersedak piring dan mati supaya aku tidak berurusan lagi dengan mu." Kesal Amy yang sudah tidak lagi ingin menyaring ucapannya. Bagaimanapun masalah tempat tidur berakhir dengan Heinry yang akan menempati tempat tidur Amy karena Heinry sukses mengancam Amy dengan berbagai macam hal sehingga dengan seberat beratnya hati, dengan tidak rela dan juga mengutuk kejam Amy memberikan kamarnya kepada Heinry.


Heinry terdiam sebentar, tersedak piring ya? Walaupun itu terdengar tidak mungkin, tapi kalau memiliki wanita seperti Amy di sisinya, pasti setiap laki-laki akan memilih mati dengan cara apapun kan? Tersedak piring kek, tersedak lidah, bahkan tersedak meja makan sepertinya juga bukan hal yang buruk di banding harus menghadapi wanita seperti Amy.


"Sayang sekali, Tuhan tidak akan mengabulkan permohonan dan harapan siluman betina seperti mu. Yah, tidak mati tercekik CD pria saja itu sudah terbilang bagus."


Amy ternganga kesal, cih! Rasanya benar-benar ingin menusukkan garpu yang ia pegang ke mulut Heinry tapi Amy juga merasa tidak tega kalau wajah setampan Heinry jadi jelek. Bagaimana pun dia adalah Ayah dari bayinya, nanti kalau bayinya melihat Ayahnya aneh cukup menyebalkan juga kalau anaknya protes kan?


Edith menelan salivanya sendiri, sejak tadi dia benar-benar seperti tidak terlihat oleh dua orang sialan itu. Selama ini dia sudah tertekan dengan sikap Amy yang aneh, dia pikir Heinry adalah pria yang dingin dan tidak hanya bicara seperti yang dia lihat selama ini, tai kenapa Heinry bisa memiliki mulut yang sama berbisanya seperti Amy? oh, bukan berbisa mungkin, tapi lebih tepatnya mulut Amy dan mulut Heinry benar-benar tidak ada bedanya dengan kaleng rombeng.


"Heinry, mati tercekik CD pria artinya adalah mati dengan beruntung dan membanggakan! Kau, lebih baik kau mulai bersiap karena siapa tahu nanti kau akan mati tertindih buku-buku yang kau baca!"


Heinry tersenyum dengan tatapan matanya yang percaya diri, dia menegakkan sendok serta garpu di tangannya, menatap Amy seolah ucapan Amy jelas tidak akan pernah terjadi.


"Sepertinya aku akan mati di pelukan gadis gadis cantik, kau tahu sendiri kan kalau selama ini banyak gadis yang mengejar ku? Kau juga pernah menjadi salah satunya loh....."


Amy berdecih, tertawa sinis begitu mengutuk kepercayaan diri Heinry yang melebihi planet Jupiter besarnya.


"Heinry, aku akui wajah mu dan uang keluargamu adalah incaran yang menggiurkan, tapi kalau tahu durasi mu hanya satu menit, aku rasa mereka akan bubar menjauh dan dalam satu detik kau tidak akan memiliki penggemar wanita satupun."


Heinry tersedak makanan yang baru saja dia kunyah dan akan di telan. Satu menit? Maksudnya dia bisa sampai orgas** hanya dalam waktu satu menit? Itu jelas adalah penghinaan yang tidak termaafkan bukan?


Edith sudah tidak tahan lagi, dia megambil makanannya, dengan segera masuk ke dalam kamar, mengunci pintu kamarnya. Edith memegangi dadanya karena detak jantungnya benar-benar tidak bisa di kendalikan mendengar pembicaraan Amy dan Heinry tadi.


"Hanya Tuhan yang tahu seberapa lama aku bisa bertahan di antara dua orang aneh ini." Edith mengambil posisi duduk dengan mimik wajahnya yang masih saja tercengang, dia menyuapkan makanan dengan tangannya yang gemetar hebat.


"Sialan! Tuhan, ambil lah saja dua orang sinting itu, aku benar-benar tidak yakin akan panjang umur meski sudah susah payah mengikuti pola hidup sehat." Gumam Edith menahan tangis.


Kembali ke tempat makan.


"Apanya yang satu menit?!" Protes Heinry yang tidak bisa menerima tuduhan itu.


"Pu punya mu lah! Baru saja berdiri tahu tahu sudah keluar saja! Padahal waktu itu aku masih perawan, tapi kok rasanya cuma seperti di gelitik saja? Yah, setelah aku perhatikan benar, ukuran kemoceng mu memang kurang besar sih. Makanya kita perlu berdoa supaya anak kita bukan laki-laki karena aku takut nanti ukurannya persisi seperti ukuran kemoceng mu!"


Heinry tercengang luar biasa hingga tak bisa langsung merespon ucapannya Amy. Kecil? Heinry menunduk melihat bagian resletingnya, kecil? Tidak! Tentu saja tidak sekecil yang di ucapkan Amy hingga rasanya hanya menggelitik saja! Walaupun dia memang terkenal pandai dan hobi membaca buku, tapi Heinry juga beberapa kali pernah menonton video anu dan dia benar-benar yakin ukuran kemoceng miliknya terbilang besar.


Heinry mengatur nafasnya yang memburu karena perasaan kesal, setelah tenang dia menatap Amy dan tersenyum dengan tatapan dingin membuat Amy sedikit gugup di buatnya.


"Amy, kalau kau begitu meragukan durasi ku, bagiamana kalau kita coba saja lagi? Ukuran yang kau lihat kemarin mungkin saja kau salah melihat, kau ingat benar kan kalau kau langsung saja menyeruduk seperti banteng begitu melihat itu ku? Walaupun aku berada di dalam pengaruh obat perangsang, tapi ingatanku tidak melemah loh."


Amy tak bisa membalas ucapan Heinry, dia memilih untuk mengacuhkan saja dan kembali makan dengan nyaman.


Eh? Kemana Edith pergi? Sejak kapan dia menghilang bak di telan bulan?


Di sisi lain.


"Apa? Jadi kak Heinry juga pergi keluar negeri? Tapi dia tidak memberitahu padaku, aku tidak tahu dia di mana sekarang." Ucap Cheren yang baru saja mendapatkan kabar dari sahabat baiknya bahwa Heinry juga pergi ke luar negeri karena dia mengambil cuti kuliah selama satu Minggu.


"Jesica, terimakasih sudah memberitahu ku, aku akan coba menghubungi Ibunya Heinry dan menanyakan secara langsung."


Cheren memutuskan sambungan teleponnya, lalu segera menghubungi Ibunya Heinry untuk mengetahui keberadaan Heinry sekarang.


Hai, Cheren? Bagaimana kabar mu? Heinry tidak membuat mu kesal kan? Anak itu, apa yang sedang dia lakukan di sana?


Cheren mengernyit bingung, bagiamana bisa Ibunya Heinry berpikir bahwa Heinry sedang bersama dengannya? Apakah mungkin Heinry menyusul Cheren dan ingin memberikan kejutan untuknya? Memikirkan segala hal positif tentang Heinry, Cheren mencoba menutupi kebenaran tentang Heinry dan akan mencoba menunggu Heinry datang sampai malam nanti.


"Ah, kak Heinry baik-baik saja. Kami berjalan-jalan sore tadi, sekarang kak Heinry sedang istirahat karena kelelahan."


Baguslah, anak itu pasti lelah sekali. Titip Heinry dan jika terjadi sesuatu segera hubungi kami ya?


"Ah, iya Bibi."


Bersambung.