
Jhon berjalan mendekati Heinry, meraih kerah Heinry dan mencengkram kuat.
"Hei, lepaskan tangan mu atau kalau tidak aku akan memastikan kau pulang ke rumah tanpa kedua tangan lancang mu!"
Jhon jadi semakin kesal mendengar ucapan Heinry.
"Oh, haruskah aku juga membuat kau kehilangan kemoceng mu yang berani-beraninya menghamili adik ku?!"
"Apa? Kau sudah gila ya? Siapa yang menghamili siapa? Dari pada aku menghamili perempuan aneh seperti itu, bukanlah akan lebih baik menghamili babi betina saja?"
Jhon melepaskan tangannya, berjalan berbalik mengambil satu photo di mana ada Amy dan Jeceline bersama bergandengan tangan lalu menyerahkan kepada Heinry.
"Bahkan si buta dari gua hantu juga tahu anak siapa dia!" Ucap Jhon.
Heinry mengeryitkan dahinya, sialan! sebenarnya dia menyesal telah bertanya kepada Jhon karena perasaan tidak terima atas perlakuan Jhon yang sangat tidak sopan itu. Tapi melihat Jhon yang begitu semangat menyodorkan sebuah photo kepadanya, Heinry mau tidak mau sebentar mengabaikan perasaan kesalnya dan melihat photo itu sejenak.
Deg!
Heinry terdiam tak bisa berkata-kata melihat dua orang yang tidak jelas dalam ingatannya, namun Heinry bisa menebak kalau wanita itu adakah adiknya Jhon, tapi kenapa anak yang sedang bersama Amy itu mirip sekali dengannya? Walaupun memang dia perempuan yang sangat cantik, tapi susunan wajahnya pasti akan sama dengan Heinry andai saja Heinry adalah seorang gadis.
"Kenapa, anak ini mirip dengan ku?" Tanya Heinry yang tidak mengerti kenapa?
Jhon membuang nafas kasarnya, dia merebut photo dari Heinry lalu membenahi semua berkas itu dan menjadikan satu seperti sebelumnya. Setelah itu dia menatap Heinry dengan tatapan kesal, dingin, dan tegas kepada Heinry.
"Pkoknya, aku akan mengabulkan semua ucapan mu yang tidak boleh membiarkan kau dan adik ku bertemu, tidak lebih berjarak sepuluh meter, tidak akan membiarkan kalian bertemu walaupun secara tidak sengaja, pkoknya aku akan menjauhkan adik ku dari predator sialan seperti mu!" Setelah mengatakan itu Jhon buru-buru keluar dari ruangan Heinry, mengabaikan Heinry yang memanggilnya untuk segera kembali.
"Bajingan ini! Sialan, ini, jangan bilang anak itu adalah anak ku? Oh, tidak! Bagaimana mungkin aku sudah punya anak? Aku tidak siap, usia tiga puluh satu kan masih muda? Tapi, dia memang anak ku, bagaimana dong?" Gumam Heinry yang kini kebingungan sendiri. Mengingat perbuatan Jhon tentu saja dia masih kesal, tapi dia juga tidak bisa memberhentikan Jhon karena Jhon bekerja atas nama kedua orang tuanya, sudah begitu di tambah tentang anak kecil perempuan yang mirip sekali dengannya, ah! Entah haus bagaimana sekarang ini, tapi sepertinya dia memang harus segera menemui wanita itu dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Duh! Tapi aku akan sudah banyak omong sebelumnya, masa iya aku yang menemuinya lebih dulu? Tunggu tunggu, aku harus memikirkan bagiamana caranya bisa membuat perempuan itu datang sendiri pada ku meskipun banyak rintangan, juga kakaknya yang akan melarang. Yah, lagi pula dia sebenarnya sangat mengejar ku kan? Jadi mana mungkin dia akan menolak dan tahan kalau tidak menemui ku?" Gumam Heinry dengan penuh percaya diri, lalu dia tersenyum seolah begitu yakin kalau apa yang dia katakan itu benar-benar akan terjadi.
Di sisi lain.
Jhon membuang nafas kesalnya.
"Dasar pria sialan, untung saja kau bos ku, dan aku di gaji sangat tinggi. Kalau saja tidak, aku pasti akan mencongkel kedua bola mata mu, menjambak mulut mu yang begitu menghina adik ku, tapi bersyukur kau adalah bos yang harus ku layani."
"Bilang tidak Sudi dengan Amy, bahkan lebih memilih untuk menghamili babi betina, lihat saja kau! Setelah ini kau pasti akan mencoba untuk mendekati adik ku kan? Cih! Aku akan membuat mu berusaha sangat keras, aku juga tidak akan segan-segan meracuni otak keponakan ku supaya tidak mudah luluh oleh mu. Mari kita lihat, kau atau aku yang akan kalah." Jhon tersenyum miring, sungguh dia benar-benar memiliki banyak niat jahat yang memenuhi otaknya saat ini.
Sore harinya.
Heinry benar-benar kacau balau hari ini, di sama sekali tidak bisa konsentrasi mengerjakan semua pekerjaannya, dia benar-benar tidak bisa menghilangkan Sakha gadis kecil yang begitu mirip dengannya. Ah, padahal tadinya dia tidak ingin memperdulikan hal itu karena wajah mirip bisa saja terjadi karena kebetulan saja kan?
"Ah, tapi itu terlalu mirip......" Heinry menaruhkan kepalanya ke meja, sebentar dia benar-benar membiarkan kepalanya yang masih saja tak bisa tenang sama sekali.
"Presdir Heinry, saya tahu saya belum lama bekerja di sini, tapi saya membutuhkan cuti untuk menemui adik saya, jadi tolong berikan izin." Ucap Jhon begitu dia masuk ke dalam, dia juga sampai lupa membentuk pintu sehingga Heinry buru-buru bangkit dari posisinya saat itu.
"Cuti apanya?! Tidak bisa, aku juga ada urusan penting, aku dulu yang pergi nanti setelah itu baru kau boleh." Heinry menatap Jhon dengan tatapan tegas, tentu saja Heinry juga tahu kalau Jhon sudah cukup berusaha karena ini adalah kali pertama Jhon menggunakan kalimat yang begitu sopan dan baik. Tapi masalahnya, dia juga harus menemui wanita yang bernama Amy khusus untuk bertanya anak siapa gadis kecil yang mirip dengannya itu.
Jhon tersenyum tipis, tatapan matanya jelas menunjukan bahwa dia tahu apa yang sedang di pikirkan oleh Heinry dan rencana apa yang akan dia lakukan. Tapi, Jhon juga sudah mempersiapkan diri dengan baik walaupun hanya beberapa jam saja sebelum jam kerja berakhir.
"Bagaimana ya? Besok pagi anda kan harus rapat dewan direksi, sorenya anda ada meeting dengan klien penting, lusa pun anda membuat jadwal kunjungan ke kantor cabang untuk memeriksa secara langsung. Tiga hari kemudian kakek anda ulang tahun, yakin anda bisa pergi?" Jhon tersenyum puas di saat Heinry terdiam dengan wajah nya yang terlihat begitu tak terima jika dia benar-benar sesibuk itu.
"Sudah tahu aku sangat sibuk tapi kau berani minta cuti?!" Kesal Heinry, yah setidaknya Jhon juga harus ikut sibuk kan? Jhon itu sekretarisnya, Jai bos sibuk sekretaris harus lebih sibuk.
"Tenang saja, Ayah anda akan membantu anda, kok."
Ugh!
Heinry terdiam menahan kesal. Anda, anda, anda, kenapa rasanya kata anda yang keluar dari mulut Jhon seperti sedang meledek dirinya? Tidak, ini tidak boleh terjadi!
"Tidak boleh!"
Jhon mengangkat layar ponselnya yang masih menyala.
"Ayah anda sudah menyetujui izin kerja saya loh...."
Bersambung.