One Night Special

One Night Special
Kaget, Heran, Senang, Sedih!



"Iya! Ibu juga setuju dengan apa yang di katakan Ayahmu! Bagaimanapun orang mirip meski tidak ada hubungan darah adalah hal lumrah, jadi jangan percaya padanya! Heinry, Ibu bersumpah akan menjadi benteng agar wanita aneh membawa anak itu tidak bisa mengganggumu!" Ucap Ibunya Heinry.


Heinry menghela nafas, lalu meraih ponselnya untuk menunjukkan photo Jeje.


"Lihatlah wajah anak ini dulu, baru katakan apa yang Ayah dan Ibu katakan tadi," Ucap Heinry seraya menunjukkan layar ponselnya.


Segera Ayahnya Heinry meriah ponsel itu untu melihat bagaimana rupa anak yang di ceritakan putranya. Ibunya Heinry juga segera merapat untuk melihat dengan benar.


Hah?


Kedua orag tua Heinry saling menatap bingung, lalu kembali menatap layar ponsel itu, dan menatap Heinry begitu terus hingga beberapa kali.


"Kenapa ini sangat mirip?" Gumam Ayahnya Heinry keheranan sendiri.


"Anak secantik ini, mana mungkin bukan cucuku?!"


Eh?


Heinry menatap Ibunya dengan tatapan aneh karena Ibunya benar-benar terlihat sangat berbeda dari sebelum melihat wajah Jeje. Padahal sebelumnya begitu menolak, kenapa sekarang langsung saja mengakuinya dan meragukan kalau anak itu bukanlah cucunya.


"Kau bilang wajah yang mirip tentu saja adalah hal yang lumrah, kenapa tiba-tiba saja kau klaim dia menjadi cucumu?" Protes Ayahnya Heinry mengutarakan benar isi hatinya.


Ibunya Heinry menatap suaminya dengan tatapan kesal.


"Jangan bicara sembarangan begitu! Sudah jelas anak cantik ini adalah cucuku, kalaupun bukan cucuku tentu saja Heinry harus membuat dia menjadi cucuku!"


Heinry membuang nafasnya, tentu saja dia juga sangat yakin kalau Jeje adalah anaknya apalagi ada bukti surat perjanjian dan juga photonya saat menandatangani surat perjanjian itu.


"Heinry, ajak Ibu bertemu dengan cucu Ibu ya? please...." Pinta Ibunya Heinry dengan tatapan memohon.


Heinry membuang nafasnya, dia memijat pelipisnya karena sakit kepalanya benar-benar terasa memikirkan apa yang terjadi ini. Kenyataan kalau sudah memiliki anak sudah dia terima dengan lapang dada, toh dia sendiri juga menyukai anak itu. Tapi masalah yang sebenarnya adalah dia tidak bisa menerima dan tidak rela karena ternyata Amy sama sekali tidak menginginkannya.


Bukan!


Ternyata sejak awal dia hanya di manfaatkan oleh Amy, dia hanya di peras sper**nya demi seorang anak. Tapi begitu anaknya jadi, dan lahir dengan fisik yang sangat cantik, pintar juga, Heinry justru tidak boleh menempatkan dirinya sebagai seorang Ayah.


Mau sesabar apapun manusianya tentu saja tidak akan mungkin bisa sesabar itu menghadapi Amy kan?


"Kenapa kau diam saja? Ayo cepat kita temui dia!" Ajak Ibunya Heinry.


"Masalahnya adalah, aku dan Ibunya pernah membuat surat perjanjian."


"Apa?!, perjanjian apa?" Tanya kedua orang tua Heinry dengan kompak.


Heinry mengatakan semua isi surat perjanjian itu dengan detail, dia bahkan juga mengatakan kalau ada photo Heinry menandatangi surat perjanjian itu, juga kartu pembayaran milik Heinry yang kini kembali ke tangannya.


Ibunya Heinry juga Ayahnya terdiam tak tahu harus mengatakan apa. Ibunya Heinry benar-benar sangat bingung dengan semua ini. Pertama dia terkejut sekali, kesal, lalu bahagia karena anak itu sangat mirip dengan Heinry dan juga sangat cantik. Tapi kenapa pada akhirnya harus dia buat sangat kecewa karena harapan untuk memiliki cucunya, mengasuh cucunya justru tak bisa dia lakukan?


"Kau melakukan hal yang sangat besar saat kau belum kehilangan ingatan, Heinry. Kau bahkan tidak bilang kalau ada wanita yang kau hamili! Dia pasti menderita sekali harus hamil seorang diri, melahirkan juga seorang diri, membesarkan anak hingga enam tahun sendiri! Kalau saja kami berdua tahu, kami pasti akan membantunya kan?!" Kesal Ibunya Heinry.


Helaan nafas yang terdengar setelah itu, Ayahnya Heinry benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa kepada putranya. Tentu saja dia masih merasa terkejut dan tidak percaya dengan ini, tapi jika memang benar kenyataannya begini tidak ada juga gunanya mengelak kan?


"Sekarang yang harus kau pikirkan adalah bagaimana caranya agar kau bisa membuat kami menemui cucu kami." Ujar Ayahnya Heinry yang semakin membuat Heinry pusing dan sakit kepala.


"Memang siapa pamannya?"


Heinry menghela nafasnya.


"Jhon."


"Oh, Jhon?" Ayah dan Ibunya Heinry mengangguk untuk beberapa saat, tapi saat mereka memikirkannya kembali, mereka benar-benar kembali di buat terkejut.


"Jhon?, Jhon sekretaris yang kami kerjakan untukmu?!" Tanya Ayah dan Ibunya Heinry kompak.


Heinry menghela nafasnya, lalu mengangguk.


Di sisi lain.


Amy menaikkan satu sisi bibirnya saat dia melihat beberapa photo pria yang di berikan Jhon kepadanya.


"Wajah seperti ini apa tidak masalah di mata Jeje?" Amy bertanya dengan mimik wajahnya yang menghina. Dia sendiri sebenarnya tidak terlalu perduli seperti apa bentuk pria yang akan dia jadikan teman dekatnya hanya saja, Jeje sangat pemilih dan pintar menghina jadi dia ingin meminimalisir hal itu agar tidak terjadi.


Jhon menghela nafas kasarnya.


Sebenarnya empat photo yang di berikan Jhon kepada adiknya adalah yang paling lumayan menurut Jhon. Dia juga tahu bagaimana kebiasaan dari empat pria itu sehingga merasa tidak masalah mengenalkannya kepada Amy.


Untuk apa tujuannya?


Tentu saja untuk menghindari atau mengantisipasi kalau saja nanti Heinry memaksa menikah untuk memilki Jeje.


Pria itu hanya akan menjalin hubungan dekat saja dengan Amy tapi tentu saja tidak akan pernah ada hubungannya dengan menikah karena sampai detik ini Amy masih tidak menginginkan pernikahan sama sekali.


"Amy, tolong jangan banyak memilih oke? Sebenarnya aku tidak ingin menghin mu, tapi dengan wajahmu kalau kau ingin mendapatkan pria yang kau inginkan tentu saja mustahil!"


Amy berdecih sebal, memang kenapa kalau tampang pas-pasan? Toh untuk menjadi wanita semacam itu hanya perlu tidak tahu malu saja kan?


''Walauoun aku memang tidak cantik, asalkan aku memperlihatkan pesona ku dan juga kepintaran ku mana mungkin pria akan berani menolakku?"


Jhon memaksakan senyumnya.


"Tolonglah ingat ini, Amy. Gadis yang pintar tentu saja menyenangkan, tapi gadis yang sok pintar itu menyebalkan namanya. Jaman sekarang sembilan puluh lima persen pria melihat wanita dari wajah dan kaki, setelah itu dia baru akan tes body, dan tes rasa. Jadi tolong berhentilah meninggikan seleramu."


Duh duh!


Amy menggelengkan kepalanya keheranan.


"Aku yakin kau juga bagian dari sembilan puluh lima persen pria itu kan?"


Jhon meringis menahan malu.


"Dasar pria mata it*lan!, Asal kau tahu ya, gadis yang mengabiskan uangnya untuk wajah dan kaki artinya mereka tidak memiliki banyak uang untuk bagian yang lainnya. Untuk apa wajah dan kaki glowing kalau memod nya tidak glowing?"


Bersambung.