One Night Special

One Night Special
Meminjam Nama Heinry



Ibunya Heinry terdiam membeku saat Heinry masuk kedalam rumah dengan seorang anak kecil yang tidak lain adalah Jeceline, cucu yang selama ini ingin dia temui tapi Heinry selalu mencegah dengan alasan yang begitu tidak masuk akal.


"Tadinya aku masih tidak ingin percaya, tapi kalau wajahnya seperti ini lalat teler saja sudah pasti tahu anak siapa gadis kecil ini." Ujar Ayahnya Heinry yang masih menatap Jeje dengan tatapan tak percaya. Melihat Jeje secara langsung benar-benar sulit dipercaya karena tingkat kemiripannya dengan Heinry benar-benar hampir seratus persen hanya saja Heinry versi tampan, dan Jeje versi cantik.


Ibunya Heinry melangkahkan kakinya maju, matanya masih fokus ya bisa teralihkan menatap Jeje. Tangannya gemetar hebat saat dia akan meraih wajah Jeje dan menangkap untuk mengamatinya.


"Benar-benar cucuku, dia benar cucuku!" Ibunya Heinry menyesuaikan tinggi tubuhnya dengan Jeje, lalu memeluk Jeje yang sejak tadi hanya dia saja tidak tahu harus mengatakan apa. Pertama dia tidak pernah berada di lingkungan orang-orang ramah, dia tidak memiliki kakek dan nenek, bahkan juga Ayah. Sekarang tiba-tiba saja dia memiliki semua itu dia masih tidak tahu harus melakukan apa dan bagaimana merespon sikap kakek dan neneknya.


Ibunya Heinry mencium pipi kanan dan pipi kiri Jeje lalu kembali memeluknya.


Sungguh dia bahagia sekali, dan kebahagiaan ini adalah kebahagiaan terbesar setelah hari pernikahannya dengan Ayahnya Heinry dulu.


"Heinry, kali ini Ibu benar-benar merasa bangga sekali karena putra Ibu yang selama ini tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita justru diam-diam sudah punya saham dan sekarang anaknya tumbuh sangat cantik begini." Ujar Ibunya Heinry tersenyum girang mengabaikan wajah Heinry yang terlihat kesal karena dia benar-benar berharap setidaknya Ibunya tidak akan berbicara macam-macam di hadapan anak umur enam tahun. Yah, memang sih cara berpikir dan cara bicara Jeje jauh lebih dewasa dari pada usianya, tapi tetap saja menjaga agar Jeje tidak mendengar hal aneh adalah keharusan bagi para orang tua.


Ibunya Heinry menatap Jeje, tersenyum dengan lembut. Ini memang kali pertama mereka bertemu, tapi perasaan sayang dan ingin melindungi sudah dirasakan oleh Ibunya Heinry kepada cucunya dari semenjak dia melihat photo Jeje dan cerita dari Heinry.


"Sayang, ini adalah nenek mu, dan ini adalah kakek mu. Kami sudah ingin menemuimu dari beberapa hari yang lalu semenjak kami tahu bahwa kau adalah cucu kami. Maaf karena tidak berusaha lebih keras untuk menemuimu, itu semua karena Ayahmu yah sangat menyebalkan itu!" Ibunya Heinry melirik kepada Heinry membuat Heinry hanya bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas di hadapan anaknya.


Tidak lama dari itu, Ayahnya Heinry lah yang mendekat dana memeluk cucunya sembari mengenalkan diri. Barulah mereka mengajak Jeje untuk berkeliling rumah untuk menunjukkan kamar Heinry dan kamar orang tua Heinry, mereka juga sudah menyiapkan kamar untuk Jeje.


Kamar dengan cat tembok berwarna pink, ada meja belajar, meja rias, lemari, tempat tidur dan sofa yang ada di dalam sana juga berwarna pink. Mungkin bagi anak kecil kan pink adalah warna favorit, tapi itu tidak berlaku untuk Jeje.


"Tapi, aku tidak suka warna merah muda. Mataku sakit melihat kamar dengan warna yang sanga cerah.'' Ujar Jeje yang asalnya sempat ragu tapi pada akhirnya dia memilih mengatakan apa yang ingin dia katakan dibanding harus menderita karena menahan diri dengan melihat warna sebuah ruangan serba merah muda alias pink.


"Kalau begitu, besok kakek akan mengganti warna cat dan semua perabotannya oke? Malam ini tidurlah dengan kami berdua ya?" Pinta Ayahnya Heinry yang di angguki setuju oleh Ibunya Heinry. Mereka berdua kini menatap Jeje dengan tatapan memohon membuat Jeje tidak tahu harus mengatakan apa dan memilih untuk diam.


"Tidak! Aku adalah Ayahnya, dia akan tidur bersamaku makan ini!" Heinry tersenyum karena merasa dia akan menang.


Jeje menghela nafas, aneh sekali rasanya. Dia tidak terbiasa menerima perhatian sebanyak ini, dan di saat itu dia benar-benar merindukan sekali Ibunya.


Melihat Jeje yang murung dengan segera Ayahnya Heinry mengajak Jeje untuk berjalan-jalan menuju ke taman samping rumah di mana anjing peliharaannya baru saja melahirkan anak yang lucu-lucu sekali.


Benar saja, Jeje terlihat senang dengan anjing peliharaan Ayahnya.


Ibunya Heinry menghela nafas, dia benar-benar merasa tidak rela kalau harus berpisah dengan cucunya dan hanya akan bertemu lagi di akhir pekan depan.


"Heinry, kenapa kau tidak nikahi saja Ibunya supaya kami tidak harus berpisah dengan Jeje," Pinta Ibunya Heinry yang sejak tadi tatapannya tak teralihkan dari Jeje.


Heinry terdiam sebentar, kalau saja semudah itu.


"Ibunya tidak menyukaiku, dia tidak menginginkan pernikahan. Jhon mengatakan jika Amy memiliki luka masa lalu, sebuah trauma tentang hubungan pernikahan itulah kenapa dia tidak pernah ingin menikah meski telah melahirkan anak."


Ibunya Heinry terlihat kecewa.


"Kalau begitu, kita hanya tinggal menunjukkan saja bahwa kehidupan tidak selalu sepertu yang dia pikirkan bukan? Kalau dia trauma dengan masa lalu seharusnya kau menunjukkan padanya bahwa kau tidak memiliki minat untuk melakukan hal yang sama seperti trauma yang dia rasakan bukan?"


Heinry membuang nafasnya.


Bagiamana ya? Tidak mungkin kan dia menceritakan kepada orang tuanya bagiamana seriusnya Amy menolak dirinya karena ini sangat memalukan bagi Heinry.


Malam Harinya.


"Aku sudah bekerja sebagai Manager pemasaran selama tiga tahun ini, Presdir di tempatku bekerja benar-benar memuji kerja kerasku. Sebelumnya ada beberapa gadis cantik yang mengajak untuk menjalin hubungan tapi aku tolak karena beberapa hal, terutama karena aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Karena Jhon lah makanya aku datang kemari."


Amy mengangguk saja dengan batin yang terus mengatakan, masa bodoh!


"Kemarin ada rekan kerjaku yang menyatakan cintanya padaku, ah.....! Saat itu aku sedang tidak dalam keadaan mood yang bagus aku langsung menolaknya! Tapi sekarang aku benar-benar senang loh berkenalan dengan mu, kau juga pasti senang kan mengenalku?"


Matamu sebelah mana yang melihat aku senang? Tolong lihatlah dengan mata jangan dengan gigi kalau mau lihat!, Batin Amy.


"Nanti kau hubungi aku dulu ya? Aku sudah memberitahu akun media sosial ku kan? Tolong beritahu namamu juga karena aku gampang sekali lupa."


Tampang mu yang seperti pantat lalat saja berani begitu sombong dihadapanku? Heh! Caramu terlalu kuno!, Batin Amy.


"Ah, ya kalau begitu kita sudahi saja perkenalan kita malam ini ya? Tiba-tiba saja aku ingat harus menjemput anakku!" Ucap Amy seraya meraih tasnya.


"Eh, kau sudah punya anak?"


"Iya,"


"Kau punya suami?"


"Tidak!"


"Jadi, kau punya anak dengan siapa?"


"Heinry Phoulo."


"Oh..." Pria itu mengangguk saja tapi begitu mengingat siapa Heinry Phoulo itu, dia benar-benar melotot kaget.


"Heinry Phoulo yang CEO muda dari Degul Group?"


"Iya."


"Bohong!"


Amy tersenyum, dia meraih ponselnya lalu mengeluarkan dan menyalakan untuk memperlihatkan layar utamanya.


"Ini adalah wajah anakku, kau pasti tidak mungkin tidak percaya kan?"


Sialan! Pada akhirnya aku harus mengunakan nama Heinry untuk membungkam mulut sialan pria sombong ini, batin Amy kesal.


"Tampangmu yang seperti itu,"


Amy menatap pria itu dengan tatapan dingin sebelum pria itu melanjutkan ucapannya.


"Tampang ini adalah selera Heinry Phoulo! Kau tidak tahu ya dia bahkan sampai sembah di kakiku, mencium lantai hanya untuk mendapatkan secuil perasaan dariku? Dia bahkan rela menjebakku dan menghamiliku, jadi jangan menganggap dirimu tampan kalau seleramu tidak seperti Heinry!"


Bersambung.