
"Ahhhhhhhhhhhhh" Teriak Jhon sangat keras dan juga sangat historis sekali.
"Kyakk! Ahhhhhh" Teriak juga Lorita.
Jhon menatap Lorita dengan tatapan marah yang luar biasa ia rasakan. Bagaimanapun tidak? begitu ya bangun dari tidurnya yang terasa sangat minyak, tiba-tiba saja wajah Lorita lah yang ia lihat. Tidak hanya sampai di situ saja, hal yang paling dan lebih mengejutkan lagi adalah, mereka bangun tanpa menggunakan pakaian dan hanya selimut tebal saja yang menutupi tubuh mereka berdua.
"Kau, kau pasti menjebakku ya?!" Tanya Jhon dengan tatapan matanya yang terlihat begitu mengancam Lorita dan menuduh dengan begitu yakin sekali.
Lorita menghela nafasnya lalu menatap Jhon dengan tatapan kesal dan berkata,"walaupun aku memang merindukan belaian seorang pria, tapi aku tidak segatal itu sampai harus melakukan hal seperti ini!" Ucap Lorita tak kalah ekspresinya juga jelas bahwa dia tidak ingin disalahkan perihal apa yang terjadi dengan mereka berdua saat mereka bangun tidur tanpa mengenakan pakaian sama sekali.
Jhon membuang nafas kasarnya, kembali menatap Lorita dan mencoba mencari tahu benar atau tidak kah ucapan Lorita barusan. Ah, benar-benar sungguh sial sekali! Bagaimana bisa dia berada di satu tempat tidur dan tidak mengenakan pakaian sama sekali?
Walaupun memang benar hal itu adalah hal yang biasa terjadi di kalangan anak muda zaman sekarang, Tapi kenapa harus Lorita orangnya?
Lorita terus menatap Jhon dengan tatapan yang kesal lalu berkata,"Berhentilah untuk menunjukkan ekspresi seperti itu! Memangnya kau adalah gadis yang baru saja aku perkosa? Sekarang, jelas orang yang paling rugi dan memiliki bekas adalah aku! Aku yang seharusnya berekspresi seperti itu!"
Jhon predasi kesal manata prioritas sebentar lalu berkata,"itu adalah masalahnya, kau tidak ingat bahwa yang harus kau lakukan pertama kali sebagai seorang wanita adalah malu! Kenapa kau justru terlihat begitu percaya diri, Bagaimana jika semalam terjadi sesuatu yang tidak tidak diantara kita?!"
Lorita membuang nafasnya dan terus menatap Jhon. sungguh, haruskah dia benar-benar menjawab pertanyaan dari mantan kekasihnya itu? yah, kalau memikirkan soal malu, rasanya dia sama sekali tidak berhak merasa malu karena dia sendiri tidak mengingat apapun yang sudah terjadi diantara mereka hingga mereka berakhir di satu tempat tidur yang sama saat mereka bangun tadi.
"Memang mau bagaimana lagi? aku tidak ingat apa-apa, aku hanya ingat semalam kita sedang merayakan kemenangan proyek bersama-sama. Sepertinya kita mabuk, tapi kenapa juga kita berakhir di sini Mana mungkin aku bisa tahu?! Jadi, Berhentilah menatapku seperti itu seolah-olah kau menuduhku sengaja melakukannya!" Protes Lorita yang tidak bisa menerima cara Jhon menatapnya dengan mimik wajah seolah-olah Lolita pantas untuk dicurigai.
Jhon menghela nafasnya, dia benar-benar lelah kalau harus terus bertengkar dengan Lorita karena itu tidak akan ada habisnya. Sekarang, yang harus dia pikirkan adalah, Bagaimana bisa dia berada di satu ruangan bersama dengan Lorita? Bahkan, kamar yang mereka gunakan saat ini adalah kamar yang jelas adalah kamar hotel. jika memang mereka berdua mabuk, seharusnya ada orang yang mengantarkan mereka sampai ke hotel itu kan? Ah, sungguh dia sangat pusing memikirkannya! lalu Bagaimana jika pada saat mereka berdua mabuk, mereka berdua kompak memesan kamar dan masuk ke dalam kamar itu secara bersamaan? Tuhan, sungguh Jhon tidak akan sanggup jika kenyataannya memang seperti itu.
"Dengar, Kau pasti pernah membaca tentang cerita dalam novel, komik ataupun drama di mana one Night stand akan berakhir dengan si perempuan hamil bukan? kalau sampai setelah ini aku hamil, mau Tidak mau kau memang harus menikahiku!" ancam Lorita sembari menatap Jhon dengan tatapan serius dan bersungguh-sungguh.
Jhon mengusap wajahnya dengan kasar. hamil apaan? Bagaimana cara membuatnya saja dia tidak ingat sama sekali, rasanya melakukan itu dengan Lorita dia juga sama sekali tidak tahu dan tidak ingat, Kenapa juga sudah jauh sekali memikirkan tentang hamil lalu bertanggung jawab?
"Berhentilah untuk berpikir macam-macam, Aku sama sekali tidak memiliki minat untuk menikahimu apalagi bertanggung jawab untuk sesuatu yang bahkan aku tidak ingat sama sekali. walaupun setelah ini kau hamil, pasti kau hamil dengan bantal yang kau peluk bukan denganku!" Ucap Jhon tak kalah sinis dari Lorita.
Lorita terperangan tak percaya mendengar ucapan yang keluar dari mulut Jhon. Hamil dengan bantal? Lorita benar-benar ingin sekali rasanya memukul kepala Jhon lalu berteriak padanya untuk Jangan sembarangan dalam berbicara.
Jon tengah kesal mendengar ucapan Lorita lalu berkata,"Lorita, wajahmu tidak sebegitu cantik tentu saja itu bukan masalah dan bukan sebuah kekurangan akan tetapi, wanita yang terlalu tidak punya harga diri itu benar-benar sangat memalukan!"
Lorita berdecih sebal lalu berkata,"jangan lagi membicarakan rasa malu yang tidak pernah aku miliki!"
Jhon kembali membuang nafasnya lalu mengusap wajahnya dengan kasar sembari bergumam,"Sial! kalau sampai aku tahu siapa orang yang telah menjebakku agar aku berada di sini, aku benar-benar akan menendang bokongnya dan menggantungnya di menara tertinggi di dunia!"
Di sisi lain.
Amy menepuk pelan dadanya karena terus saja tersedak entah apa yang dia lamunkan saat menikmati sarapan paginya.
melihat istrinya tersedak-sedang, Heinry dengan segera mendekatkan segelas air kepada istrinya.
"Minumlah dulu, sayang." Ucap Heinry dengan mimik wajahnya yang terlihat begitu perhatian sampai-sampai kedua orang tua Heinry tidak percaya bahwa Heinry akan berubah menjadi pria yang sangat penyayang istri dan juga pengertian.
Amy bisa bernafas dengan lega setelah dia menghabiskan segelas air mineral yang diberikan oleh suaminya tadi.
"Tidak tahu kenapa, tiba-tiba saja aku terus tersedak. Jangan-jangan, Amy menatap Heinry dengan tatapan menyelidik lalu kembali berkata,"Apa kau sedang memakiku di dalam hati? Atau mungkin, kau sedang menyumpahiku?"
Heinry dengan segera menggelengkan kepalanya tak ingin kalau nanti istrinya jadi salah paham lagi dan malah justru semakin menempel seperti magnet yang tidak bisa dipisahkan saja.
Amy menghela nafasnya dan mau tak mau dia hanya bisa melanjutkan kegiatannya dan berhenti membahas soal alasan kenapa dia terus tersedak-sedak saat makan.
"Amy, bulan kemarin ibu lupa menanyakan padamu tentang gender bayi keduamu. Apa itu sudah terlihat?" Tanya ibunya Henry begitu penasaran.
Amy tersenyum menatap Ibu mertuanya lalu berkata,"kemarin masih belum jelas, dokter sempat mengatakan bahwa bayinya laki-laki. tapi aku masih menginginkan bayi perempuan, jadi tolong doakan saja ada keajaiban dan tiba nanti saatnya bayi lahir bayiku adalah seorang gadis yang cantik seperti jeje-ku!"
Mereka semua tersenyum mengangguk namun di dalam hati mereka, benar-benar mengharapkan keterbalikannya terutama, Jeje.
bagi Jeje, akan lebih baik kalau anak yang lahir adalah anak laki-laki yang mirip seperti ibunya. karena kalau anak itu anak perempuan, dia takut sikapnya akan mirip seperti dirinya dan juga ayahnya yang kaku dan juga tidak asik untuk diajak bicara.