
Setelah kembali dari luar negeri, Heinry benar-benar tidak kuasa harus menghadapi kedua orang tuanya yang terus menatapnya dengan begitu aneh, berseri-seri seperti remaja yang sedang jatuh cinta saja. Belum lagi pertanyaan yang juga aneh seperti, apakah dia sana menyenangkan?! Apa saja yang Heinry lakukan, apa memungkinkan untuk mereka mendapatkan kejutan yang luar biasa? Sepertinya kau terlalu tidak ingin mengundang curiga sampai leher mu mulus sekali ya?
Hah.........
Lain yang di pikirkan kedua orang tua Heinry, lain pula apa yang di pikirkan Heinry sendiri. Sekarang dia benar-benar lega karena sekarang dah mencapai kesepakatan dengan Amy, tapi dia juga merasa ada yang aneh setelah kembali ke sana misalnya, perasaan ingin bertemu kembali padahal mereka belum lama bertemu, dan dulu Heinry juga adalah orang yang paling menghindari Amy. Entah apakah sebenarnya dia merindukan momen di mana dia menemani Amy hamil sehingga dia merasa dekat dengan anaknya, atau kah justru dia merindukan Amy?
Heinry megusap wajahnya dengan kasar, tidak! Tidak boleh begini, dia tidak boleh terpengaruhi oleh hal semacam itu karena dia harus, mau tak mau menikahi Cheren untuk memenuhi janji kedua orang tuanya. Walupun jelas tidak ada kebohongan yang abadi, tapi Heinry benar-benar hanya bisa berjalan dengan arah yang tidak menentu.
Hari terus berlalu, dan seperti yang sudah mereka sepakati bahwa Amy akan mengirimkan photo USG bayi mereka setiap bulan, juga akan memberikan kabar bagaimana keadaan bayinya. Semua berjalan dengan lancar, hingga tibalah waktunya untuk Heinry dan juga Cheren bertunangan.
Hari itu, Cheren benar-benar terlihat sangat bahagia terbukti dia tak berhenti tersenyum setiap kali ada yang datang memberikan ucapan selamat.
Selamat?
Heinry benar-benar hanya bisa menggelengkan kepala karena merasa keheranan sendiri, bukankah pertunangan bukan berarti menikah? kenapa harus harus mendapatkan ucapan selamat? Bahkan kalaupun sudah menikah maka artinya adalah kata berduka cinta karena mereka akan bersiap memiliki masalah baru yang akan datang silih berganti? Ah, Heinry jadi berpikir bahwa keputusan Amy untuk tidak menikah sepertinya ada bagusnya juga. Yang spesial dari menikah kan hanya bisa tinggal bersama, melainkan ewidwod sebebas mungkin, tapi masalah tentu saja akan sangat banyak sekali.
Cih!
Heinry mendengus kesal, apa lebih baik kalau dia kabur saja sekarang?
"Hei, selamat ya!" Jhon merangkul Heinry menepuk pelan punggungnya, tersenyum bahagia. Bagaimanapun Jhon adalah sahabat Heinry, jadi Jhon pikir wajib baginya mengucapkan selamat karena hanya tinggal satu langkah lagi Heinry akan bisa menjadikan Cheren, si gadis cantik itu sebagai istrinya kab?
"Selamat kepala mu! Simpan saja itu untuk mu!"
Eh?
Jhon mengeryit bingung, dia baru saja benar-benar memperhatikan wajah Heinry karena sejak dia datang dia hanya sibuk menyapa sahabatnya yang lain.
"Muka mu seperti lubang di pantat ayam, jelek sekali! Kenapa? kau tidak bahagia ya?"
Heinry terlalu malas untuk menanggapi ucapan Jhon barusan. Matanya masih menatap kedua orang tuanya yang terlihat begitu bahagia sekali, tertawa dengan senangnya sembari mengobrol bersama kedua orang tua Cheren, dan Cheren juga berada di dekatnya namun sesekali dia mencuri pandang kepada Heinry yang terus menolak untuk membuat tatapan mereka bertemu.
"Memang apa kurangnya tunangan mu itu? Dia cantik, manis, baik, bicaranya lembut seperti putri raja, dia juga anak dari pengusaha kaya. Bagian mana yang kurang darinya? Gadis seperti itu seharusnya adalah tipe mu kan?"
Heinry terdiam sebentar, tipe? Selama ini dia sama sekali tidak pernah memikirkan soal tipe gadis yang dia inginkan, dia tidak memiliki standar dalam memilih wanita karena dia sudah cukup terbiasa dan bosan melihat wanita cantik yang mirip seperti Cheren mendekatinya. Ada satu orang yang begitu berbeda, ambisius dan berikut besar yaitu, Amy. Gadis itu benar-benar sangat aneh, sangat menyebalkan sehingga Heinry begitu merasa kesal hanya dengan menyebutkan namanya saja. Seiring berjalannya waktu, Amy justru seperti memiliki tempat yang berbeda di hatinya. Perasaan kesal itu membuat Heinry jutsru lebih mudah mengingat Amy, di tambah Amy sedang mengandung anak mereka, Heinry jadi seperti memusatkan pemikirannya untuk Amy.
"Sudahlah, sepertinya aku tahu kenapa kau sedih. Bersabarlah sebentar lagi, kalau memang sudah tidak bisa di tahan maka lepaskan saka, lakukan apa yang sudah ingin kau lakukan. Ini jaman modern, tidak akan ada yang menyalahkan mu, dan mempermalukan mu, serta dia. Aku bahkan sudah berpacaran beberapa kali dan setiap berpacaran aku selalu saja melakukan itu dengan mereka."
Heinry menatap Jhon dengan tatapan kesal.
"Jadi kau sedang mengira kalau aku kesal karena ini bukanlah pernikahan melainkan Pertunangan sehingga aku tidak bebas melakukan hubungan ewidwod? Kau sungguh mengira aku selurus itu?"
Jhon berdecih mendengar ucapan Heinry.
"Tidak, aku justru berpikir kalau selama ini bengkok. Bagiamana pun pria yang tidak tertarik dengan wanita cantik padahal pria itu sangat di minati, bukankah semua orang akan berpikir kalau pria itu pasti tidak normal?"
Heinry membuang nafasnya.
Tentu saja aku adalah pria normal, aku bahkan sudah tahu rasanya lubang sanita jadi berhentilah meragukan ku, aku kesal mendengarnya.
Jhon ternganga tak percaya kalau pada akhirnya dia benar-benar akan mendengar pengakuan Heinry seperti itu.
"Sungguh? Kau sudah pernah melakukanya? dengan siapa? Lubang siapa yang kau gunakan untuk bahan uji coba?"
"Cih!" Heinry berjalan meninggalkan Jhon yang mulai tak bisa diam karena perasaan penasaran itu. Yah, mana mungkin Heinry akan memberitahu kalau adik Jhon sendiri yang sudah dia rasakan lubangnya.
"Kak Heinry!" Panggil Cheren lalu berjalan cepat menghampiri Heinry lalu menarik lengannya untuk ikut bergabung bersama keluarga.
Heinry harus kembali berpura-pura tersenyum karena di sana ada kedua orag tuanya, juga ada keluarga besar Cheren.
"Ngomong-ngomong Heinry, apa kau sudah mempersiapkan diri dengan benar untuk menikah dengan Cheren? Kami benar-benar mematikan pernikahan kalian, kalau tidak sabar melihat kalian memiliki anak yang cantik dan tampan seperti kalian." Ujar Bibinya Cheren yang sukses membuat Cheren tersipu. Yah, seperti itulah respon sanita yang seharusnya bukan? Heinry benar-benar heran kenapa Amy begitu tidak mudah tersentuh? Ah, tunggu! Kenapa sejak tadi dia terus memikirkan Amy?!
"Pernikahan adalah hal yang berat dan bukan main-main, Bibi. Ini tidak akan mudah untuk kami, mungkin butuh lima sampai sepuluh tahun untuk membiarkan kami sama-sama siap." Ucapan Heinry barusan ini benar-benar membuat semua keluarga yang mendengarnya menjadi kompak terdiam dengan ekspresi yang begitu terkejut. Lima sampai sepuluh tahun? Apakah Heinry tidak tahu betapa lamanya itu?
Bersambung.