
Author : Halo kesayangan? Sebelumnya othor mau meminta maaf untuk kesan seorang anak enam tahun, (Jeje) terlalu dewasa dan tidak cocok dengan usia.
Karakter Jeje di buat seperti demikian untuk mengimbangi Ayahnya, (Heinry) atau bisa di bilang Jeje masuk dalam kategori anak genius begitu ceritanya ya.....
***
Jeje terdiam menatap Ayahnya dengan tatapan dingin khas anak-anak. Jika saja dia adalah orang dewasa, mungkin dia akan mengatakan banyak hal yang dramatis seperti kebanyakan yang di tayangkan oleh drama.
Sayang sekali, walaupun Jeje memanglah masih anak-anak nyatanya pola hidup dan keadaan keluarganya membuatnya mau tak mau harus mengerti situasi dan kondisi.
"Sayang, masuk ke dalam sebentar ya?" Amy meraih tubuh anaknya untuk mundur dan menempel pada tubuhnya, "Ibu harus bicara serius, tunggulah di dalam, oke?"
Jeje terdiam sebentar, kenapa? Padahal dia ingin sekali melihat Ayah kandungnya lebih lama. Tapi karena ini adalah permintaan Ibunya, jelas saja dia tidak bisa menolak kan?
"Baiklah, tapi jika pria itu menyakiti Ibu, katakan saja padaku!" Titah Jeje membuat Heinry tak dapat berkata-kata. Hatinya masih saja bingung, sebenarnya benar atau tidak anak itu adalah anaknya? Dia ingin berbicara dengan anak itu juga berbicara dengan Amy, tapi apakah bisa?
Duh!
Kalau saja dia tidak berbicara sembarangan selama ini, kalau saja dia tidak pernah mengatakan lebih baik menikahi babi betina di banding Amy, kalau saja dia tidak banyak mengeluh dan syarat, mana mungkin dia akan terjebak oleh ucapannya sendiri?!
Sialan.......!
Ternyata ada masanya juga dia menyesali apa yang dia katakan.
"Ingat, sepuluh meter. Tapi karena aku tidak begitu perhitungan, kau cukup mundur saja lima langkah, oke?" Ucap Jhon, dia tersenyum lebar seolah ingin meledek Heinry yang kini sedang kesal dan tidak berdaya oleh ucapan Jeje.
Amy menghela nafas, sebenarnya dia tidak perduli dengan hilang atau tidaknya ingatan Heinry, hanya saja setelah Amy pikirkan matang-matang akan lebih baik kalau Heinry tahu lebih cepat, karena kalau dia tetap diam bisa saja Heinry juga keluarganya menyerang Amy dan merebut Jeje darinya kan?
"Sudahlah kak, aku juga harus bicara dengannya."
Heinry tersenyum, yah memang siapa yang bisa menolak pesonanya? Jeje boleh saja menolaknya saat ini, tapi mana mungkin Amy akan seperti itu? Kalau saja dulu dia begitu mengejar Heinry, tentu saja tidak akan mudah melupakan Heinry yang semakin hari menjadi semakin tampan kan?
Sungguh sangat percaya diri sekali!
Jhon menaikkan satu sisi bibirnya, sialan! Tentu saja dia tidak rela karena Heinry bisa menghilangkan jarak sepuluh meter itu, tapi Jhon juga masih merasa senang karena dia yakin apa yang akan di katakan Amy nanti akan menjadi pukulan menyakitkan untuk Heinry.
Beberapa saat kemudian.
"Ini adalah surat perjanjian yang pernah kita buat dulu, dan aku juga masih menyimpan photo saat kau menandatangani. Ah, aku juga masih menyimpan kartu pembayaran milikmu." Amy menyerahkan ponselnya untuk menunjukkan surat perjanjian yang mereka buat, juga photo di mana Heinry menandatangani surat perjanjian itu.
Buset!
Jadi dulu aku tahu kalau akan punya anak?, batin Heinry.
Heinry membaca semua isi surat perjanjian itu dengan seksama.
Pertama, tidak boleh ada pernikahan. Kedua, tidak ada hubungan apapun selain partner dalam pengasuhan anak. Ketiga, anak akan selalu bersama dengan Amy. Ke empat, Heinry di larang memberi tahu kepada pihak lain tentang anak ini, termasuk dengan keluarganya. Ke lima, di larang mengenalkan pasangan Heinry apa lagi meminta anak mereka nanti memanggil wanita lain dengan sebutan Ibu, karena panggilan itu hanya untuk Amy saja. Ke enam, Heinry tidak boleh membawanya pergi kemanapun tanpa membawa Amy serta. Ketujuh, biaya akan di kirimkan setiap bulan kepada Heinry, tidak juga tidak masalah. Kedelapan, Heinry harus menerima kabar detail hasil pemeriksaan kehamilan hingga anak lahir dan tumbuh.
Amy menaikkan sisi bibirnya, apanya yang menarik?
"Hanya meminta kabar pemeriksaan kehamilan, dan biaya anak semampunya. Apanya yang menarik?"
Ugh!
Heinry menatap Amy dengan tatapan terkejut, tunggu dulu! Jadi maksudnya syarat yang di atas adalah syarat yang di berikan oleh Amy untuknya?!
Tunggu dulu!
Kenapa kesannya dia di tolak oleh Amy? Tidak, jelas itu tidak benar!
"Kau, kau pasti menjebak ku sampai kau bisa melahirkan anak ku kan?!" Tanya Heinry dengan tatapan matanya yang tajam menuntut agar Amy menjawabnya dengan jujur.
Amy menghela nafasnya, di dalam hati dia benar-benar memaki Heinry dengan sangat kasar. Ternyata dia masih saja bisa menebak dengan benar meski tidak bisa mengingat apapun.
"Iya, memang kenapa?! Toh nyatanya kau yang merasakan enak? Kau mungkin sudah lupa karena otak mu jatuh di jalan ketika kau kecelakaan. Sekarang biarkan aku memberitahu bagaimana situasinya saat kita sedang bercocok tanam." Amy mengambil nafas dalam-dalam, sorot matanya yang tajam dan tegas membuat Heinry seolah tak punya pilihan selain mendengar apa yang akan di katakan Amy.
"Pertama, aku memang memasukkan obat perangsang pada minuman mu, tapi selamat untukmu karena aku sudah menghilangkan semua barang buktinya!" Amy tersenyum lebar membuat Heinry tercekat membatin keheranan di dalam hati.
Selamat kepalamu meleduk!, Kesal Heinry di dalam hati.
"Tapi, kau juga harus ingat kalau kau sendiri yang melenguh keenakan. Oh yes!, oh no!, oh yah!, oh my God! Ah, ih, uh, eh, oh sepanjang waktu sampai kepalaku pusing mendengarnya."
Heinry ternganga tak bisa berkata-kata.
"Kau juga mengatakan kalau aku ini enak, kenyal, pulen, kau mencium bibirku sampai aku hampir habiskan nafas dan hampir sekarat kekurangan oksigen! Kau mungkin juga tidak ingat, tapi saat itu kau hampir salah memasukkan punyamu ke lubang satunya sampai aku,"
"Hentikan!" Heinry benar-benar tidak tahan lagi mendengar apa yang di katakan oleh Amy.
"Kenapa? Aku bahkan belum selesai?"
Heinry menahan tubuhnya yang mulai panas dingin.
"Jangan bicara lagi!, mana mungkin aku begitu? Mana mungkin aku seperti itu!"
Amy mendengus kesal.
"Jadi yang mau kau katakan mungkin seperti itu adalah aku? Hei bung! Mana ada gadis yang masih perawan di seruduk begitu saja meracau keenakan?!"
Heinry terdiam lemas, sepertinya Jeje bukan hanya mirip dirinya saja, tapi cara bicaranya juga mirip Amy. Ya Tuhan..... Akan jadi seperti apa jika mereka bertiga berkumpul?
Bersambung.