One Night Special

One Night Special
Datang Menemui Orang Tua Heinry



"Ibu, aku mau Ayah!"


Hah?


Amy benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa, dia melongo karena bingung bagaimana bisa anaknya begitu merengek meminta Ayah setelah kembali dari rumah Heinry?


Sialan!


Pasti Heinry yang sudah meracuni putrinya kan?


"Ibu, Kakek dan Nenek mengatakan akan mendaftarkan sekolah di tempat yang bagus, Nenek dan Kakek juga mengatakan kalau ingin memiliki banyak waktu agar bisa membantu mengurusku. Ibu, kalau Ibu menikah dengan Ayah Heinry bukankah itu cukup lumayan?" Jeje mengunyah roti bakar buatan Ibunya, berbicara dengan begitu jelas membuat Amy menyesal memberikan Titi bakar itu kalau nyatanya tenaga yang di hasilkan dari roto bakar hanyalah untuk meminta Ayah, merengek seperti itu!


Amy memaksakan senyumnya, yah memang tidak mudah memilki anak yang super kritis seperti Jeje. Tapi biarpun begitu Amy juga benar-benar mensyukuri semua itu karena berkat Jeje juga dia bisa hidup dengan baik, dan tahu bagaimana rasanya berjuang untuk orang yang disayangi.


"Ibu, aku sudah menilai dengan baik. Tidak ada pria yang sebaik Ayah Heinry, jadi cobalah untuk menikah dengannya ya? Lagi pula Ayah Heinry kan Ayah kandungku,"


Amy menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Anu, sebenarnya nanti malam Ibu akan datang untuk kencan buta."


"Tidak boleh! Aku tidak mau! Aku tidak akan setuju! Pkoknya aku tidak mau kalau tidak Ayah Heinry saja yang jadi Ayahku! Hua......."


Hah?


Amy ternganga bingung melihat Jeje menangis seperti itu. Ayolah, mungkin tidak akan ada orag yang percaya, tapi sejak usia satu tahun Jeje memang adalah anak yang terbilang jarang menangis. Apalagi setelah masuk sekolah, dia bahkan hampir tidak pernah menangis. Kalau tidak salah ingat, terakhir kali Jeje menangis adalah empat bulan lalu di hari Edith menyembunyikan peralatan sekolah milik Jeje hanya demi untuk mendengar suara tangis Jeje.


"Kalau Ibu pergi kencan buta, aku tidak mau tinggal dengan Ibu lagi! Aku akan lari menemui Ayah Heinry dan tinggal bersama dengannya, juga dengan Nenek fan Kakek yang tidak pernah menolak apa yang aku inginkan!"


Amy membuang nafasnya, dia meraih kedua tangan Jeje yang berada di kedua matanya, menggenggam tangannya dan menatapnya lekat.


"Ayah Heinry yang memintamu untuk melakukan ini?" Tanya Amy.


Jeje menggelengkan kepalanya meski sebenarnya Amy bisa melihat jawaban yang sesungguhnya. Rasanya dia ingin mengatakan dengan jelas kalau dia sama sekali tidak ingin menjalin hubungan pernikahan tapi dia tahu karena takut kalau itu akan melukai hati anaknya.


"Sayang, Ayah Heinry bentuk saja akan menjadi Ayahmu sampai kapan pun karena dia memang Ayahmu. Menikah atau tidak semuanya tidak ada bedanya, iya kan?"


Jeje terdiam karena tidak tahu harus mengatakan apa, sebenarnya dia juga memikirkan benar bagaimana Ayahnya meminta bantuan Jeje agar mereka bisa hidup bertiga dan berada di dalam satu rumah seperti kebanyakan keluarga normal pada umumnya.


"Sayang, Ibu tidak menginginkan pernikahan karena Ibu tida ingin membawa pria asing yang isi hatinya tidak bisa Ibu ketahui. Ibu tidak ingin membuatmu dalam bahaya, Ibu juga tidak ingin menikah karena Ibu tidak ingin samapi mengabaikanmu dan sibuk dengan sesuatu yang baru. Ibu sangat menyayangimu jadi Ibu tidak keberatan hanya hidup bersama denganmu."


Jeje tak bisa berkata-kata, sungguh dia tidak tega melihat bagaimana Ibunya yang memiliki cinta begitu besar untuknya.


Tapi, dia juga cukup yakin bahwa keluarga Ayahnya akan menerima Ibunya dengan sangat baik, mereka semua juga tidak akan mengabaikan Jeje sehingga Jeje tidak perlu merasa begitu kasihan saat Ibunya sibuk dengan hal lain.


"Sekarang lebih baik masuk ke dalam kamar ya? Besok kita akan pergi untuk mencari sekolah yang sesuai dengan apa yang kau inginkan,"


Jeje menghela nafasnya, dia menatap Ibunya dan berkata,"Ibu, Nenek dan Kakek sudah akan mendaftarkan ku ke sekolah favorit yang menggunakan bahasa internasional setiap harinya sehingga aku tidak akan kesulitan."


Amy memaksakan senyumnya.


"Sayang, apa keluarga Ayah Heinry begitu baik padamu? Biasanya kau tidak suka dekat dengan orang yang bahkan baru saja kau temui kan?"


Jeje mengangguk dengan cepat. Mata polos dan jujur itu membuat Amy terdiam tak bisa lagi menolak untuk tidak percaya.


"Mereka memang aneh pada awalnya, mereka terlalu ramah dan baik, tapi aku tahu kalau mereka benar-benar baik padaku! Mereka sudah menyiapkan kamar untukku juga, tapi Karan semuanya serba warna merah muda aku jadi tidur bersama Ayah. Aku mendengarkan Ayah bercerita tentan sepasang rusa yang mengadopsi anak harimau, dan bagaimana anak harimau itu menyelematkan anak rusa tapi orang tua rusa justru salah paham hanya karena minat darah di mulut dan tangannya. Anak harimau ternyata membunuh ular yang akan memakan anak rusa yang tengah dititipkan padanya saat orang tua rusa sedang mencari makanan. Ceritanya sangat seru! Aku bahkan sampai tidak tahu bagiamana kelanjutannya karena sudah lebih dulu tidur."


Amy kembali tersenyum kelu, yah ternyata pada akhirnya anaknya memiliki keluarga yang menyayanginya. Amy seolah tersadar bahwa dia sendiri tidaklah cukup untuk putrinya.


"Ibu, nanti malam Ayah akan menjemputku untuk makan malam bersama kakek dan nenek! Ibu ikut ya?"


Amy mengeryitkan dahinya bingung. Padahal belum lama Jeje pulang, kenapa sudah akan di jemput lagi?


"Aya bilang makan malam nanti adalah untuk merayakan hari ulang tahun pernikahan nenek dan Kakek!, Ibu ikut ya? Please......."


"Tidak bisa, nanti malam Ibu harus,"


"Pokoknya ikut! Kalau Ibu tidak ikut, aku tidak mau jadi anak Ibu lagi!"


Amy menghela nafasnya tak lagi bisa berkata-kata.


Beberapa saat kemudian.


Amy terdiam tak tahu harus mengatakan apa karena pada akhirnya dia tidak memiliki pilihan lain selain harus ikut dengan putrinya sebelum putrinya benar-benar memilih untuk meninggalkan dirinya.


Ah!


Tapi bukan Amy kalau tidak akan membuat ulah!


Jeje menatap Ibunya tak berkedip sama sekali.


Bagaimana tidak?


"Ibu, apa baju Ibu tidak terlalu terbuka? Di negara ini kan terlalu banyak angin?" Tanya Jeje.


Amy tersenyum lebar.


"Tentu saja Ibu harus tampil memukau!Ini adalah kali pertama Ibu bertemu dengan kakek nenekmu, mana mungkin Ibu tampil layaknya gembel meksipun gampang Ibu memang seperti gembel?"


Ucap Amy dengan penuh percaya diri fi saat Jeje yang minat Ibunya berpakaian benar-benar merasa malu sendiri.


Amy menggunakan pakaian yang sangat ketat, panjangnya hanya sampai batas paha, modelnya benar-benar seperti handuk saat selesai mandi, berwarna merah menyala, lipstik yang dia gunakan juga berwarna merah, rambutnya dia urai panjang, make up yang dia gunakan juga sangat tebal,


"Cantik tidak Ibu?" Tanya Amy.


"Aku tidak tahu cantik versi orang dewasa!" Jawab Jeje kesal.


Bersambung.