One Night Special

One Night Special
Kesepakatan Di setujui!



Heinry menepuk pelan punggung Amy, lalu mengusapnya dengan lembut terus seperti itu hingga Amy benar-benar selesai dengan mual yang sudah berapa waktu ini dia rasakan.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Heinry menatap Amy yang kini tengah bangkit dan menyeka bibirnya dengan selembar tisu.


"Mata mu sebelah mana yang melihat aku baik-baik saja?!" Amy menatap Heinry dengan tatapan sebal. Kenapa? yah, dia menyalahkan Heinry yang tidak ikhlas memberikan sper** sehingga begitu menjadi anak, anak yang ada di dalam perutnya seperti sedang membalaskan kekesalan yang di rasakan oleh Ayahnya. Cih! Kalau begitu masuk akal kan perasaan kesal yang di rasakan Amy?


Heinry benar-benar bingung sebenarnya bagaimana caranya berbicara dengan Amy supaya tidak terus bersitegang seperti ini?


"Kau lihat kan betapa aku sangat menderita? Hamil adalah hal yang sulit, jadi jangan mengusik ku!"


Heinry menggelengkan kepalanya keheranan sendiri. Yang minta untuk di hamili selama ini kan Amy sendiri, tidak perduli pagi, siang atau malam, tidak perduli sedang ada di mana dia terus saja berteriak minta di hamili. Kenapa setelah hamil Heinry merasa di salahkan?


"Amy, apa kau lupa kalau aku bisa menuntut mu?"


Amy terdiam sebentar, menuntut apa lagi sebenarnya? Padahal dia tidak menginginkan apapun selain anak itu lahir, tumbuh dengan sehat dan bahagia, anak yang akan menemaninya hingga dewasa nanti, anak yang akan menjadi teman, keluarga, dan segalanya bagi Amy.


Tak bisa lagi memikirkan hal lain, Amy mencoba satu-satunya cara yaitu,....


"Hua................." Amy menangis cukup keras membuat Heinry benar-benar merasa bingung sendiri. Yah, untung saja negara luar tidak seheboh negara asal, jadi dia malah bisa sedikit tenang.


"Hei hei hei! Kau ini kenapa?!"


"Aku ini gadis yang malang, aku ini hidup sendirian setelah nenek ku meninggal, harus bekerja paruh waktu untuk mencari makan, aku cuma ingin anak kenapa kau begitu berniat jahat? Kalau kau terus menekan ku, maka aku benar-benar akan bunuh diri saja! Aku akan menelan garpu dan sendok sampai mati, atau aku akan loncar dari-" Amy menggelengkan kepalanya, loncat dari gedung? Tidak! Itu terlalu mengerikan!


"Aku akan minum cairan pembersih saja!" Amy bergegas mencari di mana cairan pembersih itu, tapi sialnya yang ada hanya pembersih toilet jadi mau tidak mau Amy hanya bisa menggunakan itu.


Heinry, pria itu benar-benar hanya menghela nafas tak ingin mencoba untuk menghentikan apa yang ingin di lakukan Amy. Iya, dia cukup yakin Amy tidak akan melakukan hal itu, dia tahu Amy hanya mengancam saja jadi mari kita lihat sampai di mana akting Amy nanti.


"Lihat! Aku sudah memegang cairan pembersih!" Ucap Amy dengan sorot matanya yang terlihat membulat, tapi di dalam hati dia sedang menunggu saja Heinry untuk menghentikan aksinya dan mengatakan bahwa dia tidak akan lagi mengancam Amy, dan akan membiarkan saja Amy sesuai dengan keinginannya.


Eh?


Amy benar-benar di buat terkejut luar biasa karena nyatanya Heinry justru mengambil posisi duduk, mengangkat satu kakinya dan meletakkan di atas satu lagi kakinya. Duduk dengan santai, menatap Amy seolah ingin mengatakan kepada Amy, silahkan saja di mulai, dia hanya akan melihat saja Amy meminum cairan pembersih toilet itu.


"Kau, kau tidak ingin menghentikan aku yang malang ini?!"


"Dengan senang hati, tidak."


Amy benar-benar kesal sekali, dia mencoba memberanikan diri untuk mendekatkan botol cairan pembersih ke mulutnya, tapi matanya melirik menantikan Heinry mencegahnya. Sial! benar-benar sial karena sudah akan menempel botol cairan pembersih toilet di mulutnya, Heinry masih tak menghentikan aksi anehnya itu.


Huek!


Amy menjauhkan botol pembersih toilet itu dari wajahnya, menutupnya dengan cepat. Ah, dia benar-benar mual sekali dan tidak sanggup melanjutkan aksi itu.


"Hentikan tingkah gila mu itu, mari bicara dengan serius." Ucap Heinry.


Beberapa saat kemudian.


"Aku harus tetap ikut andil dalam hal ini, bagaimanapun dia tetap anak ku kan?"


Amy menghela nafas, sepertinya mau mengelak dia juga sudah tidak akan bisa bukan? Jadi lebih baik membuat kesepakatan saja dengan Heinry dengan hasil di mana akan saling menguntungkan.


"Baiklah, kalau begitu aku akan sebutkan syarat dari ku dulu ya?"


Heinry menatap Amy, mengangguk dengan mimik wajahnya yang terlihat begitu serius.


"Pertama, tidak boleh ada pernikahan. Kedua, tidak ada hubungan apapun selain partner dalam pengasuhan anak. Ketiga, anak akan selalu bersama dengan ku. Ke empat, kau di larang memberi tahu kepada pihak lain tentang anak ini, termasuk dengan keluarga mu. Ke lima, di larang mengenalkan pasangan mu apa lagi meminta anak ku nanti memanggil wanita lain dengan sebutan Ibu, karena panggilan itu hanya untuk ku saja. Ke enam, kau tidak boleh membawanya pergi kemanapun tanpa membawa ku. Ke tujuh-"


"Kalau syarat mu saja sudah bisa satu lembar kertas, kapan giliran ku?! Tidak, tidak! Itu sudah terlalu banyak, jadi jangan mengajukan persyaratan lagi." Heinry terdiam sebentar, sebenarnya syarat yang di ajukan Amy benar-benar sangat menguntungkan dirinya, dia bisa menikah dengan Cheren tanpa gangguan. Tapi kenapa dia juga tidak bisa menampik perasaan tertolak yang tidak pernah dia rasakan sama sekali? Tidak ada pernikahan atau hubungan spesial apapun, rasanya kalimat itu seperti menampar Heinry dan mengatakan bahwa Heinry masih tidak cukup baik di mata Amy.


"Baiklah, katakan saja kau mau bagaimana." Ucap Amy yang pada akhirnya membuat Heinry memulai untuk bicara.


"Tidak ada, aku tidak memiliki persyaratan yang rumit. Hanya berikan saja aku kabar setiap waktu, dan jangan pernah melarang ku untuk menemui dia nanti ketika dia lahir. Masalah biaya aku pasti akan membantu dan kau tidak boleh menolak karena itu untuk anak ku bukan untuk mu."


Amy menaikkan satu sisi bibirnya dengan tatapan sebal.


"Apa kau sudah pernah melakukan pemeriksaan?" Tanya Heinry.


"Sudah, rencananya lusa aku akan datang lagi ke rumah sakit dekat sini dan memeriksakan kehamilan."


Heinry mengangguk paham.


"Baguslah, kalau begitu aku akan tinggal di sini, lusa aku juga harus ikut ke rumah sakit." ujar Heinry dengan santai tapi Amy benar-benar menatap kesal dan tidak akan menyetujui hal itu.


"Tinggal di sini kau bilang? Kau mau tidur di atap hah?!"


"Kan ada kamar mu?"


"Kau mau kita tidur sekamar?" Tanya Amy kesal.


"Tidak, aku tidur di kamar mu, kau tidur di sofa."


Bersambung.