One Night Special

One Night Special
Secuil Sampah



Hari telah berlalu, ini sudah bukan ke tujuh Amy mengandung, dan Heinry juga masih belum bisa melihat bagiamana keadaannya secara langsung. Memang Heinry terus melakukan panggilan setiap harinya, dia juga selalu mendapatkan kabar intens tentang kehamilan setiap Amy melakukan pemeriksaan, tapi tetap saja Heinry masih merasa bersalah dan tidak tenang.


Hari ini, adalah hari dimana Heinry mendapatkan gelar sarjana keduanya. Dia sudah mengirimkan pesan kepada Amy tentang wisudanya hari ini, dan jawaban Amy benar-benar sangat singkat yaitu, selamat!


Seperti kebanyakan acara wisuda pada umumnya, dan Heinry hanya bisa mengikutinya dengan pasrah.


Beberapa saat kemudian.


Heinry kini berada di perjalanan pulang, dan dia tidak sendiri karena Cheren menemaninya. Mereka mengendarai mobil menuju kediaman orang tua Heinry karena orang tua Heinry sudah pulang lebih dulu dan sudah menyiapkan pula acara kecil-kecilan untuk Heinry. Entah apa yang sedang di rayakan padahal gelar sarjana cukup hanya di simpan dengan bangga kan?


Begitu sampai di rumah, Heinry lagi-lagi dengan tepaksa harus memperlihatkan senyumnya, entah kegiatan itu akan berlangsung berapa lama lagi, Heinry sudah semakin tidak tahan rasanya.


Acara makan malam bersama di gelar, mereka semua benar-benar banyak tertawa senang, dan hanya Heinry yang masih tidak paham sebenarnya pesta kecil itu di buat untuk siapa? Kenapa dia harus terlibat dalam pesta para orang tua?


"Kak Heinry bosan ya?" Tanya Cheren seraya mengambil posisi duduk di sebelah Heinry yang kini duduk di ruang tamu.


"Iya begitulah."


Cheren tersenyum, selama beberapa bulan ini Cheren benar-benar berusaha untuk memahami Heinry itu sebenarnya orang yang seperti apa. Meski hingga kini dia masih tidak paham, dia juga memiliki banyak sekali pertanyaan yang memenuhi hatinya, Cheren hanya bisa menahan semua itu, berharap suatu hari dia akan mendapat jawabannya tanpa harus bertanya-tanya kepada Heinry.


"Kak, apa kak Heinry memiliki niat untuk liburan? Kalau ada, bagaimana kalau kita pergi berdua? Sebenarnya beberapa bulan yang lalu saat kak Heinry pergi berlibur ke luar negeri, aku benar-benar penasaran kemana Kak Heinry pergi. Apakah itu tempat liburan yang cukup menyenangkan sampai kak Heinry lupa untuk mengabari kami semua?" Cheren bertanya dengan senyum di wajahnya seolah dia mengisyaratkan bahwa di jawab atau tidak Cheren akan memahami, tidak akan memaksa apa lagi menuntut.


Heinry menghela nafasnya, sebenarnya Ayahnya Heinry berharap kalau Heinry langsung fokus bekerja di perusahaan, tapi Heinry ingin sebentar melihat keadaan Amy dan ikut memeriksakan kehamilan Amy nanti.


"Aku berniat pergi ke luar negeri, tapi aku minta maaf sekali karena aku tidak bisa mengajak mu serta."


Cheren tetap memperlihatkan senyumnya, tapi sepertinya dia benar-benar kesulitan menyembunyikan kekecewaannya. Tentu saja dia sedang berpikir keras, kemana sebenarnya Heinry akan pergi sampai untuk mengajak Cheren saja dia tidak mampu.


"Apa kak Heinry akan pergi menemui seseorang?"


"Aku hanya ingin pergi dan menangkan pikiran, aku membutuhkan waktu untuk tenang, jadi aku akan pergi sendiri." Jawab Heinry tentu saja dia harus berbohong karena dia juga tidak bisa membuat orang lain mencurigai dia, dan pada akhirnya keberadaan Amy akan di ketahui, dan membuat Amy merasa tidak nyaman. Membayangkan Ibunya tahu lalu mengambil paksa anaknya Amy, rasanya dia akan merasa bersalah. Yah, tahu sendiri bagaimana mulut Amy kan? Kabur ke planet Pluto juga pasti akan di ikuti oleh Amy.


"Kalian ada di sini?" Ujar Ayahnya Heinry yang datang bersama dengan Ibunya Heinry juga kedua orang tuanya Cherel. Mereka kini langsung bergabung bersama, dan pada akhirnya berujung dengan obrolan tentang pernikahan di antara Heinry dan juga Cherel.


"Heinry, cepatlah menikah dan berhenti kebanyakan berpikir. Semua masalah kalian tentu saja kami akan sial membantu dan menjadi penengah. Kau sudah mendapatkan gelar sarjana ke dua mu, berhentilah membuang-buang waktu. Jangan gila dengan mengatakan lima atau sepuluh tahun lagi." Ucap Ayahnya Heinry yang sudah tidak ingin memberikan kelonggaran bagi putranya yang hanya banyak alasan saja.


"Benar, menikahlah selagi kau muda supaya kau puas bermain dengan anak cucu nantinya." Kalimat itu keluar dari Ayahnya Cheren dan membuat Heinry semkain tertekan dan tidak bisa menahan lagi atau mengundur terus menerus karena hanya dia seorang yang akan merasakan pusingnya.


"Paman, Bibi, Ayah, dan Ibu, maafkan aku, maaf karena sepertinya aku tida memiliki pemikiran untuk menikah bersama dengan Cherel. Sampai sekarang aku juga belum menginginkan pernikahan bahkan dengan wanita lain, aku tidak sanggup menyanggupi lagi dan ikatan yang begitu berat dan menyesakan dada. Kalau memang paman dan Bibi ingin cepat-cepat menikahkan Cherel, bagiamana jika menikahkan Cherel dengan pria lain saja?"


Semua orang benar-benar terkejut bukan main dengan apa yang di katakan Heinry. Tentu saja apa yang di ucapkan Heinry adalah hal yang sama sekali tak pernah mereka pikirkan. Ini bukan lagi masalah mau atau tidaknya, tapi pernikahan mereka adalah kesepakatan kedua orang tua sejak dulu, jadi penolakan dari Heinry seperti pemicu untuk renggangnya hubungan persahabatan mereka.


"Heinry, kau ini sudah gila atau apa?! Kenapa kau terang-terangan begitu? Kenapa kau mempermainkan dan mempermainkan kami semua?!" Protes Ayahnya Cherel yang tentu saja tidak terima dengan ucapan Heinry. Selama ini dia tahu benar bagaimana putrinya begitu menyukai, mencintai Heinry hingga setiap waktu yang dia ceritakan hanyalah tentang Heinry seorang. Dia tidak akan bisa menerima hal itu karena dia juga tidak ingin melihat putrinya patah hati.


Cherel, gadis itu benar-benar terdiam dengan segala keterkejutannya hingga tak kuasa menahan laju air matanya yang kini telah membasahi pipinya yang tirus.


"Kau sadar benar kalau yang kau katakan barusan sama artinya kau sedang melemparkan kotoran ke wajah kami kan, Heinry?" Ayahnya Heinry menatap Heinry dengan dingin.


Heinry menunduk, lalu siapa suruh kalian membahas tentang pernikahan terus menerus? Seperti itulah yang di gumam kan Heinry di dalam hati.


"Putriku, dia adalah gadis yang sangat cantik, dia berbakat dalam banyak hal, dia bahkan menjaga benar pergaulannya sehingga aku yakin benar akan kemurnian putriku!"


Heinry menghela nafasnya. Iya deh Iya, sumpah deh dia percaya, batin Heinry.


"Iya, itu dia masalahnya. Aku merasa takut karena putri Paman di gambarkan dengan sangat sempurna. Aku yang secuil sampah ini merasa tidak pantas untuk putri Paman."


Bersambung.