
Darah!
"Kak, Heinry berdarah!" Ucap Amy panik.
Semua orang bergegas untuk berlari mendekati Heinry agar bisa menolongnya.
Beberapa saat kemudian.
Amy dan yang lain duduk di kursi tunggu, menunggu Heinry yang kini tengah mendapatkan perawatan untuk lukanya.
"Heinry pingsan begitu saja setelah aku jilat, apakah air liurku berair?" Tanya Amy yang begitu merasa bersalah.
Gaun pengantin yang melekat di tubuhnya masih tak sempat dia lepaskan sehingga dia cukup menjadi pusat perhatian disana.
Jhon membuang nafasnya," Jangan asal bicara, pasti terjadi sesuatu dengan Heinry sebelum datang ke pernikahan kalian tadi."
Orang tuanya Heinry tidak bisa diam sejak tadi. Mereka terus mondar mandir tidak merasakan tenang barang sedikitpun.
Beberapa saat kemudian, Dokter keluar setelah selesai memeriksa keadaan Heinry.
"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" Tanya Ayahnya Heinry yang justru terlihat lebih tegang dari sebelumnya.
"Ada sedikit robekan di kepala atas bagian belakang, untungnya tidak parah dan tidak terjadi gegar otak. Pasien pingsan pasti karena perasaan terkejut, dan panik, ditambah beliau juga memaksakan diri sekali. Setelah berapa saat istirahat, pasien juga akan bangun."
Semua orang menghela nafas lega, begitu juga dengan Amy.
"Untunglah......." Ucap Amy setelah bernafas lega.
Jhon berdecih melihat ekspresi Amy yang terlihat khawatir, namun terlihat lega setelah mengetahui keadaan Heinry baik-baik saja.
"Ternyata kau khawatir juga ya? Padahal aku mengira, kalaupun Heinry di culik dan di buang ke Pluto kau tidak akan perduli." Ujar Jhon menyindir sekaligus kesal juga karena mendapati kenyataan bahwa, Amy memiliki rasa perduli kepada Heinry.
Amy membuang nafas kesalnya, menatap Jhon sinis.
"Kau bodoh ya? Kalau Heinry mati setelah aku jilat, apa kau tidak khawatir semua orang menyalahkan ku? Kau mau aku dibilang memiliki lidah beracun? Walaupun memang tampang ku pas-pasan, mana boleh aku memiliki label seperti itu?!" Protes Amy sebal.
Jhon terkekeh geli, ah! ini memang benarkah seorang Amy! Dibanding mengkhawatirkan nyawa Rodez, ternyata dia jauh memikirkan dan mengkhawatirkan tentang nama baiknya yang tidak boleh tercoreng sama sekali.
Jhon menoleh, dia tidak sengaja melihat Jeje menyeka air matanya sehingga seketika itu pula Jhon menghentikan tawanya.
Iya, dia lupa kalau Jeje pasti mengkhawatirkan Ayahnya bukan?
Jhon ingat benar bagaimana wajah kesal Jeje begitu dia tahu siapa Ayah kandungnya. Tapi, begitu bertemu dengan Heinry dan mengetahui apa yang terjadi dengan Ayahnya, hatinya pasti merasakan perubahan bukan? Selama ini pun, Jeje juga cukup dekat dengan Ayahnya.
Jhon menghela nafasnya, merangkul Jeje dan mengusap kepalanya dengan lembut.
"Kau sudah dengar kalau Ayah mu baik-baik saja kan? Mana boleh kau menangis setelah tahu Ayah mu tidak apa-apa? Apa kau mau orang lain menganggap mu bahagia saat tahu Ayah mu akan bangun nanti?"
Jeje menatap Jhon dengan tatapan sinis lalu berkata,"Aku tidak perduli dengan apa yang di katakan oleh orang lain. Aku tidak tahan menangis bukan berati aku menangis sedih kan? Bahkan Ibu ku saja bisa sampai menangis sembari berguling kesana kemari saat dia mendapatkan bonus dari perusahaan."
Jhon memaksakan senyumnya, sialan! Lagi-lagi harus menghadapi Jeje yang begitu mirip dengan Heinry. Rasanya ingin protes kepada Tuhan, kenapa dia menciptakan manusia kecil yang mirip segalanya dengan Heinry untuk menjadi keponakannya? Duh! Padahal membayangkan keponakan dengan sikap yang menggemaskan sangatlah indah kan?
"Amy, kau pasti terkejut sekali ya? Untunglah, Heinry baik-baik saja. Kau tinggu sebentar lagi, akan ada orang yang datang untuk membawakan mu baju ganti." Ucap Ibunya Heinry yang kini sudah tidak terlihat begitu ketakutan seperti sbelumnya.
Amy memaksakan senyumnya, iya memang bagus! Tidak bisa di bayangkan kalau Heinry mati di Ahri pernikahan, karena secara otomatis artinya adalah, Amy menjadi janda di hari pernikahannya sendiri.
"Baik, Nyonya." Jawab Amy.
Ibunya Heinry menghela nafas, dia terlihat agak kecewa dan untuk kali ini dia tidak akan menahan diri lagi.
"Amy, bisa tidak mulai sekarang, panggilnya Ibu? Kan kita sudah jadi Ibu dan anak secara resmi?"
"Ah, Iya Nyonya. Eh, anu, Ibu." Amy lagi-lagi memaksakan senyumnya. Ibu dan anak? Menggelitik sekali, tapi Amy benar-benar tidak ingin banyak memikirkan soal itu. Sejak kecil Amy hanya tahu yang namanya kata Ibu, arti Ibu, tapi tidak tahu rasanya memiliki Ibu jadi, dia juga tidak ingin memikirkannya apalagi mengharapkan itu.
Beberapa saat kemudian.
"Ayah!" Panggil Jeje seraya berlari karena sudah tidak sabar lagi ingin melihat secara langsung bagaimana keadaan Ayahnya.
Heinry tersenyum, dia mengulurkan satu tangannya menunggu Jeje memberikan tangannya untuk dia genggam.
Jeje meraih satu tangan Ayahnya, lalu berhenti tepat di dekat Ayahnya dengan sorot matanya yang terlihat begitu ingin bertanya tentang Ayahnya.
Heinry tersenyum, lalu mengusap kepala Jeje dengan lembut.
"Ayah baik-baik saja, maaf ya? Kau pasti sangat kaget." Ucap Heinry lalu kembali tersenyum kepada Jeje.
Orang tua Heinry tersenyum haru, mereka bahagia karena Heinry tidak dalam bahaya atau majalah kesehatan, tapi yang membuat lebih bahagia lagi adalah, sosok Heinry yang begitu kebapakan benar-benar muncul setelah adanya Jeje di dalam hidupnya.
Tentu saja Heinry masih ketus, dingin dan licik. Tapi, di hadapan putrinya dia akan menjadi sangat lembut, bahkan hampir setiap waktu Heinry hanya akan mengiyakan apa yang di katakan putrinya.
"Ngomong-ngomong, Ibu mu di mana?" Tanya Heinry yang tak mendapati Amy ikut masuk kedalam ruangannya.
"Ibu pergi ke toilet sebentar, dia pasti akan datang kesini nanti." Jawab Jeje.
"Bagaimana dengan Ibumu? Dia menangis tidak saat Ayah pingsan tadi?" Tanya Heinry dengan sorot matanya yang terlihat begitu berharap kalau jawabannya akan sama seperti yang dia inginkan.
Jeje terdiam sebentar, dia memikirkan lebih dulu perlu atau tidaknya dia memberitahu. Tapi karena Ayahnya terlihat begitu menunggu jawaban darinya, jadilah Jeje mengatakan yang sebenarnya.
"Ibu sedih sekali, dia sampai tidak ingat lapar tadi."
Eh?
"Jadi begtu ya? Sedih saja, tidak menangis?" Tanya lagi Heinry yang sukses membuat kedua orang tuanya keheranan.
"Sedih, sepertinya dia hampir putus asa." Jawab Jeje.
"Benarkah?" Tanya Heinry, dan Jeje mengangguk.
"Ibu bilang apa memangnya?" Tabah Heinry yang terlihat begitu bahagia, bahkan wajahnya bersemu merah.
"Ibu bilang, kalau sampai Ayah mati, Ibu takut sekali dikira ibu memiliki lidah beracun. Jad, Ayah harus baik-baik saja supaya Ibu juga tidak kena masalah."
Eh, Ugh!
Jadi Amy sedih bukan karena khawatir padanya, melainkan mengkhawatirkan diri sendiri?
Bersambung.