One Night Special

One Night Special
Mencari Jalan Keluar



Setelah menimbang cukup lama, akhirnya Heinry mantap menemui Amy kembali dan mencoba untuk berbicara dengan situasi yang lebih tenang agar mereka mendapatkan solusi yang sama-sama menguntungkan.


Heinry dan keluarga mantap untuk tidak melakukan DNA tes karena melihat wajah Jeje yang begitu mirip dengan Heinry. Kalaupun memang bukan, mereka juga telanjur jatuh cinta dengan Jeje dan ingin ikut serta dalam pengasuhan anak itu.


Untuk sampai di rumah Amy tentu aja dia sudah melewati Jhon yang begitu singing selama di kantor. Dia benar-benar sudah banyak bersabar dan untuk masalah Amy juga Jeje, Heinry tidak bisa menunda lebih lama lagi karena kedua orang tuanya juga selaku menekannya.


"Lagi-lagi datang kesini, mana yang katanya tidak Sudi dan harus menjaga jarak minimal sepuluh meter? Katanya lebih baik berbicara dengan pantat babi, tapi hari ini datang ingin bicara dengan adikku? Cih! Dasar plin-plan!" Begitulah kalimat yang keluar dari mulut Jhon begitu dia membuka pintu dan mendapati Jhon adalah orang yang dayang menggangu.


Heinry terdiam menahan kesal, dan perasaan ingin meninju Jhon sampai ke planet Pluto.


Heinry memaksakan senyumnya, dia mencoba sebaik mungkin untuk menyembunyikan apa yang dia rasakan, juga mencoba menghormati Jhon sebagai paman dari anaknya, meski sebenarnya Heinry merasa Jhon bahkan tidak memiliki apapun untuk dihormati.


"Izinkan aku untuk bicara dengan Amy, sungguh semua akan sangat sulit saat kau mencegah, kau tahu bagaimana orang tuaku kalau sudah nekad kan?"


Jhon menaikkan satu sisi bibirnya, aduh duh! Masalahnya dia juga tahu kok bagaimana kedua orang tua Heinry. Lalu kenapa memangnya? Dia tidak memiliki hutang apapun, dia tidak memiliki masalah pribadi yang bisa di sebut aib kecuali bagaimana sifat Ayahnya yang suka sekali pindah lubang sana dan lubang sini.


"Yah, aku sih sebenarnya sama sekali tidak takut dengan ancaman darimu, tapi karena aku tahu benar kau tidak akan mendapatkan apa yang sedang kau inginkan, makanya aku membuka jalan untukmu. Saranku adalah, jangan terlalu banyak berharap, jangan terlalu sakit hati juga jika mendapat penolakan ya?"


Heinry terdiam karena tidak ingin banyak mengeluarkan energi hanya untuk meladeni Jhon. Biarlah Jhon bahagia dengan segala halusinasinya, karena Heinry juga cukup percaya diri kalau dia pasti akan mendapatkan apa yang dia inginkan.


Heh!


Dia adalah pria yang mengedepankan harga diri, dia juga sangat ambisius dalam sebuah pencapaian jadi jangan harap dia akan menyerah begitu saja, batin Heinry di dalam hati.


Beberapa saat kemudian.


"Begini, aku datang untuk menawarkan sesuatu padamu dengan tujuan supaya aku juga memiliki peran sebagai Ayahnya Jeceline."


Amy menghela nafasnya.


"Memang apa yang ingin kau tawarkan?" Tanya Amy yang sebenarnya malas meladeni Heinry.


Heinry menelan salivanya, lalu kembai memulai untuk bicara.


"Aku akan memberikan uang bulanan sebesar lima puluh juta, itu di luar biaya sekolah. Aku juga akan memberikan padamu setiap bulannya dengan jumlah yang sama, dan kedua orang tuaku juga akan memberikan sendiri tapi kurang tahu betapa jumlahnya. Kami akan memberikan dua persen saham perusahaan kami untukmu, juga sebagai jaminan karena orang tuaku juga ingin ikut andil dalam pengasuhan Jeceline."


Amy menggaruk kepalanya, duh! Pusing sekali memikirkan hal itu, bahkan untuk pengalihan salah dua persen itu juga cukup membuat pusing.


"Bagaimana ya? Saham dua persen darimu sama sekali tidak menggetarkan kantung uangku, uang bulanan yang kau maksud juga sama sekali tidak begitu aku inginkan karena aku sudah memiliki tabungan untuk Putriku sampai dia lulus sekolah dasar. Selanjutnya tentu saja aku akan berusaha sendiri, aku sudah melewati tujuh tahun masa seperi itu, aku sama sekali tidak merasa terbebani karena anakku bukanlah beban sehingga aku harus menjamin tangan orang lain untuk membantu."


Heinry benar-benar ingin memprotes ucapan Amy, bagaimanapun dia kan Ayahnya Jeceline?! Bagaimana bisa dia di sebut orang lain?


"Kau berikan saja syarat apapun, selama aku dan keluargaku mampu, kami semua akan melakukan sesuai dengan inginmu." Ucap Heinry dengan tatapan memohon.


Cih! sejak kapan Heinry bisa memiliki wajah seperti anjing yang sedang menunggu makanannya?, Batin Jhon yang sejak tadi mengintip juga menguping Heinry dan juga Amy.


Jeje juga berada di sana, berada di belakang tubuh Jhon dan mendengarkan apa yang di katakan oleh Ayah dan Ibunya. Sebenarnya Jeje kesal karena menganggap Ayahnya adalah Ayah yang jahat karena tidak pernah sekalipun datang padanya, tapi melihat bagaimana Ayahnya sedang berusaha Jeje merasa sedikit tersentuh meski niat untuk dekat dengan Ayahnya belum dirasa olehnya.


Heinry menghela nafasnya, rasanya benar-benar sana tidak biasa sekali. Di hadapan orang tuanya, di hadapan orag lain dia bisa membalikan ucapan dan membuat lawan bicaranya terdiam. Tapi kenapa dia selalu tidak berdaya di hadapan Amy? Apakah karena Heinry merasa Amy begitu berjasa telah melahirkan dan membesarkan anaknya? Ah, iya! pasti karena itu!


"Tapi aku kan juga Ayahnya? Apakah tidak bisa saat akhir pekan saja dia bersamaku?" Pinta Heinry.


"Tidak!" Jawab Amy dengan tatapan yang terlihat bahwa dia sama sekali tidak perduli.


"Kalau begitu hari mingu saja ya? Aku akan ajak dia untuk jalan-jalan atau apapun. Hanya satu hari dalam tujuh hari kok."


"Tidak!" Jawab lagi Amy.


Heinry menghela nafasnya. Oh ya Tuhan..... Sebenarnya harus menawarkan apa supaya Amy mau?


Eh, tiba-tiba saja Heinry memiliki ide yang sedikit aneh cenderung gila.


"Ngomong-ngomong, apa kau tidak ingin memiliki anak lagi?" Tanya Heinry.


Amy memicingkan matanya, anak lagi? Sebenarnya apa yang sedang di pikirkan oleh Heinry? Mungkinkah kali ini Heinry sendiri yang akan menyodorkan kemoceng berbulu miliknya supaya Amy bisa mendapatkan anak kedua?


Cih!


Mau di pikirkan berapa kalipun memang sih bibit dari Heinry adalah bibit unggul. Tapi masalahnya, Amy sedang tidak menginginkan anak, kalaupun nanti ingin anak, setidaknya dia ingin dari bibit unggul lainnya.


"Bagiamana ya? Aku sekarang sedang tidak memilki minat memiliki anak, tapi kalaupun ingin anak kedua, aku berencana memilki anak dengan ras yah berbeda."


Heinry terdiam tak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Maksudnya?" Tanya Heinry yang masih takut untuk memahami.


"Tentu saja harus cari pria lain, kalau kau lagi tentu saja aku akan bosan."


Heinry benar-benar tidak bisa menerima itu!


"Bosan apanya?! Kau bilang kita hanya melakukanya sekali kan?"


Amy menatap Heinry dengan sinis.


"Yah, itupun harus di paksa dan diracuni dulu, sangat tidak seru!" Ujar Amy.


"Se, sekarang tidak perlu lagi!"


Eh?


Bersambung.