
Amy menaikkan satu sisi bibirnya melihat photo pertunangan Cheren dan juga Heinry yang sangat tidak enak di lihat. Cheren menggunakan dress berwana silver, model dress nya benar-benar sangat bagus, tapi ya sayang sekali sepertinya Cheren benar-benar memaksakan diri mengunakan dress ketat yang kekecilan di tubuhnya, bahkan bagian dadanya sampai tertekan kuat membuat bentuk bagian benda kembarnya seperti telur dadar saja.
Edith yang sejak tadi memperhatikan Amy benar-benar tidak mengerti sebenarnya apa yang aneh dari photo itu sampai Amy berekspresi seperti itu? Kalau pun mau menuduh Amy sedang cemburu, rasanya tidak mungkin deh karena wajah Amy sekarang seperti sedang jijik entah bagian mana yang terlihat tidak enak di lihat dari sudut pandangnya?
"Edith, apa kau tidak merasa kasihan melihat Cheren? Pasti si brengsek Heinry itu yang memaksanya untuk menggunakan dress kekecilan seperti itu kan? Lihat, tuh! Dadanya seperti telur mata sapi yang di injak kerbau, pinggangnya sampai begitu menonjolkan tulangnya, lihat perutnya yang kelewat rata, dia pasti demi memenuhi harapan Heinry sampai seperti ini kan? Dasar gadis bertietiet ini, belum saja kau kena karma karena memperlakukan wanita mu sekejam itu!"
Edith ternganga tak tahu harus mengatakan apa, oh jadi sejak tadi Amy sedang memperhatikan penampilan Cheren yang seperti di paksakan? Tapi masalahnya adalah, kenapa Heinry yang di salahkan? Orang seperti dia memang akan menjelaskan detail sampai sebegitunya? Lalu apa lagi tadi? Gadis bertietit? Aduh! Tolong ya tolong.......! Gadis bertietit itu adalah Ayah dari anak mu!, Batin Edith di dalam hati.
"Edith, aku benar-benar merasa tidak tega dengan Cheren deh. Bagaimana ya dia akan menjalani kehidupan rumah tangga kalau suaminya sepeti Heinry? Duh, Cheren yang malang, aku berharap kau tidak akan menikah dengan pria menyebalkan seperti Heinry." Ujar Amy yang sejak tadi hanya menggelengkan kepalanya terus menerus memperlihatkan benar kalau dia sungguh merasa iba padahal orang tersebut saja tidak merasa perlu di kasihani.
"Cheren itu adalah gadis yang sangat cantik, dia juga adalah anak dari orang kaya, apa kau pikir dia membutuhkan bekas kasih mu? Kalau menurut kita dress yang dia gunakan kekecilan, maka kau perlu tahu bahwa gaya itu adalah standard kecantikannya. Amy, rasanya aku ingin meledek mu dah mengatakan jika kau sedang cemburu, tapi melihat reaksi mu yang seperti tak memikirkan Heinry sama sekali, aku benar-benar tidak habis pikir. Pria yang sedang bertunangan itu, pria yang sedang kau maki tanpa rasa bersalah adalah Ayah dari anak mu."
Amy berdecih sebal dengan ucapan Edith. Tentu saja dia tahu, tapi dia memang hanya memikirkan bagiamana jadinya hidup Cheren kalau memiliki suami seperti Heinry, dia justru sama sekali tak memikirkan apapun soal itu, apalagi cemburu. Entah Heinry akan bertunangan atau menikah dia yakin benar tidak akan merasakan apapun. Ya memang benar Heinry adalah Ayah dari bayinya, tetap saja Heinry adalah orang asing kan?
"Percayalah Amy, Heinry bisa mendapatkan perempuan yang jauh lebih dari pada Cheren. Kau tidak lupa kalau sebelumnya Heinry bahkan menolak seorang aktris peran yang juga nak jenderal kan? Kau ingat bagaimana cantik wajahnya kan? Lebih baik kau kurangi firasat buruk mu karena sepertinya semua itu lambat laun akan menjadi bumerang untuk mu. Sekarang boleh kau menolak keras untuk memiliki hubungan dengan Heinry, tapi siapa yang tahu kalau beberapa tahun ke depan kau akan mengejarnya mati-matian. Bukan hanya itu, dengan sifat yang aneh seperti itu, sepertinya kau bahkan tidak akan segan-segan memperkosa Heinry di depan umum kan?"
Amy ternganga kesal mendengar ucapan Edith. Siapa yang akan jatuh cinta dengan Heinry? yah memang Heinry itu bisa di bilang super tampan, tubuhnya tinggi sekali dan bidang, kekar pula. Tapi, tetap saja Amy tidak bisa, tidak akan membiarkan hatinya merasakan jatuh cinta. Ya ya ya! Jatuh cinta itu berbahaya, jatuh cinta itu adalah hal yang tidak boleh di lakukan, jatuh cinta adalah penghancur, jatuh cinta pokonya bla bla tidak baik deh!
"Yah walaupun aku jatuh cinta, aku tidak akan membiarkan perasaan cinta itu menghancurkan sebuah kehidupan, terutama anak ku."
Edith tak lagi ingin membahas soal itu, tentu saja dia tahu benar bagiamana kehidupan Amy tanpa Ayah dan Ibunya selama ini. Sebagai orang tua Amy mereka benar-benar hampir tidak pernah ada untuk Amy dengan segudang alasan yang tidak pernah habis. Setiap pengambilan raport sekolah, Amy hanya mengandalkan diri sendiri karena orang tuanya juga sibuk mengambil rapor untuk anaknya yang lain. Neneknya Amy juga tidak bisa selalu ada karena dia hanyalah seorang petani buah-buahan. Edith tahu benar betapa beratnya kehidupan tanpa orang tua, dan di banding Amy tentu saja tidak ada apa-apanya bukan? Amy adalah korban dari keegoisan orang tuanya yang mudah sekali jatuh cinta, nisan dalam rumah tangga, seenaknya saja bercerai dan mengabaikan Amy seolah Amy hanyalah binatang peliharaan.
"Ngomong-ngomong, kau sudah menyiapkan nama untuk anak mu nanti?" Tanya Edith.
Amy menggelengkan kepalanya, dia belum memikirkan soal nama dan terlalu fokus dengan kesehatan fisik dan mentalnya. Bagi Amy kehamilan ini adalah segalanya, kehamilan yang akan melahirkan kehidupan baru jadi tidak boleh main-main kan? Terlebih sekarang Amy sudah sibuk kuliah dan bekerja paruh waktu, rasanya dia akan menjalani saja semuanya seperti seharusnya.
Amy tersenyum lebar.
"Setelah melewati tiga bulan kehamilan mual yang aku rasakan benar-benar berkurang. Walaupun kadang memang masih terasa, aku hampir lupa kalau aku hamil saat sedang bekerja dan kuliah."
Edith mengangguk angguk saja seolah dia paham padahal dia juga benar-benar tidak terlalu paham ucapan Amy.
"Oh iya, pinjamkan aku ponsel mu ya? Kau ingin melihat ramalan bintang bulan ini." Ucap Edith lalu segera meriah ponsel Amy yang di sodorkan padanya.
Eh?
Edith menatap Amy seolah ingin bertanya.
"Ada apa?" Tanya Amy.
"Aku tidak sengaja melihat notifikasi pesan yah masuk ke ponsel mu, ke kenapa Heinry mengirimkan pesan, semangat?"
Amy membuang nafasnya.
"Sejak dia kembali ke negara asal, dia bahkan hampir setiap jam mengirimkan pesan semangat padaku. Sekarang kau bisa bayangkan bagaimana muak nya aku mendengar atau membaca kata semangat bukan?"
Edith menelan salivanya sendiri, sebenarnya Heinry bisa segila apa sih? Kenapa yang dikenal banyak orang adalah Heinry si raja tampan di tengah gunung salju?
Bersambung.