One Night Special

One Night Special
Perasaan Tulus Dan Kepercayaan



"Wah! Sialan! kenapa aku harus bertemu lagi denganmu sih?!"


Suara makian itu membuat Amy menoleh ke arah sumber suara, dan ternyata dia adalah, Lorita!


"wah sialan juga! kemarin bertemu denganmu aku tidak selera makan, jangan-jangan hari ini aku tidak selera menggunakan mataku hanya untuk melihat!" ucap Amy kesal.


Lorita berdecih sebal, Tapi saat mengingat bahwa kami adalah adiknya Jhon, Lorita jadi harus banyak mengalah.


"Lihat tuh! Suamimu tersayang sedang digoda oleh gadis-gadis cantik!" Ucap Lorita yang sempat melihat ke arah Heinry yang kini sedang dikelilingi oleh beberapa gadis cantik.


Amy menghela nafasnya lalu berkata,"Tidak takut tuh! Melihat wanita cantik sama artinya melihat tampang babi yang sedang mabuk, suamiku tidak akan tergoda!"


Lorita berdecih tak percaya,"Dasar pasangan aneh!"


Amy berdecih sebal sebentar melirik Lorita, tentu saja dia tidak peduli dengan apa yang dikatakan Lorita tentang mereka yang katanya pasangan aneh. Entah mengapa, Amy benar-benar merasa begitu mempercayai Heinry setelah beberapa waktu yang mereka habiskan bersama dan sikap Heinry yang menunjukkan bahwa dia benar-benar bisa dipercaya.


"Ngomong-ngomong, aku sangat Penasaran sekali deh! Heinry bisa melakukan itu ya? kemoceng nya bisa berdiri tidak? Yah maklum saja, selama ini hari terkenal dengan penganut kaum pelangi!" ucap Lorita seolah ingin mengingatkan tentang rumor-rumor yang tidak bertanggung jawab, dan tidak jelas.


Amy menghela nafas tebalnya, itu saja dia tidak akan membiarkan suaminya dihina oleh wanita lain. Yah, Walaupun ada yang boleh menghina Heinry, tentu saja hanya Amy seorang!


"Tentu saja! dia bisa on tidak perduli pagi, siang, malam, sore, subuh, dini hari on time 24 jam!" Ucap Amy yang terlihat begitu bersemangat dan menggebu-gebu dalam memperbaiki Citra suaminya.


Lorita menatap Amy dengan tatapan tidak percaya, mana mungkin ada yang on time 24 jam kemocengnya berdiri? Tapi, mau tidak mau ya dia memang harus menghargai kerja keras Amy dalam membela suaminya.


"Iya, iya deh! biasa saja dong menjawabnya, tidak usah sampai bibirmu standing, dan berguling-guling seperti itu!" Ujar Lorita terpaksa dia harus pura-pura percaya saja.


Amy terperangan kesal sekali, apa-apaan?! Kenapa cara Lorita mengatakan iya seperti sebuah hinaan untuknya? Kalaupun tidak ingin percaya, kan hanya tinggal mengatakannya saja! Kenapa harus mengiyakan dengan wajah seperti itu, itu benar-benar sangat menyebalkan!


"Ngomong-ngomong, Bagaimana kabarnya Jhon?" tanya Lorita Yang penasaran, tapi dia juga berharap benar agar Amy tak salah paham dan menuduhnya yang tidak tidak.


Amy menaikkan satu sisi bibirnya menatap Lorita dengan tatapan mencemooh lalu berkata,"duh, kangen? Tapi sayangnya, Kakak laki-laki itu sangat ketus, cerewet, dan sangat suka mengatur. Tentu saja, Aku berharap dia tidak menikah dengan wanita sepertimu agar rumah tangganya adem ayem saja." Ujar Amy lalu tersenyum lebar yang justru membuat Lorita menjadi sangat kesal.


"Kau tidak tahu ya, sebenarnya aku ini aslinya pendiam tahu!" ujar Lorita yang tidak ingin kalau Amy menganggapnya seburuk yang dipikirkan oleh Amy sendiri. Walaupun sih memang aslinya lebih buruk daripada itu, tapi mana mungkin dia terima keburukannya diketahui oleh orang lain?


Ami berdecih tak percaya, yang modelan begitu pendiam apa kabar orang yang banyak bicara?


"Jadi, kau masih saja sirik yang melihat pasangan yang mesra? Makanya, lain kali carilah suami yang benar-benar tahu diri dan juga tahu dengan siapa kemocengnya boleh berdiri, dan dengan siapa kemocengnya tidak boleh berdiri." ucap Henry yang baru saja tiba, tangannya langsung memeluk pundak Amy seraya menyerahkan satu cup minuman dingin kepada Amy.


Lolita menaikkan satu sisi bibirnya, menatap Heinry dengan tatapan kesal. ternyata, pria yang dulu sangat jarang berbicara, selalu menatap sinis dan dingin, bahkan tidak pernah mau menghiraukan orang yang mengajaknya bicara, sekarang berubah menjadi pria yang sangat banyak bicara. Entah sudah ada berapa mulut yang dia punya, karena setiap kali membuka mulut rasanya Heinry jadi berisik sekali! Ah, sepertinya Heinry jadi seperti itu karena terkontaminasi virus cerewet dari istrinya, batin Lorita di dalam hati.


"Jangan pamer kemesraan di hadapanku! kalau kalian masih saja seperti itu, jangan salahkan aku kalau aku akan menjadi orang ketiga di antara kalian! Aku akan menjadi peran antagonis yang sempurna, aku akan membunuh istri pertamamu dengan sangat kejam, tahu tidak?!" Ancam Lorita yang begitu iri melihat kemesraan antara Amy dan juga Heinry.


Amy terkekeh, ancamannya memang sangat menakutkan akan tetapi, Lorita pasti hanya asal bicara saja, dia tidak terlihat seperti orang yang akan jelas melakukan apa yang dia ucapkan.


"kau sedang menatawakanku? Kau pikir aku tidak mampu melakukannya? Hei, Aku bahkan meninju perut mantan suamiku sampai dia tidak bisa bangun 2 hari di rumah sakit!" Kesal Lorita saat ucapannya diremehkan oleh Amy.


"Yah aku percaya saja deh....." Ujar Amy yang membuat Heinry tersenyum dan mengangguk saja. Memang akan lebih baik Kalau membiarkan orang yang sedang stres berbicara seenaknya, siapa tahu dengan begitu akan mengurangi stres yang dirasakan oleh Lolita, batin Henry yang terus menertawakan kisah Lolita yang menyedihkan itu.


"Ugh! Kalau saja kau bukan adiknya Jhon, aku pasti akan menjebakmu dan menjadikanmu lesbong sehingga aku bisa menjadikanmu pasanganku!" Ancam Lorita sebisa mungkin dia menunjukkan wajah seriusnya.


"Duh! kalau aku saja bisa menikahi pria tampan, kenapa aku harus menikah dengan wanita sepertimu? Mana Enak kalau cuman main gesek menggesek saja?" Amy menjulurkan lidahnya meledek Lorita yang terlihat semakin.


Lorita membuang nafasnya, Amy memang bukan lawan bicara yang bisa dia sikat dengan mulutnya. tidaknya, Lorita Sudah cukup tahu bahwa los mulutnya ternyata, masih ada Amy yang blong punya mulut.


"Ngomong-ngomong, kalau kau butuh bantuanku untuk dekat dengan kakakku, aku akan memikirkannya loh."


Lorita tersentak,"sungguh? Kau serius?!"


Amy tersenyum, lalu mengangguk setelahnya. Sudah bertahun-tahun masih memiliki rasa yang sama kepada satu pria, itu berarti perasaan Lorita cukup baik dan cukup pantas untuk kakaknya. Toh, Kakaknya juga sudah mulai tua, sudah waktunya dia mendapatkan istri agar ada yang mengurusnya.