
"Ibu, aku baru tahu loh kalau Ibu secantik ini!" Jeje tersenyum lebar. Sejak tadi dia terus mengatakan kalimat pujian yang justru begitu kesal untuk Amy dengar.
"Ayo senyum, Ibu! Mau sampai kapan Ibu merengut seperti itu? Walaupun Ibu tidak percaya, tapi ibu yang merengut malah jadi semakin cantik loh! Tuh, lihat saja! Nyamuk yang tidak sengaja lewat sampai jatuh pingsan karena terpesona dengan Ibu!" Ucap lagi Jeje yang semakin kesal saja Amy mendengarnya.
Nenek dan juga Jhon datang, mereka menatap Amy dengan segala pemikiran mereka. Namun, mereka juga mencoba sebaik mungkin untuk memperlihatkan senyum indah yang mereka miliki.
"Amy, hari ini, kau benar-benar sangat cantik," Ucap Nenek kepada Amy.
Amy membuang nafasnya, wajahnya terlihat lesu. Sorot matanya turun memandangi sepasang sepatu yang begitu indah. Sepasang sepatu berwarna kecoklatan, dengan hiasan bak emas dan Swarovski yang begitu indah. Gaun pengantin yang senada dengan sepatunya menempel dengan indah, make up yang begitu cocok wajahnya, tatanan rambut yang di sanggul ringan, mahkota sederhana tapi terbuat dari material mewah.
Iya! Hari ini adalah hari dimana Amy dan Heinry akan menikah.
Setelah membicarakan sebagai neneknya, Amy akhir mengambil keputusan untuk menikah lusa dari hari itu.
Jeje juga mengatakan bahwa, dia mempercayai Ayahnya sehingga dia akan menjamin hidup Ibunya tidak akan menderita. Kalaupun Ayahnya melakukan kesalahan dan Ibunya menderitanya, Jeje sampai bersumpah akan membahagiakan Ibunya dengan caranya sendiri.
"Ibu, aku adalah anak ibu! Walaupun harus mengorbankan apapun, Ibu adalah nomor satu untukku! Aku bersumpah, aku tidak akan membiarkan Ibu menderita! Kalau orang yang namanya Heinry Phoulo itu, orang yang katanya Ayahku sampai berani menyakiti Ibu, aku akan menghajarnya untuk Ibu!"
Ucapan Jeje begitu menggema di kepalanya, pagi, siang, malam, Amy benar-benar menjadi tidak tenang dan merasa bersalah dengan putrinya sendiri.
Pada akhirnya Amy memutuskan untuk menikah dengan Heinry demi putrinya. Selama ini dia telah melewati banyak kesakitan dalam hidup, semua yang dia lakukan hanyalah demi Jeje seorang jadi, dia juga yakin kalau pada akhirnya dia akan mampu menjalani pernikahan itu.
Amy paham sekali, pernikahan mereka memang bisa di bilang tidak normal, makanya akan lebih baik kalau mereka berdua bersikap layaknya teman setelah benar-benar resmi menjadi pasangan suami istri.
"Nek, sebenarnya aku masih bingung. Tapi seperti yang kalian ketahui, bahkan jika aku menikah lima tahun lagi, aku pasti akan seperti sekarang ini kan? Aku tidak boleh jadi pengecut bukan? Aku hanya perlu menjadi kuat, pernikahan kan tentang perjuangan? Tentu saja Heinry harus tahu bagaimana rasanya menikahi seorang Amy," Ucap Amy lalu tersenyum kepada neneknya.
Nenek tersenyum, tentu saja dia tahu benar bagaimana perasaan Amy saat ini. Tapi, bagaimanapun juga, Amy harus bisa mengatasi masalah traumanya agar tak menjadi masalah untuknya di kemudian hari. Tentu saja Ayahnya adalah pria yang tidak baik, tapi bukan berarti semua pria seperti itu kan?
"Sebenarnya aku masih tidak rela, jadi aku akan mengawasi baik-baik kalian berdua. Kalau ada masanya aku lengah, jangan ragu untuk memberitahuku apa yang di lakukan Heinry. Aku bersumpah, dengan kedua tanganku ini lah aku akan membuat dia mendapatkan balasan yang sejuta kali lebih menyakitkan." Ucap Jhon dengan mimik wajahnya yang terlihat begitu serius. Tentu saja dia tidak main-main dengan apa yang dia ucapkan. Janjinya yang akan terus melindungi Amy dan Jeje juga akan dia ingat dan laksanakan selama dia masih hidup di dunia ini.
Amy menghela nafasnya, sebenarnya dia merasa bersyukur sekali karena Jhon mau mencarinya dan membawanya kembali sehingga Amy bisa kembali merasakan hangatnya yang namanya keluarga.
"Ngomong-ngomong, kok Ayah belum datang kesini ya?" Ucap Jeje yang sudah sejak lama menunggu Ayahnya tapi tak juga kunjung datang. Dia kan sudah melihat bagaimana penampilan Ibunya, jadi dia ingin melihat bagaimana penampilan Ayahnya.
Di sisi lain.
Bukan karena terlalu ceroboh sebenarnya, itu terjadi karena Heinry benar-benar merasa begitu bersemangat dengan pernikahan ini sehingga, sejak kemarin dia terus tersenyum dan tidak bisa tidur. Jantungnya berdegup kencang, membayangkan bahwa sebentar lagi dia dan Amy akan menjadi keluarga dan hidup bersama.
Tapi, karena terlalu bersemangat sampai tidak bisa tidurlah, pada akhirnya Heinry tak lagi bisa mengontrol rasa kantuknya. Dia tidur dari pukul lima subuh tadi, hingga pukul enam yang tentunya dia baru tidur 1 jam.
Terlalu bahagia ternyata juga membawa sengsara bukan?
Heinry buru-buru mandi, merapihkan diri, dia sendiri sampai bingung mau melakukan apa dulu hingga lupa segala-galanya.
"Ibu, turunkan saka aku disini." Linta Heinry kepada Ibu dan juga Ayahnya.
"Kau gila ya? Kalau pulang bisa membuat waktu lagi, lebih baik beli saja di toko perhiasan pinggir jalan dulu, nanti baru ganti kalau sudah di rumah," Ucap Ayahnya Heinry yang tidak ingin semuanya menjadi rumit.
Heinry menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak bisa, Yah. Cincin itu aku sudah memilihnya dengan teliti, ada ukuran nama kami berdua disana. Masih keburu kok, jadi aku turun disini saja untuk ambil ya?"
"Tidak boleh! Kau saja dulu yang berangkat dengan Ayahmu. Katakan saja dimana kau simpan cincinnya, Ibu akan ambilkan untukmu!" Ucap Ibunya Heinry.
"Tidak boleh! Yang akan menikah adalah aku, Ibu. Aku ingin melakukan itu dengan usahaku sendiri, oke?"
Ayah dan Ibunya Heinry menghela nafas sebalnya. Mereka lagi-lagi hanya bisa mengalah dan membiarkan saja putranya melajukan apa yang ingin di lakukan.
"Baiklah, tapi kau harus ingat untuk hati-hati. Jangan menggunakan mobil sendiri saat perjalanan kesana nanti, pesan taksi online, atau kau minta seseorang untuk mengantarmu," Pinta Ayahnya Heinry.
"Oke!"
Heinry turun dari mobil begitu Ayahnya menepi, dia menunggu sebentar untuk menghentikan taksi, barulah setelah itu dia bergegas menuju rumah untuk mengambil cincin pernikahan mereka.
Kembali ke gedung pernikahan.
Amy minat jam dinding yang tergantung di dinding sembari membatin di dalam hati, kenapa Heinry masih belum juga sampai?
Amy terdiam dengan segala pemikirannya. Kenapa Dia berdebar tidak jelas begini? Apakah Heinry tiba-tiba saja mendapatkan ingatnya kembali dan berubah pikiran? Apakah Heinry lari dari pernikahan? Kalau memang benar, haruskah dia menemukan satu pria untuk menggantikan Heinry lalu hidup bahagia bersama pria pengganti seperti kebanyakan dalam novel dan drama?