One Night Special

One Night Special
Ciuman Yang Tidak Di Inginkan



"Kak Heinry, apakah kak Heinry benar-benar hanya akan seperti ini saja? Pernikahan kita apakah benar-benar harus menunggu selama itu?" Cheren menatap Heinry dengan tatapan sedih, tentu saja menunggu lima atau sepuluh tahun adalah waktu yang lama. Orang tuanya juga mengatakan bahwa akan lebih baik jika cepat menikah, karena kebanyakan kasus gagal menikah adalah karena terlalu lama berpacaran hingga akhir menjadi bosan dan yah berakhir begitu saja.


Heinry terdiam sebentar, di tempat yang sunyi saat ini seharusnya dia dengan mudah bisa mengatakan apapun yang ingin dia lakukan bukan? Terlebih tidak ada orang tuanya yang akan melotot kepada Heinry saat Heinry berbicara tidak sesuai dengan keinginan mereka. Tapi, Heinry juga tidak mengatakan sebab yang bahkan dia sendiri tidak ketahui. Dia tahu pada akhirnya setiap manusia membutuhkan pasangan sebagai partner hidup dalam satu atap, berbagi suka dan duka bersama hingga mereka tua nanti.


Semua sudah tergambar seperti itu, tapi sejak adanya Amy yang tiba-tiba saja masuk ke dalam hidupnya, melakukan ini itu, membuatnya kesal, hatinya seperti memiliki keraguan yang tidak bisa dia pahami apalagi untuk dia jelaskan kepada orang lain. Heinry merasa menikah dengan Cheren bukanlah yang benar, dia merasa menolak dan terus membayangkan segala kemunginan terburuk untuk hubungan mereka, dia memiliki ketakutan atas ketidakmampuan seorang Heinry yang mulai di ragukan oleh dirinya sendiri.


Bukankah ini sangat rumit? Hatinya terus menolak tapi orang tuanya mendesak dan terikat pula dengan perjanjian orang tua. Sungguh miris dan tidak adil bukan? Yang berjanji adalah kedua orang tua mereka, tapi pada akhirnya anak-anak mereka lah yang harus menanggungnya. Rasanya Heinry ingin memprotes seperti itu, tapi sepertinya juga akan percuma mengingat bagaimana sifat ketua orang tuanya.


"Cheren, sekarang aku bahkan tidak tahu dan tidak memahami tentang diri sendiri. Aku ingin bagaimana, melakukan apa, apa yang aku inginkan, dan apa yang aku butuhkan aku masih tidak mengerti jadi, tolong berikan aku waktu untuk aku bisa benar-benar memahami diriku sendiri."


Cheren tak tahu harus mengatakan apa, tentu saja dia tidak akan rela untuk berpisah dengan Heinry, baginya hanya Heinry yang pantas untuk hati dan segalanya tentang dia.


Heinry teralihkan fokusnya saat ponselnya berdering, dengan segera dia mengeluarkan ponselnya, dan begitu melihat siapa yang mengirimkan pesan, dengan segera Heinry bangkit karena dia tidak boleh membuka pesan itu saat sedang ada Cheren atau siapapun pokoknya.


"Cheren, kau mau pulang dengan sopir mu atau bagaimana?" Tanya Heinry karena tidak mungkin juga dia meninggalkan Cheren di sana sendirian sementara semua anggota keluarganya sudah kembali ke rumah masing-masing.


"Bisa antar aku pulang kak?" Tanya Cheren.


Tidak!


Ah, andai saja Heinry bisa mengatakan itu, tapi dia juga tidak mau mendengarkan Ibu dan Ayahnya mengomel nantinya, jadi mana ada pilihan lain selain mengantarkan Cheren pulang?


"Iya."


Cheren berjalan cepat mengikuti langkah kaki Heinry yang cukup cepat, bahkan Cheren juga tidak bisa menggapai lengan Heinry untuk dia peluk dan gandeng seperti biasanya.


"Kau masuk ke mobil duluan ya?''


Tak enak untuk menolak, Cheren mengangguk setuju dan begitu dia sampai di dalam mobil, dia benar-benar hanya bisa terdiam menahan kebingungan melihat Heinry mengeluarkan ponsel, mendekatkan speaker ponsel ke telinganya, dan Heinry tersenyum senang.


Rupanya Heinry menerima pesan dari Amy, isi pesan itu adalah rekaman suara detak jantung bayi mereka, dan juga photo hasil USG.


Heinry benar-benar tidak menyangka kalau hal semacam ini akan membuatnya bahagia, bahkan hatinya seperti merasa hangat seolah mengatakan bahwa, dia adalah anak yang kan lahir, anak yang akan kau cintai, meski cara membuatnya memang amburadul.


Cheren memaksakan senyumnya begitu Heinry masuk ke mobil dan mengambil posisi duduk di kursi kemudi.


"Kak Heinry terlihat bahagia sekali melihat ponsel, apa ada yang menarik?" Tanya Cheren yang sebenarnya ingin tahu dengan jelas siapa yang mengirimkan pesan kepada Heinry hingga Heinry terlihat senang seperti itu.


"Ada satu hal yang di luar dugaan, awalnya aku benar-benar tidak menyukainya, tapi sekarang sudah tidak lagi seperti itu. Ternyata cukup baik juga, suaranya juga cukup keras jadi pertanda baik."


Cheren kembali memaksakan senyumnya, apa sih? Apa yang di maksud oleh Heinry? Suara cukup keras apa lagi? Apa Heinry sedang membeli alat musik? Mungkin memang seperti itu, batin Cheren.


Heinry memarkirkan mobilnya di halaman rumah Cheren karena dia harus menurunkan Cheren di sana. Seperti yang di ajarkan oleh Ibunya, Heinry membukakan pintu untuk Cheren, hanya hal seperti itu tapi Cheren terlihat benar-benar tersipu. Tapi sayang sekali, Heinry malah tidak memperhatikannya sama sekali.


"Kak?"


Heinry menatap Cheren yang memanggilnya dengan nada suara aneh.


Kenapa sih? Batin Heinry karena Cheren justru diam saja padahal dia yang memanggil kan?


Cheren tiba-tiba mendekatkan wajahnya, dan mengecup bibir Heinry dengan singkat.


Hah?


Cheren mencoba menyembunyikan wajahnya yang merona karena merasa malu, sementara Heinry terdiam menahan tangannya yang gatal ingin menyeka bibirnya. Yah, mungkin karena Heinry melihat sendiri betapa merahnya pewarna bibir yang di gunakan oleh Cheren kala itu.


"Kak, kita kan sudah bertunangan jadi hal seperti itu adalah hal yang wajar kan?"


Mata mu!


Heinry benar-benar harus memaksakan senyumnya, mengontrol dirinya agar tak mengatakan apa yang seharusnya tidak dia katakan.


"Ah, iya. Kalau begitu kau masuk ya?"


"Iya."


Begitu Cheren mulai melangkah masuk ke rumahnya, Heinry hanya bisa terus mempertahankan senyum di wajahnya sembari membatin kesal, masuk sana! sialan kaki ku pegal!


Cheren sepertinya benar-benar hebat membuat Heinry kesal di dalam hati, karena sudah hanya tinggal masuk saja tutup pintu, Cheren justru kembali menatap Heinry dan tersenyum lalu melambaikan tangan. Gila, rasanya baru kali ini Heinry sulit menahan kakinya yang terasa sangat pegal yang mungkin terpengaruh oleh suasana hatinya juga.


"Benar-benar menguji kesabaran, iman dan takwa seseorang yang tidak punya ketiganya sama sekali." Gumam Heinry dengan buru-buru masuk ke dalam mobilnya, bergegas menjalankan kendaraan untuk me uji rumah agar bisa kembali mendengar detak jantung bayinya, juga bisa dengan jelas melihat photo dari hasil USG yang di kirimkan Amy padanya.


Di sisi lain.


"Heinry ini aneh sekali, sejak kapan dia terus mengunci pintu kamarnya ya?" Kesal Ibunya Heinry yang kesulitan masuk ke kamar Heinry yang entah kenapa sering di kunci, belum lagi kunci Kamarnya tidak pernah di tinggalkan beserta kunci serep nya.


"Mungkin dia lupa, kuncinya terbawa." Ujar Ayahnya Heinry karena yang dia tahu Heinry adalah anak yang tidak pernah macam-macam apa lagi menyembunyikan hal aneh di kamarnya.


Bersambung.