One Night Special

One Night Special
Tidak Sesuai Dengan Keinginan



Jeje terdiam sebentar, dia memikirkan lebih dulu perlu atau tidaknya dia memberitahu. Tapi karena Ayahnya terlihat begitu menunggu jawaban darinya, jadilah Jeje mengatakan yang sebenarnya.


"Ibu sedih sekali, dia sampai tidak ingat lapar tadi."


Eh?


"Jadi begtu ya? Sedih saja, tidak menangis?" Tanya lagi Heinry yang sukses membuat kedua orang tuanya keheranan.


"Sedih, sepertinya dia hampir putus asa." Jawab Jeje.


"Benarkah?" Tanya Heinry, dan Jeje mengangguk.


"Ibu bilang apa memangnya?" Tabah Heinry yang terlihat begitu bahagia, bahkan wajahnya bersemu merah.


"Ibu bilang, kalau sampai Ayah mati, Ibu takut sekali dikira ibu memiliki lidah beracun. Jad, Ayah harus baik-baik saja supaya Ibu juga tidak kena masalah."


Eh, Ugh!


Jadi Amy sedih bukan karena khawatir padanya, melainkan mengkhawatirkan diri sendiri?


Hilang sudah rona wajah di wajah Heinry, dia benar-benar hanya bisa mengasihani diri sendiri karena nyatanya wanita yang baru saja dia nikahi sama sekali tidak mengkhawatirkan dirinya.


Amy masuk kedalam ruangan, jadi kedua orang tua Heinry memilih untuk keluar membawa Jeje karena mereka tahu benar ada banyak yang ingin mereka bicarakan.


"Aku benar-benar tidak menyangka, ternyata Amy berhati baja sekali ya? Heinry kita jelas memiliki wajah dan uang yang menggiurkan. Kenapa dia tidak suka anak kita sih?" Protes Ayahnya Heinry yang sebenarnya kasihan melihat Heinry harus menyukai wanita yang bahkan tidak tahu apa itu cinta.


Ibunya Heinry menggaruk tengkuknya yang gak gatal. Bagaimana ya? Walaupun untuk sebagian pria sikap Amy itu menyebalkan, tapi bagi Ibunya Heinry ada nilai plus memiliki sifat seperti itu. Pertama, dia tidak tertarik dengan hubungan dalam arti jalinan cinta. Bisa menikahi Amy tentu saja bisa di sebut keberuntungan karena, orang seperti Amy beranggapan bahwa, satu hubungan saja jelas tidak mudah, untuk apa hubungan yang lain? Dia tidak akan tertarik untuk berselingkuh!


"Sudahlah, mereka sudah dewasa, mereka juga sudah menikah. Biarkan saja itu menjadi urusan mereka, sekarang kan kita sudah ada Jeje yang perlu perhatian dari kita?"


Tanya Heinry tersentak, dia langsung saja tersenyum menatap Jeje yang kini menatap Kakeknya dengan tatapan sebal.


Bagaimana tidak?


Selama berada di rumah kedua orang tua Heinry, Jeje akan di hay pusing dengan banyaknya pakaian yang di belikan oleh Neneknya, lalu pernik seperti hiasan rambut, tas, sepatu, sendal, dan masih banyak lagi.


Kakeknya, dia adalah orang yang akan sedikit-sedikit membeli barang untuk Jeje. Boneka, apapun itu, ruangan ujung rumah yang lebarnya bisa di buat empat kamar tidur hanyalah untuk kamar Jeje saja, plus semua barang yang mereka belikan.


"Perasaanku tidak enak, kapan ya adik baru akan lahir?" Gimana Jeje pelan dengan mimik wajah yang terlihat tertekan tapi kesannya benar-benar lucu dan menggemaskan.


"Sepertinya aku harus cepat-cepat merengek sekuat tenaga deh," Ucap Jeje lagi.


Di dalam ruangan.


Amy menaikan satu sisi bibirnya, menatap Heinry dengan tatapan kesal.


"Kenapa kau membuang wajah saat aku masuk?" tanya Amy.


"Menurutmu kenapa? Ah, ngomong-ngomong, sebenarnya aku sudah ingat semuanya."


Amy menggaruk kepalanya. Ingat? Ingat apa sih yang dia maksud?


"Aku sudah tidak Amnesia lagi, aku perjelas karena otak bodoh mu itu pasti tidak akan paham." Ucap Heinry masih enggan menatap wajah Amy.


Amy mengangguk sok paham, tapi saat tersadar, dia mulai bereaksi dengan berlebihan.


" Ya ampun! Jadi sudah tidak Amnesia lagi? Oh, kau tidak mau menatap ku pasti karena merasa kesal padaku ya? Ah, aku tahu! kau pasti menyesal sudah menikah denganku ya? Jadi bagaimana? Kita harus bahas soal perceraian sekarang?" Tanya Amy dengan sorot matanya yang berbinar bahagia.


Heinry menggigit bibir bawanya, rasanya kesal sekali sampai ingin gantung diri. Padahal, dia sengaja bum memberitahu siapapun, dia ingin Amy menjadi orang yang pertama kali tahu, tapi, kenapa bukanya pelukan atau kata haru, tiba-tiba saja Amy membahas soal perceraian dengan tidak berperasaan!


"Heinry, jangan begitu terus oke? Aku tahu kau sedih, kecewa karena saat sadar dari Amnesia malah sudah menikah denganku. Habis mau menolak lebih keras lagi, aku juga tidak berdaya kan? Jangan kesal oke? Walaupun tampang ku kadang tidak enak di lihat, masih ada kok bagian lain yang enak," Bujuk Amy. Melihat Heinry yang sebegitu diamnya, Amy jadi serba salah. Dia juga kasihan kepada Heinry karena kenyataan ini adalah kenyataan yang paling tidak dia inginkan bukan?


"Heinry?" Panggil lagi Amy, tapi Heinry masih tidak ingin menjawab.


Amy menghela nafasnya, yah, sepertinya Heinry memang sedang butuh waktu sendiri. Amy memutuskan untuk keluar saja dulu, nanti baru bicara lagi saat suasana hati Heinry membaik.


"Kalau begitu, aku keluar saja dulu oke? Kau tenangkan diri dulu ya?" Setelah itu, Amy berniat melangkahkan kaki untuk menjauh dari Heinry.


"Apanya?! Kau ini apa-apaan hah?! Baru saja pagi tadi kita menikah, malam sudah membahas soal perceraian! Aku padahal sengaja memberitahu padamu tentang aku sudah ingat semua! Aku ingin, kau jadi orang pertama, tapi bukannya memberikan ucapan selamat atau apa, kau tiba-tiba saja membahas cerai? Walaupun aku diam saja, apakah kau tidak bisa membujukku? Kenapa kau-" Heinry tidak melanjutkan ucapannya saat kedua bola matanya melihat Amy yang terdiam, terkejut, dan hangat terus mengedipkan mata.


Heinry membuang nafas, dia berdehem untuk mengusir kecanggungan dan kembali menatap kearah lain.


Amy yang ternganga terkejut kembali menutup mulutnya dan berkata,"Se, selamat ya, Heinry?"


Heinry tak menjawab, sungguh dia ingin Amy lebih peka lagi. Tapi, dia juga terlalu memaksakan diri tadi.


"Terimakasih!" Ucap Heinry sinis.


Hah?


Amy benar-benar tidak menyangka, kenapa Heinry jadi mirip dengan Jeje saat ngambek?


"Jadi, kau ingin aku bagaimana? Mau ku panggilkan Ibu mu? Atau, Ayah mu?" Tanya Amy yang sedang kacau otaknya tidak tahu harus melakukan apa, dan mengatakan apa.


Heinry membuang nafasnya,"Kenapa kau mau panggil mereka? Kenapa tidak kau saja yang disini?"


Matamu! Aku malas melihat tingkah mu yang persis seperti Jeje! Sungguh, kau terlalu tua kalau ingin bertingkah seperti anakku!


"Pokoknya, kau adalah orang yang wajib menemaniku di sini." Ucap Heinry.


Amy mendengus kesal, terus, dia mau tidur dimana? Sofa? Ugh! Tidak mau! Tapi, tidak mungkin tidur di brankar yang sama dengan Heinry kan? Cih! Walaupun memang ada yang seperti itu, tentu saja adanya hanya di drama, novel, dan komik dewasa.


"Anu, aku tiba-tiba saja merasa lapar. Bagaimana kalau aku pergi sebentar untuk makan?" Tanya Amy.


Heinry menatap Amy dengan tatapan kesal.


"Aku bahkan sudah hampir mati karena kelaparan!"