
Amy menyeka air matanya yang jatuh, sejak tadi dia sudah mencoba untuk mengompres Jeje yang suhu tubuhnya benar-benar panas sekali. Dia sudah menghubungi rumah sakit dan mendaftarkan diri untuk mendapatkan antrian, dan sembari menunggu dia hanya bisa melakukan apa yang dia bisa agar anaknya baik-baik saja. Begini lah hal yang agak menyulitkan bagi Amy, setiap anaknya sakit tidak bisa langsung pergi ke rumah sakit dan mendapatkan pelayanan. Tapi mau bagaimana lagi? Rumah sakit di sana terbilang rumah sakit yang benar-benar mengutamakan keselamatan sehingga tidak adak menangani dan memerlukan pemeriksaan lengkap dan masalah utamanya adalah antrian yang harus di patuhi.
"Ibu......."
Amy kembali menyeka air matanya, kedua tangan juga tubuhnya benar-benar gemetar hebat melihat bagaimana kondisi Jeje yang cukup mengkhawatirkan. Tentu saja sebelumya Jeje pernah demam dan panas tubuhnya, hanya saja tidak pernah sampai empat puluh derajat, tapi kali ini sedikit lagi sampai ke empat puluh.
"Sayang, tolong bersabar ya? Sebentar lagi kita akan jalan ke rumah sakit. Dokter akan segera memeriksa dan kita bisa mendapatkan obat ya?"
Jeje tak menanggapi ucapan Ibunya, dia benar-benar terlihat pucat dan seluruh tubuhnya banyak sekali mengeluarkan keringat tapi juga tak membuat suhu tubuhnya menurun.
Setelah melihat jam, juga melihat pesan yang masuk dari rumah sakit yang menyatakan kalau Amy sudah harus bersiap, sekitar tiga puluh menit kemudian gilirannya tiba. Setelah dua yang dibutuhkan siap, Amy meraih tubuh Jeje, menggendongnya dan menuju taksi yah sudah dia pesan untuk menuju ke rumah sakit.
Begitulah Amy, dia benar-benar bukan wanita anggun dan idaman para pria, dia juga tidak memiliki wajah yang sangat cantik untuk di banggakan. Tapi, sosok Ibu di dalam dirinya benar-benar sangat kuat, dia selalu berada di garda terdepan untuk putrinya, selalu sehat baik fisik dan mental untuk putrinya, dia juga tidak pernah mengeluhkan apapun yang berhubungan dengan putrinya. Dia adalah sosok Ibu yang sempurna di mata Jeje, dia adalah pemeran untuk sosok Ayah dan Ibu bagi Jeje. Tapi, Jeje yang memiliki pemikiran dewasa itu merasa begitu kasihan melihat Ibunya baris bekerja, mengurus sekolahnya, mengutus segala sesuatu tegangnya, bahkan tersenyum lebar di hadapan Jeje saat Ibunya mencoba untuk memasak dan jarinya berdarah karena tekena pisau. Sejak saat itu Jeje terus berpikir, dan menggunakan cara merengek untuk memiliki Ayah tidak perduli itu Ayah kandung atau bukan. Jeje ingin Ibunya tidak kelelahan, Jeje ingin Ibunya memiliki pasangan seperti Ibu dari teman-temannya di sekolah. Tentu saja dia tidak mendapatkan perundungan karena tidak memilki Ayah, di negara dia tinggal tidak ada orang begitu julid, juga jarang ada orang yang ma mengurusi masalah orang lain, toh mereka memiliki masalah sendiri yang jauh lebih penting untuk mereka urus kan?
Begitu sampai di rumah sakit, Amy dan Jeje menunggu sekitar sepuluh menit, dan langsung mendapatkan pemeriksaan. Cukup lama Dokter memeriksa dengan teliti, bahkan sampai cek darah dan sebagainya. Dugaan sementara adalah karena virus robela, dan untuk dua hari ini Jeje akan tetap tinggal di rumah sakit untuk perawatan intensif.
Selang infus sudah terpasang, Amy kini hanya bisa duduk menggenggam tangan putrinya, menatap dengan tatapan sedih. Sekarang dia benar-benar merasa sangat takut, dia juga teringat benar bagaimana Jeje meminta Ayah untuknya. Haruskan dia mencarikan Ayah untuk Jeje? Aduh! Gali bagiamana kalau dia salah menilai orang dan ternyata pria itu memiliki dua wajah? Di depan Amy baik, di belakang Amy memiliki niat jahat, dan tidak menyayangi Amy. Lalu, bagaimana jika pria itu adalah seorang pedofil?
Amy menghela nafas, tapi dia juga tidak mungkin mengindari putrinya yang selalu merengek meminta Ayah kan? Sungguh ini benar-benar dilema sekali, dan mulai dari sekarang dia juga harus mulai menyeleksi pria yang akan dia jadikan Ayah untuk Jeje.
Ini adalah masalah utamanya Amy, dia terlalu percaya diri untuk menyeleksi pria, padahal juga belum ada pria yang benar-benar seperti memiliki minat untuk mendekatinya secara serius.
"Jeje, Ibu janji kali ini. Ibu akan melakukan apa yang kau inginkan, tapi sepertinya butuh waktu yang lama untuk Ibu benar-benar mempercayai pria sampai harus memiliki hubungan khusus. Jadi, kalau nanti Ibu dekat dengan pria, tolonglah jangan berharap terlalu banyak ya? Ibu memiliki keyakinan tersendiri, Ibu memilki alasan yang begitu banyak untuk tidak memberikan mu Ayah, dan tempat bagi pria di hati Ibu. Tapi Ini janji, kali ini Ibu akan berusaha sebaik mungkin.
Amy menganggukkan kepalanya penuh keyakinan. Dia pikir pria tampan pasti akan banyak tingkahnya bukan? Adanya yang memanfaatkan wajahnya untuk memilki banyak wanita. Lalu pria kaya, mereka hanya akan menghambur kan uang untuk membeli lubang perempuan dan berganti sesuka hati layaknya berganti pakaian. Maka yang harus di lakukan Amy sekarang adalah, mencari pria yang wajahnya di basah rata-rata, miskin, dan anak rumahan sekali, dan yang paling utama adalah, pria itu harus bodoh, karena kalau pria itu pintar, sudah jelas dia tidak akan mau menjalin hubungan dengan Amy kan?
"Ya! Ibu sudah mendapatkan tipe pria yang cocok untuk Ibu sekarang, setelah kau sembuh Ibu akan menemukan pria itu, jadi cepatlah sembuh ya sayang?"
"Hathcih!" Heinry menggosok hidungnya karena sejak pagi tadi dia mendapati dirinya flu cukup berat sehingga mengganggu sekali pekerjaannya hari ini.
"Heinry, siang nanti ada meeting di luar bersama Ajama Group, aku sudah menyiapkan semua yang di butuhkan, dan aku hanya sedang mengingatkan saja." Ucap Jhon yang belum lama ini masuk ke dalam ruangan, dan tentunya dia juga sudah mengetuk pintu terlebih dulu.
Heinry mengangguk saja, dia benar-benar terlihat tidak baik dan agak pucat sehingga mau tidak mau Jhon harus bertanya kan? Yah, kalaupun dia memang tidak begitu perduli, setidaknya cuma bertanya saja sudah termasuk perhatian kan?
"Apa kau baik-baik saja? Kau terlihat pucat, apa kau butuh obat?" Tolong katakan tidak, tunjukan diri mu yang ogah ogahan menerima bantuan orang lain, aku mohon! Batin Jhon di dalam hati, namun dia membatin dengan mimik wajahnya yang terlihat khawatir.
"Mata mu tidak mengalami gangguan tentu saja bisa melihat kalau aku sedang tidak enak badan. Kau bisa memijat?"
Jhon tersenyum namun di dalam hati dia benar-benar mengumpat kesal.
"Tentu saja tidak bisa." Jhon kembali tersenyum.
"Baguslah, pijat kepala ku sekarang!"
Hah?
Jhon menatap Heinry dengan tatapan kesal.
"Aku sudah bilang kalau aku tidak bisa kan?" Ujar Jhon.
"Tentu saja aku dengar, cepat pijat kepalaku!"
Bersambung.