One Night Special

One Night Special
Amy Maha Benar!



Wanita itu melihat ke arah Heinry menunjuk dan tersenyum, "Anda termasuk orang yang tidak membedakan status ya? Anda sampai meminta pembantu rumah tangga anda dan menunggunya seperti ini, anda pasti adalah orang yang baik!"


Hah?


Bajingan!


Amy menggigit bibir bawahnya, sungguh dia kesal sekali!


Kenapa? Kenapa lagi-lagi orang yang mendekati Heinry selalu saja minta untuk ditendang sampai ke Uranus?


Amy meletakkan baju yang sejak tadi dia pegang, menatap wanita itu dengan tatapan kesal lalu segera berjalan kearahnya.


"Matamu tertutup bulu mata palsu ya sampai menganggapku pembantu rumah tangga? Dari pada menilai penampilanku seperti itu, bagaimana kalau kau lihat wajahmu yang seperti topeng monyet!"


Wanita itu mengkerut takut, dia mencoba untuk berlindung di belakang tubuh Heinry tapi secepat itu pula Amy menyingkirkan Heinry dan mereka kembali berhadapan muka.


"Kau mungkin mengira aku mudah ditindas sampai tidak menjaga volume bicaramu, tapi kau sungguh salah!," Kesal Amy.


"Bagian dada mu yang jelas sudah melorot, besarnya juga tidak sama! kulit tubuh dan wajah yang berbeda warna, rambut yang ditambah rambut palsu, bulu mata palsu, lipstik tebal, bokong mu yang menggunakan tambalan agar terlihat montok, gigimu yang masih tertinggal sisa cabai, kau pikir kau lebih baik dari pada aku?!"


Wanita itu menelan salivanya, sungguh dia merasa sangat malu karena semua orang kini minat merahnya seolah mereka ikut mengejek seperti yang di katakan oleh Amy.


"Ma maaf, aku tidak berniat bicara seperti itu kok. Aku hanya ingin memuji Tuan itu, aku salah bicara jadi tolong maafkan aku," Pintanya dengan mimik yang masih saja terlihat takut.


Cih!


Amy membuang nafas sebalnya, sungguh sangat aneh karena ternyata wanita yang sebelumnya sok jago, sok hebat dan sok memiliki kelebihan justru akan seperi kucing rumahan yang tengah bergidik ketakutan.


Sudahlah, bagaimanapun menindas yang lemah bukanlah hobinya!


"Kedepannya jagalah bicara mu, jangan suka menggolongkan wanita cantik dan jelek menurut seleramu dan berkoar sembarangan. Dimata mu mungkin aku tidak menarik, dan kau yang paling sempurna tapi, bisa saja di mata orang lain kau menjijikan dan tidak pantas untuk di lihat. Sungguh, jika semua orang penduduk negeri mematok standard kecantikan seperti caramu, maka semua wanita akan berlomba-lomba menjadi palsu!" Ucap Amy membuat wanita itu menunduk kelu.


Amy benar-benar ingat benar bagaimana dia dan Edith mendapatkan perundungan dari teman sekolah mereka karena Edit dan Amy tidak tahu bagaimana caranya mempercantik diri, juga tidak memperdulikan sama sekali pakaian mereka yang selalu saja seepri penampilan pria. Hanya karena mulai kuliah Amy sedikit memperbaiki penampilan untuk memenuhi standard itu, tapi yang dia rasakan justru rasa tidak nyaman.


Begitu dia pindah keluar negeri, Any benar-benar kembali menjadi seperti Amy yang sesungguhnya. Tidak ada lagi kulit putih bersih yang menjadi prioritas, tidak ada lagi make-up berlebihan, tidak ada lagi yang palsu palsu pada tubuh.


Amy benar-benar bebas kemanapun tanpa riasan wajah, tidak ada yang mengomentari cara dia menggunakan pakaian, tidak ada yang mengomentari bagaimana bisa dia memiliki anak tanpa suami, tidak ada yang merundungnya lagi, bahkan beberapa rekan kerjanya juga terang-terangan mencoba untuk mendekatinya.


Heinry tersenyum tipis, mungkin beginilah yang membuat dia tertarik dengan Amy. Entah bagaimana perasaannya dulu sebelum hilang ingatan, sepertinya Heinry cukup yakin kalau dia juga memiliki rasa tertarik dengan Amy karena kepribadian yang kuat seolah dia tidak akan tumbang di rejang ombak. Tapi Heinry seperti melihat luka yang begitu dalam sedang di sembunyikan Amy dengan sangat baik dan rapih.


Beberapa saat kemudian.


"Aku sudah sangat lelah, jadi biarkan aku pulang dan aku harus tidur sesegera mungkin," Ujar Amy yang hanya mendapat helaan nafas dari Heinry.


"Jangan menghela nafas begitu, aku juga sibuk di rumah tahu tidak?!" Kesal Amy.


Heinry berdecih tak percaya, sibuk?


"Jhon mengatakan kalau pagi kau sibuk mengomel, agak siangnya kau sibuk merangkai mimpi, siang harinya kau sibuk menyiapkan makan siang, menjelang sore kau sibuk bermain ponsel, sore harinya kau sibuk dengan-"


"Diam! Apapun yang aku lakukan intinya aku sibuk!" Ucap Amy kesal.


Heinry langsung menutup mulutnya rapat-rapat, baiklah apapun yang di lakukan Amy itu namanya adalah kesibukan!


Di sisi lain.


"Saya berniat untuk mengajak Nyonya berbesanan, bagaimana?"


Ibunya Heinry terdiam tak tahu harus mengatakan apa, wanita di hadapannya adalah orang yang dekat dengannya, dia juga sepupu dari Ayahnya Heinry. Tentu saja dia masih ingin Amy saja yang menjadi menantunya, toh dia juga sudah memiliki cucu jadi tidak ada yang mau dia cari lagi.


"Putri ku Felice adalah gadis modern tapi dia kuno dalam pergaulan. Dia hanya menghabiskan waktunya untuk membaca buku, dan sekarang dia sudah bekerja sebagai pengacara di firma hukum yang terkenal. Mengenai usaha suami kita, tentu saja kita bisa saling bekerja sama dan mendukung satu sama lain kan?" Ucapnya lagi lalu tersenyum manis.


Ibunya Heinry memaksakan senyumnya,"Kalau masalah itu tentu saja saya tidak bisa banyak memberikan pendapat, bagaimanapun yang akan menjalani adalah anak saya jadi lebih baik ikuti saja bagaimana maunya. Saya juga lupa memberi tahu kepada anda bahwa sebenarnya, anak saya sudah memiliki anak dari kekasihnya dulu."


Wanita itu nampak sangat terkejut, padahal dulu kan Ibunya Heinry terus mengeluh karena Heinry tidak mau jika ada wanita yang mendekati dan juga menolak untuk dijodohkan sehingga timbul kekhawatiran kalau saja Heinry itu sebenarnya lagibete, alias kaum LGBT!


"Nyonya serius?" Tanyanya karena masih lah dia tidak percaya.


Ibunya Heinry mengangguk dengan cepat,"Iya!"


"Tapi Nyonya, bagaimana bisa tiba-tiba saja dia punya anak? Apa anda tidak takut kalau mantan kekasih anak anda hanyalah sedang berpura-pura saja? Anda tahu benar bagaimana anak gadis jaman sekarang dalam menjalin hubungan kan? Buatnya dengan siapa, meminta tanggung jawabnya dengan siapa, jangan dulu percaya, Nyonya! Lakukan DNA test saja dulu!" Ucap wanita itu dengan mimik wajahnya yang terlihat begitu serius dan bersemangat.


"Tidak perlu, Nyonya. Saya yakin benar kalau anak itu adalah anaknya Heinry, cucuku tersayang!" Ucap Ibunya Heinry membayangkan wajah Jeje dan entah mengapa dia jadi merindukan anak itu.


"Padahal kemarin dia juga datang kesini, tapi kenapa aku justru sudah merindukan dia lagi?"Gumam Ibunya Heinry membuat wanita itu tak bisa berkata-kata.


Bersambung.