One Night Special

One Night Special
Berbicara Dengan Pantat Babi



"Heinry, mengingat bahwa sebelumnya aku ini adalah orang yang paling baik dan memperdulikan mu, aku juga adalah orang yang paling sering kau jadikan teman curhat, jadi sekarang giliran ku meminta bantuan padamu, boleh kan?"


Heinry menghela nafasnya, dia menjauhkan lembaran dokumen yang sejak tadi di berikan Jhon untuk di tanda tangani oleh Heinry. Tentu saja tidak ada masalah dengan dokumen itu, bagaimanapun Jhon memang bekerja dengan sangat baik dan juga royalitas dalam bekerja. Hanya satu kekurangan seorang Jhon yaitu, terlalu banyak bicara dan terus saja merengek seperti gadis anak kecil yang meminta permen.


"Bicaramu panjang lebar, menyanjungku, tapi pada akhirnya kau mencoba untuk terus mengingatkan bahwa aku banyak berhutang padamu dan mengungkit hubungan baik kita, dan inilah tujuan mu yang sebenarnya? Kau pegang meminta bantuan?"


Jhon mengangguk dengan senyumnya yang begitu lebar dan percaya diri. Yah, memang dia harus seperti itu supaya Heinry tidak memiliki kesempatan untuk menolak permintaan tolong darinya kan?


"Mengemis di balik kalimat yang memaksa, sungguh aku benar-benar tidak habis pikir dengan orang sepertimu."


Sialan!


Jhon memaksakan senyumnya, yah dia memang hanya bisa bersabar saja menghadapi di Tuan Presdirnya yang sedang hilang ingatan seperti komik presdir amnesia begitu lah. Sekarang masalahnya dia harus segera menekan Amy karena nenek dari pihak Ayahnya Amy sudah beberapa kali terus menanyakan keberadaan Amy yang tidak ada satupun mengetahuinya. Jhon benar-benar tidak bisa melangkah lebih jauh mengingat dia juga belum bisa menghasilkan banyak uang, di tambah koneksinya di dunia bisnis juga tidak luas mengingat dulu dia hanyalah seorang asisten sekretaris saja, bahkan sekarang juga sama hanya berganti bos saja. Neneknya berharap bisa bertemu dengan Amy, berkumpul anak cucu sebelum dia meninggal jadi Jhon benar-benar ingin mewujudkan harapan terakhir orang yang sudah membesarkannya.


"Kalau kau tidak tahu malu, katakan saja aku ingin bangun seperti apa?" Ucap Heinry yang membuat Jhon seperti ingin meninju kepala Heinry sampai ke ujung dunia, melemparkan tubuhnya ke kandung babi dan biarkan saja babi betina memperkosa Heinry nantinya.


Tidak, dia harus tetap tenang. Bagaimana dia sudah mengenal Heinry yang ketus dan tidak punya perasaan saat bicara. Sekarang kenyataannya dia sedang membutuhkan bantuan Heinry, jadi pura-pura saja tidak dengar barisan kalimat yang di ucapkan Heinry pertama kali.


"Begini, Heinry yang baik dan katanya Heinry yang paling tampan. Aku punya satu adik yang keberadaannya sudah tidak di ketahui sejak hampir tujuh tahun ini, aku minta bantuan mu untuk mencarinya."


"Kau punya berapa ratus adik sebenernya? Kenapa adik mu menghilang satu kau sampai tidak tahu? Tujuh tahun itu, apa kau tenggelam di kubangan dan asik bermain?"


Ugh!


Jhon benar-benar hanya bisa nyengir saja sembari mengeraskan rahangnya. Adik dan kakak tiri, sepertinya Jhon sendiri juga tidak tahu persis berapa jumlahnya. Dia dan Amy benar-benar sama nasibnya, dia di asuh oleh nenek dari Ayahnya, sementara Amy di asuh oleh nenek dari Ibunya. Kakaknya juga ada yang tinggal dengan bibi, juga ada yang di angka menjadi anak tetangganya. Ah, ya Tuhan! Susunan keluarga yang seperti itu siapa yang akan dengan bodohnya berani mengakui? Apalagi belum lama ini Jhon mendengar kabar bahwa Ayahnya kembali bercerai, dan juga menikah lagi dengan wanita yang usianya lebih tua dari pada Ayahnya. Ya sudahlah..... Jhon berharap dia tidak memiliki nasib seperti Ayahnya, juga berharap kalau pada akhirnya kekacauan keluarga dapat di hentikan sebelum menjadi lebih kacau lagi.


"Siapa nama adikmu?" Tanya Heinry seraya kembali merah lembaran dokumen di mejanya.


"Gozeline Amy, sekarang usianya sekitar dua puluh enam atau dua puluh tujuh."


"Kirimkan photonya padaku!"


"Oke!"


"Sepertinya dia orang yang cukup menyebalkan seperti mu." Ujar Heinry membuat Jhon kembali menyabarkan dirinya, berdoa saja semoga Tuhan senang tiada merahmatinya dengan tumpukan kesabaran yang tidak ada habisnya.


"Tapi dia adalah gadis yang kompeten, yah meskipun dia juga tidak pernah mendapatkan nilai yang bagus. Untungnya sih juga tidak pernah tinggal kelas."


Heinry meletakkan ponselnya, menatap Jhon dengan tatapan aneh kalau membuang nafas begitu saja.


"Sepertinya dia juga adalah adik mu yang kau bilang selalu menganggu ku meminta untuk di hamili itu?"


Jhon dengan cepat mengangguk, tentu saja karena memang itulah kenyataannya. Mau bagaimanapun membela Amy, kesan Amy memang sudah buruk di mata Heinry kan?


"Cih! Benar-benar tidak ada bedanya dengan mu. Jika nanti kau bisa menemukan dia, lebih baik kau beri dia nasehat agar tidak melepaskan kontrolnya. Bagaimanapun wanita akan di hargai kalau tidak melakukan sikap memalukan seperti itu. Benar-benar sangat mengherankan, bagaimana bisa gadis muda meminta di hamili oleh ku? Aku benar-benar yakin kalau saat itu aku pasti sangat tertekan dan ingin gantung diri rasanya. Aku rasa dia harus bekerja keras sekali untuk mendapatkan pernikahan, pria pasti akan merasa takut untuk menikahinya kan? Yah, mari doakan saja adik mu aga cepat taubat, dan doakan juga calon suaminya nanti tidak gila dan bisa bertahan hidup lebih lama karena memiliki istri yang gila seperti itu."


Jhon masih terus tersenyum, tapi di dalam hatinya benar-benar memaki Heinry dengan apa yang dia pikirkan terutama isi dari pada kebun binatang.


Kalau membenci sikap Amy, tolong bencilah saja dia, jangan menyamakan dengan ku! Amy memang gila karena selau meminta untuk di hamili oleh mu! Tapi aku kan tidak pernah mengejar wanita hanya untuk ku hamili kan? Jadi di mana letak samanya?! Begitulah yang di ucapkan Jhon di dalam hati.


"Sudah aku minta orang untuk mencari dia, tapi kau harus memastikan benar kalau dia tidak boleh mendekati ku apalagi minta di hamili. Ingat, pastikan jarak di antara kita minimal sepuluh meter jadi aku bisa merasa tenang dia tidak akan dengan bar-bar memegang anu ku."


Cih!


Jhon mengangguk saja padahal yang ingin dia lakukan adalah menendang bokong Heinry sampai ke angkasa, bila perlu sampai menebus galaksi Bima sakti!


"Tenang saja, kalau dia kembali nanti, aku akan memastikan kalian tidak akan berada di jarak yang dekat. Tapi, bagaimana kalau malah kau yang mendekati adik ku?" Tanya Jhon, tentu saja dia harus memikirkan segala resikonya meski tidak mungkin sekali pun.


Heinry terlihat kesal, dia juga menatap Jhon dengan tatapan dingin.


"Siluman, jelmaan betina, ratu iblis seperti itu apa kau pikir aku memiliki minat? Aku lebih baik berbicara dengan pantat babi dari pada dengan adik mu."


Bersambung.